Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Empat ; Point 28-31)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Empat ; Point 28-31)

27 September 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

 

LANGKAH KE EMPAT

28. LIVE CONTENTEDLY UPON WHATEVER COMES TO YOUR LOT AS ORDAINED BY HIM — Puaslah dengan apa saja yang kau peroleh atas kehendak-Nya

 

Tidak mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, tetapi menerima apa saja yang kita peroleh atas Kehendak-Nya — inilah esensi spiritualitas.

Ada yang menolak kenikmatan dan kelezatan dunia, tetapi mengharapkannya di surga. Persis seperti Ladin dan kawan-kawan. Ladin dalam pengertian saya adalah tanpa din atau tanpa agama. Inilah sifat-sifat orang tak beragama: mengharamkan sesuatu di dunia, dan mengharapkannya di akhirat. Penolakan semacam ini membuat kita menjadi munafik. Kemudian bila melihat orang lain menikmati sesuatu yang kita haramkan, kita iri atau marah. Kita membuat peraturan dan undang-undang, atau mengeluarkan fatwa supaya apa yang kita “anggap” haram diterima sebagai haram oleh khalayak ramai. Kita memaksakan kehendak kita.

Para teroris dan para agamawan berwawasan sempit memang suka dengan cara seperti itu. Mereka tidak memahami kedamaian dan kesejukan ajaran-ajaran agama. Mereka mungkin rajin membungkuk, tetapi sesungguhnya belum bisa menundukkan ego; hanyalah kepala mereka yang berjungkat jungkit. Mereka tidak bisa menerima Kehendak-Nya, karena merekapun tidak tahu dengan Kehendak-Nya.

Beragam budaya dan adat istiadat dengan coraknya masing-masing adalah Kehendak-Nya. Seua itu tidak akan bertahan jika tidak di Kehendaki-Nya. Agama Buddha, Agama Islam, Agama Kristen, Agama Hindhu, Agama Bahai, Agama Shinto, Agama Sikh, Agama Konghucu, Agama Tao dan masih banyak lagi agama-agama lain, semuanya adalah Kehendak-Nya. Semuanya “terjadi” karena dikehendaki-Nya.

Bukankah Ia telah menyempurnakan kitab suci bagi anda dalam bahasa yang anda pahami pula ? Lau, kenapa anda memaksakan isi kitab suci itu kepada orang lain yang sudah memiliki kitab suciyang telah disempurnakan pula baginya ? Kenapa anda memaksakan bahasa yang anda pahami kepada orangain yang tidak memahaminya ?

Menerima Kehendak-Nya berarti tidak memaksakan kehendak kita. Bila ini saja kita pahami dengan baik, hidup menjadi sebuah perayaan. Kita menjadi bahagia dalam arti kata sebenarnya.

29. ENDURE ALL THA PAIRS OF OPPOSITES: HEAT ANDA COLD, AND THE LIKE — Terimalah setiap pasangan pengalaman yang tampak bertentangan: panas-dingin, dan lain sebagainya

 

Ada yang suka panas, ada yang suka dingin. Yang suka panas menolak dingin. Yang suka dingin menolak panas. Orang bule mencari panas di Kuta. Orang timur mencari dingin di Kintamani.

Mereka yang berkulit putih, setengah matang, mencari kulit yang matang. Mereka yang berkulit hitam, hangus, mencari kulit putih yang setengah matang.

Demikianlah keadaan kita. Kita mencari salah satu dari setiap pasangan pengalaman; salah satu yang kita sukai. Mahaguru Shankara mengajak kita untuk menerima setiap pengalaman seutuhnya. Suka tanpa duka tidak utuh. Panas tanpa dingin tidak utuh. Hitam tanpa putih tidak utuh.

Penerimaan semacam ini membebaskan kita dari rasa kecewa, karena suka tidak bisa eksis tanpa duka. Tumpukan duka yang makin tinggi itulah yang kemudian runtuh dan menciptakan kelegaan, atau suka. Kemudian, bila sukapun menumpuk terus, kita menjadi jenuh dan mengalami duka.

Dibalik rasa kecewa ada rasa tidak puas,,,,, rasa tidak puas karena mengalami sesuatu yang tidak kita sukai. Kita lebih suka dengan pasangan pengalaman tersebut. Kita suka panas, tetapi mengalami dingin, maka kita tidak puas, kecewa, gelisah, marah.

Bila kita menyukai setiap pasangan pengalaman, tak ada lagi ketakpuasan dan kekecewaan. Tidak ada pula kegelisahan atau amarah. Kita suka panas, tapi suka dingin juga. Kita suka asin, tapi suka tawar juga. Kita suka manis, tapi suka pedas juga. Dengan demikian, gugurlah suka dan duka,,,,, yang tersissa hanyalah Kebahagiaan !

Mahaguru Shankara sedang menuntun kita di jalan menuju Kebahagiaan Abadi, Kebahagiaan Sejati, maka terminal kenikmatan dan kelezatan sesaat harus ditinggalkan.

Terimalah hidup ini seutuhnya. Terimalah setiap pengalaman hidup sepenuhnya tanpa kecuali.

