Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Lima ; Point 36 – 38)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Lima ; Point 36 – 38)

8 Oktober 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

 

36. RECOGNIZE THAT THE FINITE UNIVERSE IS A PROJECTION OF THE SELF — Sadarilah bahwa alam yang serba terbatas ini hanyalah proyeksi dari “Sang Aku”

 

Alam yang serbaterbatas, walau masih tetap berada di luar jangkauan pikiranku, hanyalah proyeksi dari “Sang Aku”., proyeksi dari Ia yang meliputi segalanya. Ia yang berada di luar dan di dalam diri kita. Persis seperti air dan ikan di dalam kolam. Air berada di di luar ikan dan berada pula di dalamnya.

Alam yang terasa maha luas oleh pikiran kita dan tak terjelaskan inipun hanyalah proyeksi dari ”Sang Aku” — sebagaimana diriku yang serbaterbatas, sebagaimana dirimu yang serbaterbatas pula … Kita semua adalah proyeksi dari “Sang Aku” yang sama.

Proyeksi “Sang Aku” tidak menjadi diri “ku” dan diri “mu”. “Ia” juga tidak menjadi alam semesta ini, namun semuanya adalah projection of the Self — Proyeksi dari “Sang Aku”. Persis seperti bulan terproyeksikan dalam wadah berisi air. Bulan juga terproyeksikan, bayangannya terlihat dalam air di kolam, di sungai, di cermin. Proyeksi-proyeksi tanpa batas itu tidak “mengurangi” bulan. Ia tetap utuh, tak terbagi.

Bulan yang terbayang dalam wadah kotor yang berisikan air kotor tidak ikut menjadi kotor. Bulan yang terbayang dalam wadah bersih yang berisikan air bersih tidak menjadi tambah bersih karena proyeksinya itu. Ia tidak berubah warna karena air berwarna di dalam wadah — walau tampak berwarna.

Pikiran penjahat yang suka meneror sesama manusia ibarat air berwarna dalam wadah yang barangkali kotor pula, namun bulan tetaplah “berkenan” untuk terbayang. Barangkali istilah “berkenan” pun tidak tepat, karena hal itu “terjadi”. Proyeksi atau refleksi adalah kejadian, sebuah keniscayaan. Soal lain bila air dalam wadah yang kotor tersebut tidak layak diminum. Ia menjadi tidak berguna bagi sesama manusia, sesama makhluk, bahkan berbahaya bagi kesehatan. Air itu harus dihindari, dibuang jauh-jauh; tidak dikonsumsi. Janganlah terbawa oleh sentimen, “Ah, bulan pernah terbayang dalam air itu.” Sentimen seperti itu tidak pada tempatnya. Bulan terbayang di mana-mana.

Hendaknya kita tidak menjadi pemalas dan pengecut dengan berdalih pada penggalan ayat yang satu ini. Bangkitlah untuk membuang jauh air yang sudah menjadi kotor karena kotornya wadah. Air itu tidak berguna. Bila kita membiarkannya di atas meja makan, seseorang bisa meminumnya dan jatuh sakit.

“Sang Aku” memang terbayang dalam diri para penjahat, para koruptor, para penipu dan para pengkhianat bangsa, tetapi itu tidak berarti kita harus “menerima” mereka. Terimalah “Sang Aku” yang Terbayang itu, tapi tidak perlu menerima wadah dan air yang kotor. Kotoran tetap harus ditolak dengan penuh kesadaran bahwa yang kita tolak adalah kotoran — Bukan “Sang Aku” !

Kita mesti menolak kebodohan dan ketaksadaran yang dapat mengancam kesatuan dan persatuan bangsa tanpa menaruh rasa dendam terhadap orang-orang bodoh yang tidak sadar.

Sadarilah bahwa alam yang serbaterbatas ini hanyalah proyeksi dari “Sang Aku”. Dalam air keruhpun bulan terbayang, tapi air itu tidak layak diminum. Sekali lagi, tidak perlu memusuhi, mencela, menghujat, atau mencaci maki air keruh dan kekeruhan. Sadari bahwa “Sang Aku” tidak ikut menjadi keruh karena air keruh atau wadah yang kotor, namun air keruh dan kekeruhan haruslah dihindari. Itu saja.

