Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Lima ; Point 33 – 35)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Lima ; Point 33 – 35)

5 Oktober 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

 

33. IN SOLITUDE LIVE JOYOUSLY — Hidup Ceria dalam keheningan dirimu

 

Bukan hidup ceria ditengah hutan; bukan hidup ceria di luar keramaian dunia, tetapi hidup ceria di tengah keramaian dunia, di dalam pasar dunia dengan mempertahankan keheningan dirimu.

Seorang teman berkata, “Sulit.” Saya menjawab, “tidak”, karena keceriaan bukanlah sesuatu yang kita beli dai pasar, bukanlah sesuatu yang kita peroleh dari keramaian. Keceriaan berasal dari dalam diri kita, maka kita hanya akan memperolehnya dari dalam diri kita juga.

Keceriaan adalah suatu sikap, suatu sifat. Kita tidak tergantung pada orang lain untuk bersikap ceria. Sikap itu adalah milik kita sendiri. Kita oleh miskin, tidak berduit, orang susah di mata orang kaya, tetapi tetap ceria. Sebaliknya mereka yang menganggap kita susah, walau kaya raya dan berduit, belum tentu ceria !

Kita menjadi penerima dan pemberi karena keceriaan kita. Interaksi antar manusia terjadi karena keceriaan. Tanpa keceriaan, yang terjadi bukanlah interaksi, tapi sekedar dialog tanpa arti.

Jiwa yang tidak ceria adalah jiwa yang tertutup, tidak bisa menerima dan tidak mampu memberi. Inilah jiwa-jiwa “kafir” dalam arti arti kata yang sebenarnya.

Maulana Wahiduddin Khan, seorang ulama kontemporer, seorang cendekiawan Hindustan, menjelaskan bahwa “kafir” adalah orang-orang yang “menolak” karena hati mereka tertutup. Karena itu menurut beliau, seorang non-muslim yang “tidak menolak” agama Islam walau tetap beragama lain, tidak bisa disebut kafir.

Demikianlah menurut ulama besar yang mengaku baru bisa menerima perbedaan, kebhinekaan, keberagaman “sepenuhnya” dalam usia senja setelah membaca karya monumental Arnold Toynbee, A Study of History (Televisi Nasional India Door-Darshan, 13 Maret 2006). Dan, sayapun menyaksikan keceriaan yang luar biasa pada wajahnya. Beberapa tahun yang lalu saya sempat bertemu dengan beliau (baca Islam Esoteris oleh penulis yang sama — Ed.) dan saya memang mengagumi pandangan-pandangan beliau, namun saat itu saya tidak melihat keceriaan yang saya lihat lewal layar kaca baru-baru ini. Keceriaan pada wajahnya sungguh mencerahkan.

Saya tidak dapat membayangkan seorang Buddha yang sudah tercerahkan, namun tidak ceria. Isa dan Muhammad dalam imajinasi saya tidak kalah ceria daripada Krishna.

 

34. QUIETEN YOUR MIND IN THE SUPREME LORD — Tenangkan pikiranmu dalam Kesadaran Illahi

 

Tenangkan pikiranmu dalam Tuhan yang Maha Tinggi, dalam Allah. Yang dimaksud adalah “dalam Kesadaran-Nya, Kesadaran Illahi!” Tanpa itu, ketenangan tidak mungkin. Tanpa kesadaran, ketenangan tidak akan “terjadi”.

Kesadaran adalah Kesadaran Illahi. Tidak ada kesadaran di luar Kesadaran Illahi.

Seorang penjahat yang sadar “berhenti” menjadi penjahat. Ia tidak bisa berbuat jahat, karena “kejahatan bukanlah sesuatu yang alami”. Untuk berbuat jahat, dia harus berpikir. Kejahatan adalah produk pikiran, sebagaimana kebajikan pun produk pikiran.

Bila kita harus berpikir untuk berbuat baik, suatu waktu kita pun pasti berpikir untuk berbuat jahat. Kemudian, kita akan terombang-ambing antara kedua tepi itu. Hari ini baik, besok jahat, kemudian baik lagi, dan kemudian jahat lagi. Keadaan ini pula yang menyebabkan kegelisahan. Kita menjadi gelisah, tidak tenang.

Bagaimana menenangkan pikiran ? Dengan menghanyutkan pikiran kita dalam Kesadaran Illahi.

