Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Lima ; Point 39 – 40)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Lima ; Point 39 – 40)

15 Oktober 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

 

39. EXPERIENCE AND EXHAUST “PRAARABDHA”, THE FRUITS OF PAST ACTIONS — Alami dan habisilah “Praarabdha”, hasil dari perbuatanmu di masa lalu

 

Suka dan duka, panas dan dingin, ketenangan dan kegelisahan — apa saja yang tengah kita alami saat ini adalah karena tindakan kita di masa lalu. Inilah Praarabdha yang harus kita terima, kita alami, dan kita lewati.

Tidak perlu menyombongkan diri atas keberhasilan kita hari ini. Keberhasilan kita hari ini adalah kerja keras kita kemarin. Tidak perlu juga berkecil hati atas kegagalan yang menimpa diri kita hari ini, karena kita masih bisa berbuat baik untuk memastikan hasil yang lebih baik di masa depan.

Pengalaman suka dan duka, apapun yang sedang kita alami saat ini, sedang berlalu. Saat ini masih ada, sesaat kemudian sudah lewat. Apa yang kita gelisahkan dan khawatirkan ? Apapula yang kita banggakan dan sombongkan ?

Alami dan habisilah praarabdha … berarti, terimalah suka sebagai suka dan duka sebagai duka. Positif sebagai positif, dan negatif sebagai negatif. Bila kita berpikir positif melulu dan menolak negatif, atau dalam keadaan dukapun cengengesan cengar cengir seperti orang tidak waras, kita akan menolak praarabdha. Kita menolak pelajaran yang hendak diberikannya. Kalau demikian, pengalaman itu akan terulang lagi, terulang lagi hingga pada suatu ketika kita memetik pelajaran dari pengalaman itu.

Inilah sebabnya, saya bolak balik mengingatkan untuk berhenti berfikir positif. Dengan memaksakan pikiran positif, kita tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman negatif. Taruhlah pengalaman negatif penuh duka itu tidak membuat kita gelisah karena pikiran positif yang kita paksakan, tapi jangan lupa duka yang kita tolak itu akan kembali menimpa kita, karena kita telah menolak pelajaran yang hendak disampaikannya. Kau tidak naik kelas.

Terimalah praarabdha dengan senyuman, dengan penuh semangat dan keberanian. Tidak perlu cengengesan berlebihan. Dan, tidak perlu cemas.

 

40. THEREAFTER, LIVE ABSORBED IN THE BHAV — “I AM BRAHMAN”! — Setelah itu, hiduplah dalam kesadaran “Akulah Dia”!

 

Thereafter, setelah itu ….. setelah apa ? Setelah mendalami, menghayati, dan mencontohi 39 kebiasaan orang yang tercerahkan …..

Setelah itu, hiduplah dalam Kesadaran Illahi ….. Sesungguhnya, setelah itu Kesadaran Illahi datang sendiri. Persoalannya bukanlah “setelah itu hidup” dalam Kesadaran Illahi, tetapi “mempertahankan” Kesadaran Illahi.

Brahman berarti Tuhan. Brahman juga berarti Ia yang berada di mana-mana, sebab itu Ia juga berada dalam dunia ini. Di dalam diri anda dan di dalam diri saya. Tuhan bagi Shankara dan peradaban yang diwakilinya tidak jauh dari manusia. Ia tidak perlu berada di atas langit, di lapisan langit keberapa dan memerintah dunia ini dari Ketinggian-Nya. Ia berada dalam dunia ini. Ia-lah Keberadaan ini. Ia pula Ketiadaan Abadi. Ia-lah Keramaian dan Keheningan.

Karena itu, orang-orang zaman dulu tidak membedakan agama langit dari agama bumi. Keduanya aadalah agama, dan agama hanyalah jalan menuju Tuhan, menuju pencerahan. Perkara langit-bumi menjadi tidak relevan. Shankara akan menertawakan klaim-klaim isapan jempol seperti itu. Siapa yang menentukan apa yang berasal dari langit dan berasal dari bumi ? Bukankah arogansi manusia pula yang menentukan hal itu ? Apa yang diketahuinya tentang seluruh isi langit dan bumi ?

Bagi Shankara dan pewaris ajarannya, bagi manusia yang tidak membeda-bedakan sesama makhluk berdasarkan ras, agama, kepercayaan, suku, bangsa, bahasa, warna kulit, latar belakang pendidikan, sosial-ekonomi, dan lain sebagainya, Tuhan berada di sini, dan pada saat ini juga kita dapat merasakan Kehadiran-Nya, asal kita mamu membuka diri. Asal kita mau menerima kehadiran-Nya.

