Beranda > Serba Serbi > SHOLAT ? BIAR SUJUD RIBUAN KALI SEHARI HINGGA DAHI KAPALEN PUN TETAPLAH TIADA GUNA …..

SHOLAT ? BIAR SUJUD RIBUAN KALI SEHARI HINGGA DAHI KAPALEN PUN TETAPLAH TIADA GUNA …..

Gerah baca judul note ini ?

Ya, saya memang sengaja membuat judul seperti itu supaya anda para pembaca menjadi gerah karenanya !😆😆😆

Kenapa ? Apa manfaatnya membuat orang lain gerah membaca judul note ini ?

Karena orang-orang jaman sekarang sudah tidak seperti dulu lagi.

Dulu, kebanyakan orang cukup di semoni, cukup dengan sanepa saja sudah faham dan mengerti, sedangkan orang-orang jaman sekarang tidak bisa begitu. Jaman sekarang bisikan sudah tidak di dengar lagi. Kita harus teriak sekuat-kuatnya, sekencang-kencangnya agar orang lain mau dengar apa yang hendak kita sampaikan. Begitupun masih juga ada yang tetap tidak mau dengar.😦😦😦

Celakanya, ada juga yang menjadi berang karenanya. Kita jengkel, marah, naik pitam, karena “teriakan-teriakan” yang bernada kasar itu. Kemudian kita mencari cara untuk “membalas teriakan” tersebut, dengan berbagai cara, dengan menghalalkan berbagai cara, yang penting tujuan tercapai, tidak perduli cara tersebut berakhlak atau tidak, berbudi pekerti yang baik atau tidak, lebih parah lagi; dengan mengatasnamakan Tuhan ! Allahu Akbar !!! Asalkan atas nama Tuhan, menumpahkan darah orang lainpun menjadi halal ! Sungguh ironis sekali😦

Ada yang salah dengan diri kita saat ini. Ya, sudah terjadi kesalahpahaman yang mendalam dengan diri kita tanpa kita sadari.

Sehari lima kali kita tunduk sujud kepada-Nya, jenthat-jenthit, jengkang-jengking, namun sedikitpun kita belum mampu menundukkan ego kita, njengkingke ego kita.

Sembah sujud kita hanya sebatas lahiriah saja, sebatas olah raga, aktifitas badan. Kita tidak benar-benar menjiwai sembahyang kita. Hanya ritual tanpa makna, hanya sembah raga yang tidak di ikuti dengan sembah batin. Kesadaran kita terhenti hanya sebatas aktifitas ragawi saja. Selama ini kita beranggapan bahwa hanya dengan jenthat-jenthit, jengkang-jengking, itu saja sudah cukup, tanpa meningkatkan kesadaran kita.

Oleh karenanya batin kita tidak pernah merasa tenang, senantiasa tidak puas, senantiasa bergejolak, karena kesadaran kita masih sebatas kesadaran indrawi, kesadaran ragawi, sehingga apa yang tampak “menyenangkan” bagi ego kita, kita akan senang, sebaliknya apa yang tampak “tidak menyenangkan” bagi ego kita, kita akan susah/sedih. Yang tampak di depan kita hanyalah perbedaan dan perbedaan, ketidakpuasan dan ketidakpuasan. Akhirnya hanya keangkaraan yang meraja lela. Kitapun sudah lupa akan pesan orang tua kita dahulu, bahwa angkara gung itu kalau den umbar ambabar dadi rubeda. Keangkaraan itu kalau dibiarkan merajalela akan sangat berbahaya, baik berbahaya bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain.

Kita telah menjadi orang munafik, saat ini kita bilang lain, lain waktu kita mengatakan lain lagi. Dalam doa, dalam sembahyang kita mengakui Kekuasaan-Nya, Ke-Esa-an-Nya, tapi di waktu lain dalam kehidupan sehari-hari kita malah memberhalakan-Nya.

Ya, memberhalakan-Nya. Karena seharusnya hanya Dia lah yang Bertahta di batin kita, namun batin kita justru kita penuhi dengan ego yang menggebu-gebu serta hawa nafsu yang berkobar-kobar.

Kita sudah kehilangan makna spiritualitas. Kita tengah mengalami krisis spiritualitas. Ya, Spiritualitas, satu hal yang dahulu pernah tumbuh subur di negeri ini, kini sudah kering kerontang.

Kesadaran kita hanya terhenti pada raga kita ini saja. Sembah kita jadi tidak bermakna lagi. Jiwa kita menjadi kerdil. Kita bagai katak dalam tempurung, yang hanya menganggap kebenaran sebatas dinding-dinding sempit yang membatasi diri kita ini. kita tidak bisa menerima kebenaran diluar kebenaran yang kita pahami. Kita belum paham, bahwa kebenaran itu sebenarnya hanya ada satu. Kita baru memahami kebenaran dari satu sisi, namun kita sudah merasa paling benar sendiri, merasa paling paham akan kebenaran itu sendiri. Kita tidak bisa menerima bahwa di luar dinding-dinding yang sempit itu, terbentang langit yang luas tak berbatas.