30. AVOID WASTEFUL TALK — Hindarilah pembicaraan yang tidak berguna

 

Bicaralah secukupnya dan seperlunya saja. Hindai banyak bicar. Banyak bicara hanya menunjukkan bahwa kita tidak mampu menyampaikan apa yang hendak kita sampaikan. Ada yang salah dengan diri kita. Kita tidak bisa meyakinkan kawan bicara kita.

Kendati demikian, ada kalanya untuk menyampaikan suatu pesan yang sudah tidak populer lagi kita harus mengulang dan mengulang lagi. Kita harus menggunakan pendekatan psikologis repeatative dan intensive, mengulangi terus pesan kita secara intensif. Pengulangan seperti itu memang “perlu dan jelas berguna”. Pengulangan seperti itu bukanlah “pembicaran yang tak berguna” yang dimaksudkan oleh Shankara.

Justru untuk menyisihkan energi untuk pembicaraan berguna seperti itu, untuk menjadi repetitif dan intensif bagi hal-hal yang berguna, “hindarilah pembicaraan yang tidak berguna.”

Pembicaraan yang tidak menunjang perkembangan jiwa tidak berguna. Bila pengulangan nama Tuhan pun kita lakukan secara mekanis, itu tidak berguna lagi.

Sebaliknya, berbicara dengan seorang pelacur, entah pelacur pria atau pelacur wanita, bila hati kita menjadi lembut, bila kita menjadi sadar akan kesulitan dan ketakberdayaan mereka, bila kita bisa bersimpati kepada mereka dan muncul keinginan dalam hati untuk membantu mereka, pembicaraan seperti itu sangat berguna.

31. BE INDIFFERENT — Jaganlah kau terikat

 

Bila kita tidak berhati-hati, terjemahan sutra ini bisa menyesatkan: Bersikaplah cuek! Bukan itu maksud Shankara. Kata yang digunakan dalam bahasa Sanskerta adalah Udasin — bersikap sama; tidak berihak pada salah satu pengalaman. Tidak memilih salah satu pihak, tetapi merangkul keduanya.

Jangan terikat pada salah satu pengalaman. Jangan terikat dengan obyek-obyek tertentu yang memicu pengalaman itu, karena obyek-obyek itu bersifat sementara, tidak langgeng. Saat ini memang masih ada, sesaat kemudian belum tentu ada. Keterikatan kita pada pengalaman-pengalaman atau obyek-obyek itu hanya akan membawa penderitaan.

Mahaguru Shankara sedang berupaya keras untuk membahagiakan kita, untuk memperkenalkan kebahagiaan sejati, untuk memperjelas arti kebahagiaan abadi itu.

Hampir setiap sutra, setiap rumusan, setiap ayat dalam Panchakam ini berurusan dengan Ananda, dengan Kebahagiaan Kekal Abadi, Langgeng, Sejati. Ia menjelaskan setiap rintangan, setiap halangan yang menjauhkan kita dari Ananda itu.

Keterikatan dengan salah satu pengalaman, keterlibatan dengan salah satu pihak, adalah halangan utama. Itulah rintangan yang harus dihindari, diatasi, dilampaui.

Di masa perang dingin, para pemimpin kita dihadapkan pada pilihan yang sungguh tidak tepat, pilih Blok Amerika, atau Blok Rusia. Para bapak bangsa kita sungguh jenius ketika mereka mencari jalan keluar sendiri dengan tidak memilih salah satu blok di antaranya. Mereka memproklamasikan diri sebagai Non-Blok. Sukarno, Nehru, Tito, Nasser dan Chou En Lai adalah pemimpin dunia yang memahami betul arti kata udasin, maka mereka mencetuskan Non-Blok.

Sayang sekali kecerdasan seperti itu sudah amat sangat jarang sekali diperlihatkan oleh pemimpin dunia masa kini. Seorang pejabat tinggi Negara kita, walau sudah menduduki jabatan tinggi yang tidak menjadi haknya, karena partainya tidak mendapatkan suara yang cukup untuk itu, masih saja menempatkan diri sebagai ketua partai, walau istilah yang dipergunakan sudah bukan itu lagi. Jelas dia tidak akan bertindak secara udasin, dia tidak bisa tidak pilih kasih. Ia tidak bisa memisahkan dirinya dari partai  dan mewakili Negara dan Bangsa seutuhnya. Agenda sempit partainya masih melekat padakepribadiannya.

Andaikata Mahaguru Shankara seorang Indonesia dan lahir di zaman ini, ia tidak akan berdiam diri. Ia akan mengingatkan kita akan makna udasin, indifferent. Sesungguhnya, hanyalah dengan sikap itu kita dapat berkarya secara sempurna. Kita tak akan memikirkan satu kelompok saja. Kita menjadi sangat obyektif dalam hal pengambilan keputusan.

Sesungguhnya Guru Sejagad Shankara, saat inipun tengah mngingatkan kita akan perlunya sikap udasin bagi setiap pemimpin, setiap pekerja, setiap orang yang ingin meraih kebahagiaan, setiap makhluk yang ingin merayakan hidup !