 

Kesadaran Rohani:

Awal Perjalanan, Bukan Tujuan

 

Saat masih muda, masih bersemangat,

Aku ingin mengubah dunia.

Aku berjuang dan berdoa:

“Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk mengubah keadaan dunia.”

Namun, aku gagal.

Dunia masih tetap sama.

 

Memasuki usia senja,

Dengan sisa tenaga yang masih kumiliki,

Doaku kuubah sedikit:

“Setidaknya, Rabb, berilah aku kekuatan untuk mengubah mereka yang berada di sekitarku.”

Ah, aku tetap gagal.

Tak seorangpun dapat kuubah.

Sekarang, ketika Malaikat Maut

Sudah di depan mata,

Aku hanya dapat mohon:

“Ya Allah, Ya Rabb, berilah aku kesadaran untuk mengubah diriku !”

 

 

Akhirnya kesadaran datang juga. Datang, tapi terlambat. Karena Malaikat Mautpun sudah di depan pintu. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk mengubah diri ?

Ini yang selalu terjadi. Saat ajal tiba, kita baru sadar. Sayang saat itu kita sudah tidak memiliki waktu. Jatah waktu yang diberikan kepada kita sudah berlalu, berakhir, habis, khatam. Sudah tidak ada waktu untuk menerjemahkan kesadaran itu dalam keseharian hidup, maka kita lahir kembali. Lahir kembali untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Sayangnya, di kelahiran berikutpun kita sering menjadi sibuk dengan urusan dunia. Diri tetap tidak terurusi. Kesadaranpun datang saat ajal tiba, maka kembalilah terjadi pengulangan.

Agama, Kepercayaan, atau apapun sebutannya, adalah jalan menuju Kesadaran Illahi. Agama memang bukan tujuan, tetapi kesadaranpun, bagi Shankara, bukan tujuan. Kesadaran hanyalah langkah awal menuju Hidup Berkesadaran. Kesadaran yang tidak diterjemahkan dalam keseharian hidup menjadi basi, tidak berguna.

Lewat Saadhanaa Panchakam ini, Guru Besar Shankara mengajak kita untuk menerjemahkan kesadaran dalam keseharian hidup. Praktik, laku — itulah arti Sadhana. Bukan praktik biasa, bukan laku biasa, tetapi praktik yang mengantar kita pada Kesadaran. Laku yang berkesadaran. Dalam Panchakam, lima ayat menuju Kesadaran ini, Sang Guru menjelaskan 40 kebiasaan orang-orang yang telah mencapai kesadaran diri atau telah menemukan jati diri. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, ia memberi kita cermin untuk bercermin diri. Adakah kita memiliki keempat puluh kebiasaan itu ? Jika tidak, jika belum, berupayalah !

Saat itu Sang Guru sudah dalam perjalanannya menuju Himalaya (untuk kisah kehidupannya, bacalah du karya lain penulis, Atma Bodha dan Bhaja Govindam —– Ed.). Itu adalah perjalanan terakhir. Ia tahu bahwa tugasnya sudah selesai. Ia tak akan turun kembali dari puncak Himalaya, maka ia merangkum seluruh ajarannya dalam lima ayat ini dan diberikannya kepada belasan murid terdekat yang setia menemaninya setiap saat.

Yang baru saja anda baca ini adalah inti sari ajaran Shankara: intisari falsafah Shankara ….. Suatu falsafah hidup yang tidak kering, berlembab, bahkan cair, sehingga mudah dilakoni dalam keseharian hidup. Dalam lima ayat ini, Shankara memberikan esensi spiritualitas ….. sesuatu yang bersifat sangat universal. Anda tidak perlu meninggalkan akidah agama dan kepercayaan anda untuk melakoni sutra-sutra universal ini.

Ketika membaca sutra-sutra ini untuk pertama kalinya, saya memperoleh Lima Butir Pencerahan. Satu Butir setiap ayat:

  • Kenalilah dirimu
  • Jagalah pergaulanmu
  • Pertahankanlah kesadaranmu
  • Tekun, dan bersemangatlah selalu
  • Berkaryalah sesuai dengan kesadaranmu

 

Sejak saat itu, Lima Butir inilah yang menjadi pegangan saya. Self-knowledge, good company, awareness, discipline, dan action ! Seorang pemalas tidak memahami arti spiritualitas. Bagaimana menjalaninya ? Tidak mungkin, tidak bisa. Karena itu …

 

“Arise, Awake, and Stop Not Until the Goal is Reached !”

 

Bangkitlah, Bangunlah, dan Janganlah Engkau Berhenti Sebelum Tujuanmu Tercapai !

 

Svami Vivekananda

Pujangga Besar India