 

37. CONQUER THE EFFECTS OF THE DEEDS DONE IN EARLIER LIVES BY THE PRESENT RIGHT ACTION — Atasi pengaruh tindakan-tindakanmu di masa lalu dengan memperbaiki tindakan-tindakanmu di masa kini

 

Silahkan menerjemahkan “masa lalu” secara terbatas atau tidak terbatas, tidak menjadi soal. Bobot penggalan ayat ke lima ini tidak menjadi kurang atau lebih karena terjemahan kita.

Sah-sah saja bila masa lalu diterjemahkan sebatas masa yang telah berlalu dalam hidup ini. Tidak perlu menariknya jauh ke belakang, bila ada yang apriori terhadap Hukum Daur Ulang yang biasa disebut reinkarnasi, dan Hukum Aksi-Reaksi, Sebab-akibat, atau Hukum Karma.

Karma berarti “perbuatan: tindakan, kegiatan, pekerjaan. Ada akibat, ada sebab. Masuk anginpun tidak mungkin tanpa sebab. Apalagi musibah, kecelakaan, dan bencana alam. Semuanya itu hanyalah akibat. Dan, bila kita menderita karenanya, sebabnya sudah pasti kita pula. Hukum Alam yang satu ini tidak memungkinkan kita menderita karena ulah orang lain. Tidak ada kemungkinan untuk itu.

Setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal, demikian menurut hukum fisika. Hukum Fisika atau Hukum Aksi-Reaksi inilah Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Bila kita memahami hukum ini, kita tidak akan menyalahkan Tuhan, orang lain, atau keadaan atas apa yang menimpa diri kita.

Pemahaman tentang hukum ini membuat kita bertanggungjawab penuh atas setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan kita. Kesalahan terjadi karena kita. Kekeliruan adalah kekeliruan kita, maka perbaikan pun dapat kita lakukan sendiri.

Atasi pengaruh tindakan-tindakanmu di masa lalu dengan memperbaiki tindakan-tindakanmu di masa kini. Baiklah, tetapi dengan cara apa ? Bagaimana mengatasinya ?

–       Dengan tidak mengulangi kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan di masa lalu.

–       Dengan belajar dari kegagalan-kegagalan di masa lalu.

–       Dan dengan memperbaiki tindakanku di masa kini, supaya kegagalan yang sama tak terulang di masa depan.

Pemerintahan berdasarkan agama dengan kekuasaan pada seorang atau sekelompok orang yang mengaku sebagai penafsir resmi ajaran agama dan kitab suci tidak pernah berhasil untuk waktu yang panjang. Pengalaman-pengalaman masa lalu sudah di depan mata, dapat di baca oleh siapa saja. Kendati demikian, kita menutup mata. Kita tidak mau belajar dari kegagalan masa lalu, dan masih tetap memaksakan pemerintahan berideologikan agama tertentu.

Bangsa Arab yang dipersatukan oleh agamapun tidak betul-betul satu. Orang Arab di Lebanon, Yordania, dan Kuwait lain dari orang Arab di Saudi. Kebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat mereka beda. Mayoritas Iran dan sebagian Iraq bahkanbukanla orang Arab. Mereka memiliki identitas sendiri. Kita menutup diri terhadap fakta-fakta sejarah itu dan masih terus memperjuangkan kesatuan atas landasan agama.

Sayang sekali, orang-orang kita yang sering bepergian ke tanah suci hanya berkenalan dengan satu sisi kepribadian Arab, sisi Saudi. Bagi mereka Saudi itulah Arab. Dan, paham Wahhabi itulah Agama Islam. Mereka tidak pernah melihat sisi-sisi lain. Mereka tidak pernah berkenalan dengan sisi-sisi lain. Padahal, sisi-sisi lain yang bercerita banyak tentang berbagai hukum alam. Inilah tragedi bangsa kita.