Bagaimana menghanyutkan pikiran ? Dengan meniti ke dalam diri, karena Kesadaran Illahi tidak berada di luar diri; tidak bsa diperoleh dari kuil, pura, masjid, gereja, dan lain sebagainya. Bangunan-bangunan itu sekedar cermin untuk mengingatkan kita akan keadaan diri kita yang sebenarnya: hening, kosong, plong, namun tidak hampa, tidak sepi. Dalam keheningan itulah terjadi Pertemuan Agung. Kitapun akan merayakan pertemuan itu bersama Krishna yang ceria, Isa yang suka bercanda, dan para Buddha yang cerah !

Kerutan di dahi kita dalah pertanda pikiran. Keceriaan pada wajah kita adalah pertanda kesadaran. Keduanya tidak bisa eksis bersama. Berceria-lah setiap saat, maka kerutan di dahi akan lenyap dengan sendiri. Atau lenyapkan kerutan itu, dan keceriaanpun akan datang sendiri, terjadi sendiri.

Penggalan ayat ke lima yang satu ini dan penggalan sebelumnya saling terkait. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Shankara sedang berusaha untuk menjelaskan kebiasaan-kebiasaan mereka yang sudah tercerahkan dengan sejelas-jelasnya. Mereka ceria, mereka tenang.

 

35. REALIZE AND SEE THE ALL-PERVADING SELF EVERY WHERE — Saksikan “Sang Aku” yang meliputi segalanya, sadarilah kehadiran-Nya

 

Para penjahat berdarah dingin dan tak berperasaan yang berusaha untuk menakut-nakuti kita, meneror kita, juga “merasa” cuup percaya pada Tuhan. Mereka lebih rajin berdoa daripada orang-orang saleh dan berakhlak yang mereka kafir-kafirkan. Kendati demikian, mereka tetap bagaikan tumor yang harus segera diangkat. Mereka merusak seluruh tatanan sosial.

Seperti yang dikatakan oleh Maulana Wahiduddin Khan baru-baru ini, “Mereka tidak berjihad” karena, menurut beliau, jihad hanya dilakukan oleh Negara untuk melindungi atau membela diri. Jihad bukanlah untuk meneror orang. Jihad bukanlah untuk membunuh orang-orang tak bersalah. Para pelakunyapun tidak mewakili negara manapun. Mereka hanya mewakili kelompok-kelompok tertentu.

Pertanyaannya, apakah mereka belum cukup percaya Tuhan ? Jawabannya, ya dan tidak — tergantung pada siapa yang menjawabnya.

Bila seorang Maulana Wahiduddin Khan ditanyai, ia akan menjawab seperti yang dijelaskannya dalam talk show di televisi, “lihat saja hasilnya, tidak berhasil kan ?! Bila apa yang mereka sebut itu betul perjuangan, sudah pasti berhasil. “ As simple as that, inilah keyakinan seorang ulama besar Hindustan.

Bila para pelaku kejahatan itu yang diminta menjawab, maka merekapun akan bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa mereka percaya sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa, bahkan mereka juga percaya bahwa tangan-tangan mereka yang melempar bom itu digerakkan oleh Tuhan.

Mereka memang percaya pada Tuhan. Tidak ada salahnya bila para penjahatpun percaya pada Tuhan. Kepercayaan pada Tuhan bukanlah monopoli orang-orang baik saja. Tuhan tidak pilih kasih. Saya yakin, Ia tidak keberatan bila para koruptor dan penghianat bangsapun percaya pada-Nya. Adalah persoalan lain bila kepercayaan mereka tidak mendapatkan tanggapan lain. Sekadar “diterima”, itu saja. Titik. Persis seperti “surat yang diterima, tapi tidak di balas” atau usulan yang diterima, tetapi tidak ditanggapi.

Para penjahat, koruptor, dan penghianat bangsa pun percaya pada Tuhan, tetapi barangkali tuhan yang hanya berada di luar sana, tuhan yang adalah penguasa surga di atas sana, entah di mana, tuhan yang hanya dijumpai di tempat-tempat tertentu dan pada saat-saat tertentu.

Mereka tidak mampu menghargai dan menhomati kepercayaan para sufi yang melihat Tuhan sebagai Khuda (bahasa Persia — a.k.), atau Self, Sang Aku, Sang Aku yang adalah aku-“mu” dan aku”ku”, Ia yang adalah Aku dari segala aku. Keberadaanku dan keberadaanmu semata karena Sang Aku itu ! Sebab itu, aku tidak dapat menjahatimu. Kamu tidak bisa menjahatiku.

