Tuntunan Samadhi 1

PRAKATA

Karena saran dan masukan dari beberapa rekan, maka blog ini yang sedianya akan saya isi dengan artikel berbahasa Jawa akhirnya saya urungkan niat  tersebut dan akan saya tulis artikel-artikel dalam bahasa Indonesia, meski kadang akan saya selipkan bahasa-bahasa Jawa yang mana bahasa-bahasa Jawa tersebut memang kurang bisa dijelaskan dalam bahasa Indonesia.

Awalnya saya sempat kebingungan dalam menyusun artikel tentang ‘Tuntunan Samadhi’ ini, karena dari awal, ketika saya duduk di bangku SMP, bapak, pak dhe maupun eyang saya mengajarkannya dengan cara langsung praktek, tanpa teori, sehingga ketika sekarang saya harus membuat teorinya saya jadi kebingungan dalam hal pemilihan kata ataupun kalimat yang tepat.

Akhirnya saya teringat akan sebuah buku lawas milik kakak misan saya, kalau tidak salah ingat buku tersebut adalah karangan dari Ki Wirjaatmadja terbitan “PT. CITRA JAYA MURTI” Surabaya sekitar tahun 1950-an. Buku tersebut ikut menginspirasi saya dalam penulisan artikel ini, hanya sayangnya buku tersebut kini berada di Semarang, jadi saya hanya memetik beberapa hal yang saya ingat.

 

PENDAHULUAN

Dalam tubuh manusia ada 3 alam, namun manusia sendiri tdk menyadari akan keberadaan alam tersebut. Sama seperti raga ini, manusiapun tidak merasa bahwa kita memliki raga ini. Paling kita merasa mempunyainya pd saat tangan/kaki atau lainnya di gigit nyamuk, semut kena cubit, dll.

Ke tiga alam tsb adalah :

  1. Alam guru loka~teleng e di otak
  2. Alam Indra loka~teleng e di hati
  3. Alam jana loka~teleng e di kelamin.

 

Bagaimana manusia dpt ndunungi ke 3 alam tsb ?

Hal ini tidak terlepas karena adanya ‘pun gati’. Saat manusia tengah berpikir, ‘pun gati’ tengah berada di guru loka, saat manusia merasa sedih, senang dll, ‘pun gati’ berada di indra loka. Ketika kita beraktifitas fisik, ‘pun gati berada di jana loka.

Untuk lebih mudahnya, kita ibaratkan sebuah kereta api. Pada kereta api, ada gerbong kepala, gerbong penumpang dan gerbong barang. Sang kondektur, waktu memeriksa karcis para penumpang, dia sedang berada di gerbong penumpang. Demikian juga ketika sang kondektur memeriksa gerbong kepala, dia jg tengah berada di gerbong kepala dan selanjutnya. Namun sang kondektur tidaklah keluar/pergi meninggalkan kereta tersebut untuk mengecek masing-masing gerbong. Dia msh di dlm kereta, hny tengah berada di gerbong tertentu. Dan saat berada di satu gerbong, sang kondektur juga bisa mengamati gerbong secara keseluruhan dr tempat mana dia berdiri.

Intinya, sang kondektur tdk pernah meninggalkan keretanya utk memeriksa masing2 gerbong.

 

MAKARTI MENGGUNAKAN BADAN PIKIR

Makarti menggunakan badan pikir itu dalam bahasa Jawa ada beberapa macam, seperti ; Mikir, nggagas, manah, nyuraos, nyipta, ngeling-eling, dan lain sebagainya. Hanya dalam bahasa Indonesia, hal-hal tersebut memang kurang di tegaskan (diuraikan), paling hanya sekedar ; berpikir, mengingat-ingat, mencipta. Oleh karenanya di sini perlu saya sebutkan macam dari badan pikir itu dalam bahasa Jawa.

Uraiannya adalah sebagai berikut :

1. Mikir

Mikir, dalam bahasa Jawa, itu dilakukan ketika kita tengah ; menghitung sesuatu, seperti ; menjumlah, mengurang, membagi dan mengalikan bilangan itu kita harus berpikir.

Bagaimana cara menggapai tujuan dan cita-cita, kita juga harus berpikir. Intinya, di dalam menjalani hidup ini kita selalu berpikir, mulai dari bangun tidur hingga kembali mau tidur, kita tidak pernah berhenti berpikir, kecuali suatu hal yang sudah menjadi suatu kebiasaan, kita memang tidak pernah berpikir.

2. Nggagas

Nggagas ini sebenarnya juga mirip dengan mikir, hanya saja yang namanya menghitung seperti menambah, membagi, mengurangi, mengalikan itu bukan termasuk nggagas.