Kendati demikian, tragedi setragis apapun bukanlah harga mati, tidak setragis yang kita bayangkan. Tragedipun masih dapat di ubah menjadi komedi, “Eh, ternyata selama ini mataku tertutup. Ternyata aku tertidur, ternyata aku mimpi ….. Alamak !”

Atasi pengaruh tindakan-tindakanmu di masa lalu dengan memperbaiki tindakan-tindakanmu di masa kini. Ya, dulu kita bangsa yang besar. Selama ribuan tahun kita menguasai perdagangan rempah-rempah. Kemudian agama dijadikan faktor pemecah belah. Nusantara yang satu terbagi-bagi. Dalam seratus tahun lebih sedikit, kekuasaan dan kejayaan selama hampir dua ribu tahun lenyap tanpa bekas. Adakah suatu pelajaran yang kita petik dari kesalahan masa lalu itu ?

Sayang sekali, rupanya kita tidak belajar dari masa lalu kita. Karena itu, kita mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama.

38. THROUGH WISDOM BECOME DETACHED FROM FUTURE (RESULTS OF YOURS) ACTIONS — Dengan kebijakan (Pemahaman yang benar), hendaknya kau membebaskan diri dari akibat-akibat yang masih dapat terjadi di masa depan

 

Tidak semua benih yang ditanam langsung tumbuh, bertunas, dan berbuah. Ada yang membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada yang berbuah setelah beberapa tahun.

Persis seperti itu pula dengan tindakan kita, dengan ucapan dan pikiran kita. Tidak semuanya berbuah langsung.

Sanchita adalah karma-karma dari masa lalu; akumulasi dari masa lalu, yang saat ini baru berbuah. Buahnya disebut praarabdha. Sesuatu yang sudah tidak mungkin dielakkan. Kendati demikian, kita masih memiliki pilihan — yaitu memetik panen dengan mengaduh-aduh atau dengan girang, dengan bersuka cita, dengan menyanyi dan menari. Taruhlah panennya tidak sesuai dengan harapan — tak apa, it is not the end of the world. Saat itu kita masih belum mahir dalam seni cocok tanam. Sekarang, sudah mahir, maka tanaman kita di masa depan sudah pasti lebih baik.

Kebaikan yang kita lakukan hari ini sudah pasti menghasilkan kebaikan pula. Tetapi, jangan lupa masih ada sanchita karma, karma-karma terakumulasi dari masa lalu yang barangkali belum berbuah. Karma-karma tersebut adalah Agami Karma — Karma yang akan datang. Kita tidak dapat mengubahnya, namun dengan memahami hal itu, kita menjadi tenang. Kita akan menghadapinya dengan tenang. Kita tak akan terbawa arus, tak akan hanyut dalam duka maupun suka yang berlebihan.

Jangan hanya bersyukur saat mengalami suka, bersyukurlah pula saat mengalami duka. Tuhan tidak hanya dipuji saat kita berada di atas, pujilah pula Dia saat kita berada di bawah.Seorang teman pernah mendebat, “Bila Hukum Karma atau Hukum Sebab-Akibat ini betul berlaku, kenapa orang-orang jahat masih tetap jaya ? Kenapa orang-orang saleh masih tetap menderita ?”

Ia baru mendengar tentang Hukum Karma tetapi belum memahami cara kerjanya. Ia tidak pernah mendengar tentang Sanchita, Praarabdha, dan Agami Karma. Bukan dia saja, banyak orang menolak hukum ini karena ketidaktahuan mereka.

Seorang koruptor yang “tampak” sedang menikmati hasil korupsinya sesungguhnya sedang menikmati hasil dari Sanchita Karma, dari segala kebaikan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Inilah buah Praarabdha yang berada di tangannya. Kejahatan korupsi yang dilakukannya pun akan terakumulasi dan menjadi sanchita karma. Penderitaan dan kecelakaan sedang menunggunya sebagai agami karma. Tidak seorangpun dapat lolos dari perbuatannya.