Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Tiga ; Point 25-27)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Tiga ; Point 25-27)

26 September 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

25. IN HUNGER DISEAES GET TREATED — Dalam keadaan lapar kau tersembuhkan dari berbagai macam penyakit

 

Karena itu “puasa dianjurkan. Hampir semua agama dan semua tradisi menganjurkannya. Sayangnya, kadang maksudnya tak dipahami dengan baik. Bila masyarakat masih belumbisa memahami kebenaran di balik puasa, puasa pun dikaitkan dengan pahala dan kewajiban.

Puasa memang penting. Puasa adalah satu-satunya cara untuk mengistirahatkan mekanisme tubuh kita. Khususnya mekanisme atau sistem pencernaan.

Mekanisme yang satu ini berjalan terus tanpa henti. Mulut mengunyah hanyalah proses awal dari pencernaan yang terlihat jelas oleh mata. Di balik itu masih ada serangkaian proses lain yang tidak terlihat oleh mata dan memakan waktu lebih lama.

Saat tidur pulas tanpa mimpi, kita terbebaskan dari pikiran. Demikian pula saat meditasi. Pada saat itupun, proses pencernaan tidak pernah berhenti. Terdeteksi atau tidak, ia berjalan terus. Saat tidur pulas dan dalam keadaan meditasipun, ia berjalan terus.

Badan butuh istirahat, dan itu antara lain bisa dipenuhi dengan puasa. Kendatidemikian, puasa bukanlah kebutuhan badan saja. Energi yang dibutuhkan oleh badan dan diperolehnya lewat makanan dan minuman digunakan pula oleh otak untuk berpikir, dan oleh jiwa untuk merasakan sesuatu. Karena itu, saat badan puasa, pikiran dan perasaanpun ikut berpuasa.

Puasa bukanlah perpindahan jam makan karena kewajiban, ketidakberdayaan atau peraturan. Puasa paksaan semacam itu tidak pernah mengistirahatkan pikiran dan perasaan. Keduanya malah tambah aktif dan bergejolak karena tidak memahami apa yang sedang dikerjakan oleh badan. Tidak heran bila dalam keadaan seperti itu yang terbayang sepanjang hari justru makanan dan minuman. Kemudian, badanpun tidak mmperoleh manfaat semestinya. Saat berbuka puasa, ia cenderung makan berlebihan. Ia menjadi liar.

Berpuasalah dengan penuh kesadaran. Dengan penuh kesadaran akan manfaatnya bagi tubuh, bagi pikiran, bagi perasaan. Bagi keseluruhan pribadimu. Puasamu tidak membantu siapa-siapa kecuali dirimu.

Saat berpuasa, tubuh memperoleh kesempatan untuk melakukan pembersihan dalam rumah. Ia mengeluarkan racun-racun yang tersimpan dalam rumahnya. Saat itu ia tidak terbebani oleh pekerjaan pencernaan, maka keseluruhan energinya dipusatkan untuk pembersihan.

Demikianlah tentang puasa dan kaitannya dengan makanan dan minuman, namun puasa tidak hanya terkait dengan makanan dan minuman. Makan dan minum merupakan pekerjaan salah satu indra manusia. Masih ada empat indra lain yang “suka” makan dan minum dan membutuhkan puasa juga.

Manusia mendengar dengan sepasang telinga; mencium dengan hidung; dan merasakan dengan kulitnya. Bagi telinga, ap yang terdengar itulah makanan dan minuman. Bagi mata, apa yang dilihat, itulah makanan dan minuman. Bagi hidung, apa yang tercium itulah makanan dan minuman. Dan bagi kulit, apa yang dirasakannya itulah makanan dan minuman.

Setiap indra yang melakukan kegiatan makan dan minum juga membutuhkan puasa. Setiap indra membutuhkan istirahat. Mereka membutuhkan waktu untuk mencerna dengan baik apa yang telah diterimanya.

Seorang pembicara yang baik adalah seorang pendengar yang baik, karena saat mendengar sesungguhnya ia sedang “puasa bicara”. Saat itu, ia sedang mencerna apa yang terdengar olehnya. Dan, seorang pendengar yang baik adalah seorang pembicara yang baik, karena ia telah mencerna dengan baik apa yang didengarkannya. Ia memiliki energi yang cukup untuk menyuarakan isi hatinya.

Pengendalian hawa nafsu, pengendalian diri, itupun puasa. Melihat orang makan, minum dan melakukan hubungan intim, bila saya tergoda dan puasa saya batal, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kecuali diri saya sendiri. Adalah kelemahan diri saya, kepincangan iman saya yang telah membatalkan puasa saya. Tidak perlu membuat peraturan dan memaksakannya terhadap mereka yang belum sadar akan makna puasa. Peraturan-peraturan yang kita buat dan kita paksakan hanya membuktikan kebodohan kita. Kita pun sesungguhnya belum tahu makna puasa.

26. DAILY TAKE THE MEDICINE OF BHIKSA-FOOD — Makanlah setiap hari apa yang kau peroleh dengan mudah, dan anggaplah makanan sebagai obat

 

Anggaplah makanan yang anda makan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit lapar. Tidak lebih, tidak kurang dari itu.

Makin banyak jumlah restoran yang kita temukan di setiap tikungan jalan dan food-courts di mall membuktikan bahwa masyarakat kita sangat sakit. Dari hari ke hari ia bertambah sakit. Celakanya, ia juga tidak mempercayai ramuan rumah dan lebih suka ke apotik, ke farmasi, ke dokter-dokter di luar — maksudnya ke restoran-restoran itu.