“Gaji sekian, untuk menghidupi orang sekian banyak kok bisa cukup, ya ?!

Ini harus di gagas, jika sudah ketemu jawabannya. Kita lalu berbicara di dalam hati, “Nek tak gagas, Tuhan itu adil, ya, kalau membagi rejeki …”

 

3. Manah (Nggalih)

Orang yang baru bermain catur, halma, main kartu dan lain sebagainya, tentunya akan berpikir bagaimana supaya bisa menang. Selama kita terpaku dalam permainan itu, kita sampai-sampai jarang berbicara dengan orang sekeliling kita. Kenapa ? Karena kita tengah nglimbang-nglimbang, ngonceki, bagaimana caranya supaya kita bisa menang.

Pada saat itu, jika pikiran kita nggrambyang, tidak wening, tidak konsentrasi, tentu akan gampang kalah, apalagi jika dalam bermain itu kita merasakan suatu perasaan yang tidak enak, muka terasa panas, khawatir, tidak semeleh dan lain sebagainya, ya jangan berharap kita akan menang.

Nah, contohnya orang yang tengah manah (nggalih) itu ya seperti orang yang tengah main itu tadi.

 

4. Ngeling-eling

Ngeling-eling (mengingat-ingat) itu berbeda juga dengan ke tiga hal di atas. Mengingat-ingat itu adalah mencari sesuatu yang terlupa, yang tadinya memang sudah tersimpan di cipta kita.

“Coba, pikirkanlah, di mana dahulu kamu bertemu dengan orang ini … !”

Kalimat tersebut kurang pas, yang tepat adalah coba, eling-eling a

 

5. Nyipta

Nyipta itu adalah membuat wujud didalam pikiran kita dengan bahan baku yang belum ada (kalaupun ada, bahan tersebut tidak berada di alam nyata).  Cipta itu mempunyai daya. Gambar/pemandangan yang indah menimbulkan perasaan senang di batin kita, sebaliknya, gambar yang tidak baik akan menimbulkan perasaan yang tidak enak di dalam batin kita.

Oleh karenanya, jaman dahulu jika seorang wanita tengah hamil, di sarankan oleh orang tua orang tua jaman dahulu untuk selalu menatap cengkir gading yang ada gambar Bethara Kamajaya dan Dewi Ratih, agar terpatri di cipta si biyung gambaran-gambaran yang indah-indah, dengan harapan kelak jika jabang bayi terlahir di dunia akan memiliki paras yang indah dan perasaan serta jiwa yang bagus, karena dayaning cipta si biyung ini pasti tumama ke dalam benih si jabang bayi tersebut. Jangankan benih yang sudah terbuahi, benih yang belum dibuahipun sudah ketaman dayaning cipta si biyung …

 

PUJA SAMADHI

Manungku Puja (Muja Samadhi) itu bagaikan orang konsentrasi, menyatukan daya pikir dan cipta kita hanya untuk muja. Pada saat kita melakukan Puja Samadhi ini kita harus mantheng temenanan, tidak boleh menoleh kiri kanan. Jadi benar-benar hanya untuk muja.

Muja inipun juga hampir sama dengan nyipta, yaitu membuat sesuatu dengan bahan yang sudah ada dengan kekuatan cipta kita.

Pertanyaannya, apakah bisa ?

Bisa. Dan di situlah kegunaan dari Puja Samadhi. Para mpu jaman dahulu dalam membuat keris pusaka juga melakukan Puja Samadhi. Semakin tinggi alam samadhi sang empu, maka semakin bagus keris buatannya, karena sang empu berkemampuan ‘membawa’ bahan dari alam yang dicapainya tersebut untuk kesempurnaan proses pembuatan keris pusaka tadi.

Konon, Semar pun juga tidak mempunyai putra. Petruk, Gareng dan Bagong itu bukan anak yang terlahir dari rahim seorang ibu, namun adalah hasil dari pujan

 

MANEKUNG

Manekung adalah suatu proses dimana nalar dan rasa makarti secara bersamaan. Untuk lebih jelasnya, mungkin bisa saya gambarkan seperti orang yang tengah menyaksikan pertunjukan wayang kulit ;

Saat kita menyaksikan pertunjukan wayang kulit, saking senengnya sampai-sampai kita lupa bahwa wayang yang bergerak kesana kemari dan yang berbicara itu adalah karena ulah sang dalang. Kita begitu terhanyut dengan pertunjukan itu, bahkan kadang kita sampai lupa pula akan keadaan sekeliling kita.