Mulut kita bilang bahwa Kehendak-Nya itu Maha Sempurna, namun tanpa kita sadari, di lain saat kita justru telah menolak Kehendak-Nya. Bukankah segala yang tercipta ini adalah Kehendak-Nya ? Adakah mungkin sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya bisa eksis di jagad raya ini ?

Terimalah Kehendak-Nya sepenuhnya, seutuhnya. Menerima kehendak-Nya sepenuhnya, itu berarti kita tidak memaksakan kehendak kita sendiri, apalagi dengan segala pemahaman sempit kita tentang sebuah kebenaran. Menerima Kehendak-Nya, seperti kita mau menerima adanya siang maupun malam seutuhnya, bukannya menerima siang namun menolak malam atau sebaliknya, bukannya menyukai waktu siang namun tidak suka waktu malam dan sebaliknya, mau menerima musim kemarau maupun penghujan, panas maupun dingin, hitam maupun putih dan lain sebaginya sebagai satu kesatuan yang utuh dengan ikhlas dan penuh suka cita !

Tanpa peningkatan kesadaran, akhirnya sholat kita menjadi sia-sia tanpa guna, sembahyang kita menjadi percuma. Karena kesadaran kita masih terhenti pada kesadaran ragawi saja, pada ritual lahiriyah tanpa makna. Hidup kita menjadi tidak bermakna. Baik bagi diri sendiri, maupun bagi seluruh kehidupan di semesta ini. bahkan hingga dahi lecet atau kapalen sekalipun, tetaplah sia-sia. Tiada berguna …

  1. 28 September 2011 pukul 9:05 pm

    Setuju,….

  2. 29 September 2011 pukul 2:40 pm

    Siipp..

    • 29 September 2011 pukul 6:02 pm

      Tks byk mas Candra Wiguna,,,
      Blognya ganti ya mas ?
      Salam kenal …

  3. johni
    30 September 2011 pukul 6:09 pm

    Hati-hati mas ntar yang dahinya kapalen marah-marah lho….

  4. Astu Dharma
    1 Oktober 2011 pukul 9:30 am

    latihan, puja ato ritual hanya spiritual tingkat rendah
    pengetahuan lebih baik dari latihan, puja ato ritual
    pemusatan pikiran lebih utama dari pengetahuan
    dan yang palig utama dari semua adalah pengingkaran ego.
    suwung, tanpa motif, tanpa keiinginan diri sendiri, hening, stabil dalam suka dan duka

    karena jika selubung ego musnah kita akan bersatu denganNya.
    Seperti plastik yang menyelubungi air laut, ketika plastik itu sudah hilang air laut itu menjadi satu dengan samudra dan tak bisa dibedakan lagi.

    • 1 Oktober 2011 pukul 5:39 pm

      Sepakat sobat Astu,,,
      tks byk sdh bersedia singgah …

  5. suryo tanggono
    4 Oktober 2011 pukul 5:49 am

    ha ha ha ha
    setuju

  6. rinto supm
    11 Oktober 2011 pukul 1:14 pm

    betul sekali,mas…sholat memang satu bentuk alat pemroses jiwa…jadi tdk selalu yang rajin sholat,pasti baik jg ahlaknya…karena pembentuk ahlak menurut islam ada didalam tasawuf…tp saya pribadi sangat tertarik dg ulasan dlm blog sampeyan…khususnya kebatinan jawa…salam kenal…

    • 11 Oktober 2011 pukul 6:45 pm

      Tks mas Rinto sudah bersedia singgah dan memberikan commentnya,,, salam kenal juga mas … _/|\_

  7. Yudha
    5 November 2011 pukul 1:26 pm

    Langsung ngakak liat judulnya… wkkkk… Sekarang saya sudah malas sekali utk ngobrol masalah spiritual dg orang lain. Banyak ndak nyambungnya, & ujung2nya kita dianggap aneh sama orang itu.

  8. yudhi
    24 November 2011 pukul 5:39 pm

    Salut mas….saya suka judul dan pola pikir anda,,
    salam dari bali

  9. senen
    15 Januari 2012 pukul 5:08 am

    cocok……..

  10. haiyaa
    28 Mei 2012 pukul 10:36 am

    waaa sejuk rasa nyaa,disela keberingasan yg merambah di Bumi Pertiwi masih ada org yg waras dan bijak,Salam Hormat

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s