Tubuh membutuhka makanan untuk dijadikannya energi, guna memenuhi berbagai kebutuhan, antara lain untuk menggerakkannya. Jensi makanan yang kita makan menentukan kualitas energi itu dan kinerja tubuh sangat tergantung pada kualitas energi.

Makanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Bila kita berada di Indonesia dan mencari apel dari Amerika, itu bukanlah sesuatu yang “mudah”. Kemudahan import adalah sesuatu yang dibuat-buat, diciptakan sendiri oleh manusia. Itu bukanlah kemudahan alami.

Yang dimaksud di sini adalah “kemudahan alami”. Sesuatu yang kita peroleh dengan mudah dari alam Indonesia menjadi obat bagi penyakit lapar kita, orang Indonesia. Itulah kemudahan alami yang dimaksud.

Biasakanlah makan sesuai dengan “kebiasaan asal” Indonesia. Banyak pohon kelapa di sini, maka gunakanlah santan untuk memasak. Tidak perlu menggunakan minyak goreng atau mentega import. Banyak sayuran segar di sini, untuk apa membeli makanan kaleng ?

Bagi seorang petapa, bhiksha adalah makanan apa saja yang diperolehnya dari salah satu dari lima rumah yang dikunjunginya setiap hari. Bila ia tidak memperoleh sesuatu dari kelima rumah yang dikunjunginya, hari itu ia berpuasa. Ia tidak mengeluh. Ia tidak mengutuk mereka. Ia berterima kasih dan bersyukur atas kesempatan berpuasa yang diperolehnya. Baginya, berpuasa merupakan sesuatu yang indah. Sesuatu yang tidak dibuat-buat. Bginya, puasa adalah Pemberian Keberadaan — Keputusan dan Kebijakan Keberadaan untuknya.

27. BEG NO DELICIOUS FOOD — Janganlah kau meminta makanan yang lezat

 

“Janganlah kau meminta” juga berarti “janganlah kau mengharapkan” ….. Makanlah sesuatu yang dapat diperoleh dengan mudah. Janganlah menyusahkan orang lain. Janganlah menjadi beban bagi orang lain.

Seorang tamu vegetarian yang menjadi beban bagi penjamunya hendaknya mengingat petuah yang satu ini. Menjadi vegetarian dan menyusahkan orang adalah dua hal yang saling bertentangan. Berpuasalah dengan minum air, minum susu, atau makan buah-buahan saja, sehingga tidak perlu merepotkan tuan rumah untuk menyiapkan makanan khusus.

Ketergantungan pada kelezatan menyengsarakan manusia. Ia menjadi kebiasaan yang sulit untuk diatasi. Karena itu, janganlah lupa bahwa makanan adalah sekadar obat untuk menyembuhkan penyakit lapar. Obat tidak perlu lezat. Obat adalah obat. Kemujarabannya yang penting, bukanlah kelezatannya.

Ketergantungan kita pada kelezatan dan kenikmatan telah menciptakan ilusi surga penuh kelezatan dan kenikmatan. Kita berbuat baik di dunia ini karena adanya janji surga yang maha lezatdan maha nikmat itu. Celakanya, kita pun mengukur kelezatan dan kenikmatan surga dengan ukuran dunia. Kita berilusi mengenai bidadari bertelanjang dada, tidak satu, tida dua, tapi segerombolan. Kita tinggal pilih saja. Ketergantungan kita pada kelezatan dan kenikmatan bahkan meruntuhkan dinding-dinding moral dan akhlak ciptaan kita sendiri. Apa yang kita anggap tidak bermoral untuk kehidupan di dunia kita jadikan bermoral di surga.

Jangan mengejar kelezatan dan kenikmatan sedemikian rupa sehingga di surgapun itu yang kita cari. Surga penuh kenikmatan dan kelezatan duniawi adalah surga buatan kita sendiri, surga ciptaan pikiran kita. Kenikmatan dan kelezatan yang kita peroleh dari surga seperti itu tidak lebih dari hasil rekaan pikiran. Bila iu yang menjadi pilihan kita, itu pulalah yang terjadi. Setelah kematian badan, kita terperangkap dalam alam pikir kita sendiri. Dalam alam itu pula kita memperoleh kenikmatan dan kelezatan ilusi, khayalan. Kemudian, kita lahir kembali dengan bekal khayalan itu, dengan bekal ilmu itu, maka sekali lagi kita mati dan hidup dalam ilusi.

Jangan mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, karena keduanya itu adalah urusan badan. Bila kita tidak memahami hal ini, dan saat ajal tibapun masih mengharapkan kelezatan dan kenikmatan, maka kita sudah pasti lahir kembali untuk mengharapkan kelezatan dan kenikmatan.

Kendati demikian, tidak megharapkan kenikmatan dan kelezatan juga tidak selalu berarti “menolak” keduanya. Terimalah apa saja yang diberikan kepada kita oleh Keberadaan. Tidak perlu menolaknya. Nikmatilah segala kenikmatan dan kelezatan tanpa mengharapkannya. Dan tiba-tiba kita akan terbebaskan dari ketergantungan pada keduanya.

Jangan mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, karena sesungguhnya harapan itulah yang menciptakan ketergantungan.