Di situ kita hanyut dengan perasaan kita. Tenggelam dalam perasaan kita karena alur cerita dari wayang kulit tersebut. Tidak jarang kita juga ikut merasa sedih, senang, gembira, jengkel dan lain sebagainya. Saat itu seringkali nalar kita tidak bekerja, hanya perasaan yang terhanyut karena alur cerita tersebut.

Jika nalar kita ikut makarti, tidak hanya kenyut saja, namun juga nggagas cerita yang tengah berlangsung tersebut seperti ; Benarkah cerita wayang itu dulu benar-benar terjadi ? Benarkah wujud Semar itu seperti itu ? Di manakah letak kerajaan Amarta itu ? dan lain sebagainya, seperti itulah gambaran dari yang dinamakan manekung, yaitu suatu proses di mana nalar dan rasa makarti secara bersamaan …

 

MANEGES, MAHAS ING NGASEPI

Maneges, mahas ing ngasepi itu maksudnya mirengaken swaraning ngasonya (ngasepi). Jelasnya begini ; “Ngasepi” atau “ngasonya” itu artinya : pun sepi, pun nyenyet, anu sing sepi, anu sing nyenyet. Bukan “sepi” nipun, dede “nyenyet” ipun, nanging “anu”-nipun yang sepi. “Anu“-nipun ingkang sepen nyenyet tersebut, oleh karenanya di sebut : ngasepi, ngasonya.

Lalu dimanakah letaknya, papan dunungipun pun sepi, pun nyenyet itu tadi ?

Ngasepi atau ngasonya ini adalah tempat yang jarang di ambah manusia, yaitu telenging samodra, dimana Werkudara bertapa di situ hingga bertemu dengan Dewa Ruci, yang kesit tan-kena ginrayang, tan kena ginatra, tansah nyamun, tan alit tan agung.

Ngasepi atau ngasonya itu adalah mirengaken yang dumunung di telenging batin kita, bagai Werkudara mendengarkan suara Sang Dewa Ruci.

Jika swaraning ngasonya sudah terdengar jelas, Werkudara lantas masuk ke guwa garbane Sang Dewa Ruci …

 

PERSIAPAN SEBELUM MELAKUKAN SAMADHI

Dalam ajaran leluhur saya, sebelum samadhi tidak perlu menyediakan aneka rupa hal yang aneh-aneh, seperti kemenyan, bunga setaman atau apapun.

Yang diperlukan hanyalah niat dan tekad. Yang penting adalah tata, titi, teliti, telaten nganti atul. Jadi dilakukan berulang-ulang tanpa bosan hingga menjadi suatu kebiasaan, hingga menjadi suatu rutinitas yg merupakan kebutuhan, Dan pada saatnya nanti, pasti akan ‘bertemu’.

Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah lima hal di bawah ini, yaitu :

1. Tata.

Cipta kita hrs di tata. Tidak tumpang tindih, tidak semrawut, acak2an. cipta adalah juga hal yg sangat penting, seperti yang telah saya uraikan di atas.

Waktu SMP, saya pernah punya pengalaman samadhi. Ketika itu saya hanya mendengar satu kata secara jelas “WIRID”. Saya jd bingung, apa yg di maksud dengan kata tersebut ? kata tersebut adalah kata pertama yang saya dengar dalam pengalaman saya bersamadhi. Saya bertanya ke sana-sini. Ke setiap org yg saya anggap punya pengalaman meditasi. Tapi semua jawaban itu semakin membingungkan saya.

Akhirnya saat saya sowan ke Subah, ke tempat Eyang R Rahajoe, beliau menjelaskan kepada saya, bahwa yang dimaksud dgn WIRID tsb bukan wirid yang seperti dalam ajaran agama tertentu. Tapi yang dimaksud dengan wirid itu adalah urut, runtut, tidak semrawut. Itulah kenapa bahwa cipta kita harus di tata. Bahkan dlm memohon sesuatu pun hrs urut. Bukannya pagi samadhi memohon A, B, C … lalu siangnya ganti C, A, B dlsb.

2. Resik.

Rasa kita haruslah resik, bersih. Terbebas dari rasa apapun. Rasa takut, benci, susah, senang, was, sumelang, gemagah, nduweni penganggep, pengarep-arep dlsb. Jadi harus benar2 bersih dan suci. Ora kagetan, ora gumunan lsp.

3. Lugu.

Yg dimaksud lugu disini adalah bak bayi yg tdk punya perasaan takut sumelang dlsb. Bayi jg tdk pernah berprasangka buruk terhadap apapun. Bersih. Letakkan dahulu segala pemahaman yang kita punya tentang ketuhanan, lepaskan semua anggapan yang kita miliki. Lepaskan dulu segala ego. Jd benar2 bersih, lugu.