Mereka yang mengklaim kesufian bagi diri dan masih suka menghujat, menghina dan menjelek-jelekkan orang lain adalah orang-orang yang sama-sama “tidak tahu” seperti para penjahat, para koruptor, dan pengkhianat bangsa. Mereka masih belum bisa “menyaksikan ‘Sang Aku’ yang meliputi segalanya, dan menyadari kehadiran-Nya.”

Mereka percaya pada Tuhan yang mereka sendiri “anggap” kerdil; kekuasaan dan kekuatan-Nya “terbatas” karena batas-batas “ciptaan” mereka sendiri. Tuhan dalam “anggapan” mereka bukanlah Tuhan Alam Semesta. Tuhan dalam “anggapan” mereka adalah Tuhan satu kelompok tertentu — kelompok mereka sendiri.

Ego mereka menciptakan “diri” yang terpisah dari Tuhan, diri yang harus “menghamba” kepada Tuhan. Kemudian, yang menjadi penting di mata mereka adalah “kehambaan diri” itu. Hamba boleh jahat, boleh baik, boleh bersyahwat lemah, dan menganggap seluruh dunia bersyahwat lemah kemudian membuat peraturan-peraturan kurang cerdas — yang penting sudah “merasa menghamba”.

Apapun kata dan klaim mereka, mereka tidak bisa atau belum bisa melihat Wajah Allah di barat dan di timur. Mereka belum bisa menerima seluruh umat manusia sebagai keluarga, sebagai satu umat. Mereka belum cukup sadar untuk itu. Kepercayaan mereka tanpa “kesaksian”, walau mereka mengklaim “telah menyaksikan”. Kelmudian klaim-klaim mereka itu menjadi palsu. Tidak memiliki arti. Tidak bermakna.

Bila kita belum mampu menyaksikan kekuasaan-Nya di atas bumi sebagaimana di “dalam surga”, di “lapisan langit yang tertinggi di atas sana”, kita belum menjadi saksi. Kita baru “tahu”.

Walau mengaku beriman, para hamba “non-saksi” seperti itu sesungguhnya belum beriman, karena iman tana kesaksian juga tidak memiliki arti. Iman seperti itu mudah tergoyahkan. Itu sebabnya mereka akan selalu membutuhkan polisi iman untuk menegakkan iman mereka. Mereka selalu membutuhkan “orang luar” untuk membantu mereka. Kadang “orang luar” itu adalah polisi agama, kadang ia perancang undang-undang kurang cerdas, pembuat peraturan-peraturan yang beranggapan bahwa kecuali para pembuatnya semua orang bodoh, dan patut di curigai imannya.

Ulah orang-orang seperti itu merepotkan kita semua. Seluruh dunia menjadi repot karena ketertutupan mereka, karena kepicikan mereka. Kalau menggunakan istilah kafir, barangkali mereka itulah kafir. Lalu, sungguh aneh, mereka mengafirkan orang lain, padahal mereka sendiri kafir.

Walau demikian, masih ada harapan. Bagi saya, persis seperti dalam pemahaman Maulana Wahiduddin Khan, kekafiran adalah sifat jiwa yang tertutup. Kita dapat embukanya kapan saja, asal memiliki niat yang kuat untuk itu. Asal mau berupaya sungguh-sungguh, mau berjihad, mau berijtihad untuk itu.

Membuka jiwa berarti membuka diri. — menerima diri orang lain sebagaimana kita terima diri kita sendiri. Berbuat terhadap orang lain sebagaimana kita harapkan orang lain berbuat terhadap diri kita. Menghormati kepercayaan dan keyakinan orang lain sebagaimana kita menghormati kepercayaan dan keyakinan kita.

Melihat percikan Api Illahi dalam diri setiap orang sebagaimana kita lihat dalam diri kita. Itulah maksud penggalan ayat ke lima ini. Melihat Nur yang sama, cahaya yang sama; melihat Keillahian dan Kemuliaan yang sama; Keindahan yang sama; Kebenaran yang sama. Kau tidak terpisah dari diriku, aku tidak terpisah dari dirimu — kita semua dipersatukan oleh Yang Satu Itu. Oleh Ia Yang Tak Terbagi.