4. Merdhika.

Merdhika maksudnya bebas. Bebas dari segala yang membelenggu. Bebas dari panca indra. Selama kemanusiaan kita masih mengikat/membelenggu, maka yang di dalam juga tidak akan kita temui. Semakin kita ngungkungi keterikatan tsb, kita akan semakin ‘kehilangan’, sebaliknya, semakin kita bisa memerdhekakan, kita akan ‘menemukan’.

Bebas jg dr segala pikiran atau perasaan apapun. Rasa, cipta dan karsanya hny tertuju ke satu. DIA.

Krungu ning ora ngrungoake, weruh ning ora nyawang, ngganda ning ora diambu, krasa ning ora di rasaake dlsb. Jd merdhika, bebas dari segala panca indra.

5. Meneng.

Jika point 1-4 sudah, tidak adalagi yang perlu kita lakukan. Tinggal satu ini, yaitu meneng.

 

PROSES PADA SAAT SAMADHI

Setelah kita melakukan persiapan2 diatas, kita tinggal ‘meneng’. Ada banyak rapal2 yg saya punya dari pemberian leluhur saya, namun semenjak saya bertemu dengan KRMH Toeloes H Koesoemaboedaja/KRMH Soerjabrata dan R Rahajoe Dirdjasoebrata, saya sudah tidak pernah mempergunakannya lagi hg sekarang.

Mnrt beliau, yg terbaik adlh tanpa rapal dan tanpa meminta, namun memasrahkan segalanya kpd DIA. Jd kurang lebih kalau dalam bahasa Jawa begini : “Bapa biyung ingkang ngukir jiwa raga kula, kula ngaturaken sembah pangabekti saha nyuwun gunging pangapunten kaliyan nywn pangestu. Jagad bumi alam kabeh, kutu2 walang ataga lan sagung tumitah kang dumadi, apuranen  sakabehing luputku lan reksanen uripku. Dhuh Gusti ingkang Murbeng Gesang saha Ingkang Murbeng sih, kula ngaturaken sedaya pejah, gesang, jiwa, raga, nyawa, suksma lan sedaya tanggel jawab kula mugi konjuk wontening Ngarsa Paduka. Sumangga …” Terus meneng cep. Jd tdk minta atau memohon apapun. Hanya memasrahkan segalanya kpd yg Maha Memiliki.

Sesudah itu, entah dengan rapal atau tidak, terserah yang menjalani, mata melihat ke pucuking grana. Yg dinamakan pucuking grana itu adalah diantara dua alis, bukannya ujung hidung yg di antara dua cuping hidung. Cukup memandang itu dgn rambatan keluar masuknya nafas, merasakan keluar masuknya nafas dari hidung ke paru2. Jd bukan mengkonsentrasikan segalanya ke dada atau mengkonsentrasikan ke pikiran. Bukan. Juga bukan dengan mengosongkan pikiran.

Sesudah mandeng pucuking grana dan rambatan tali nafas, Lama kelamaan akan terjadi semacam rebat deg. Rebutan kekuasaan antara pikiran dan perasaan. Kadang di pikiran, kadang di perasaan. Jangan memilih dan memilah. Biarkan hal itu terjadi, dan mata tetap mandeng pucuking grana sambil rambatan keluar masuknya nafas.

Semakin lama akan terasa semakin luyut, seperti mengantuk, tapi jangan sampai tertidur, karena begitu kita tertidur, gumun, kaget dlsb, ‘acara kita batal’ sudah. Kita mengulangi lagi dari awal.

Setelah sekian lama terjadi rebat deg, semakin luyut, suatu saat kita akan mengalami yang dinamakan ‘liyep layaping aluyup’. Seperti orang mau tertidur, ‘mak liyep’. Tapi sekali lagi tidak boleh sampai tertidur. Pada saat itulah terjadinya ‘sumusuping rasa jati’, seperti yang digambarkan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV dalam Serat Wedatama ;

 

Tan samar pamoring suksma,

Sinuksmaya winahya ing ngasepi,

Sinimpen telenging kalbu,

Pambukaning warana,

Tarlen saking liyep layaping aluyup,

Pindha pesating sumpena,

Sumusuping rasa jati


Jadi proses tersebut diatas, hampir sama dengan cerita pewayangan dalam ‘gara-gara’, dimana petruk, gareng, bagong, saling gegojegan tidak karuwan, saling sembaranan, tapi begitu Semar datang, langsung semua pada diam. Cep, liyep.

Jika sudah sampai di tataran itu, berarti kita sudah memasuki pintu gerbang, saya sarankan jangan berhenti disitu, tetapi lanjutkan terus hingga mencapai tataran yang tertinggi, yaitu anggambuh dengan Hyang Wisesa.