Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Tiga ; Point 20-22)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Tiga ; Point 20-22)

24 September 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

20. FOLLOW THE DISCRIMINATIVE RATIONALE OF THE SHRUTI — Ikutilah petunjuk Shruti yang mengajarkan diskriminasi

Shruti berarti “wahyu”, yang bagi para resi bukanlah monopoli mereka semata, melainkan wahyu yang dapat diterima oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Seseorang juga tidak membutuhkan gelar tertentu untuk menerimanya.

Shruti berarti “Yang Terdengar”, maka juga tidak dapat dipisahkan dari Sang Pendengar, dari ia yang mendengarnya. Shruti juga tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seseorang untuk mendengarkan sesuatu.

Shruti yang dijelaskan lewat kata-kata sangat tergantung pada kemampuan berkata-kata sang penerima, sang pendengar. Karena itu, penjelasan seorang pendengar bisa berbeda dari penjelasan pendengar yang lain, walau yang terdengar sesungguhnya sama.

Bahasa seorang pendengar dan kosa kata yang ada di dalam bahasa itu juga memengaruhi penjelasan-penjelasan tertulis. Penjelasan yang diberikan dalam bahasa Aram barangkali mirip dengan yang diberikan dalam bahsa Ibrani dan Arab karena kemiripan faktor sosial dan budaya. Juga karena kedekatan geografis. Namun yang diberikan dalam bahasa Sanskerta, Pali, China, atau Jepang bisa tidak sama, tidak mirip, bahkan terdengar “berseberangan” !

Bila kita terpaku pada kata-kata yang sudah tertulis, esensi Shruti itu sendiri hilang. Dan, persis ini yang terjadi selama ini. Kita sudah tidak memiliki semangat utuk mendengarkan sendiri. Kita malas, tidak mau bekerja, tidak mau berupaya untuk itu. Kita menganggap lebih gampangmenelan sesuatu yang sudah disiapkan sebelumnya. Kita tidak mau memasak sendiri.

Shruti yang dibakukan kehilangan dinamikanya. Sesungguhnya, ia sudah bukan shruti lagi. Ia sudah menjadi buku teks. Ia menjadi tulisan dan bacaan belaka. Tulisan dan bacaan seharusnya mendorong para pembaca untuk berupaya agar mereka pun “mendengar sendiri”. Bila sudah tidak memberi semangat seperti itu, shruti kehilangan maknanya.

Bacalah ayat-ayat Allah yang bertebaran di mana-mana; dengarkanlah suara-Nya: lihatlah wajah-Nya !

“Ikutilah petunjuk Shruti yang mengajarkan diskriminasi”, yaitu mengasah kemampuan kita untuk menentukan sendiri “tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat”. Itulah hasil Shruti. Itulah tujuannya.

Shruti yang menjadikan kita budak dari kata-kata tertulis bukanlah Shruti. Shruti memberi kebebasan untuk berijtihad, untuk berupaya sungguh-sungguh untuk menemukan makna hidup.

Shruti bukanlah monopoli kaum cendekiawan, pemangku, bhiksu, pendeta, pastor dan alim ulama. Mereka bukanlah pewaris dan penafsir tunggal. Mereka tidak memiliki monopoli semacam itu. Shruti diperuntukkan bagi setiap makhluk hidup. Dan setiap jenis kehidupan diberi pula kebebasan dan kesempatan yang sama untuk memahami dan melakoninya sesuai dengan pemahaman itu.

Suara “itu” diperdengarkan untuk membantu langkah kita. Bila kita masih bingung, dan masih tidak mampu menentukan langkah, barangkali kita belum mendengar-Nya. Suara “itu”  diperdengarkan untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah yang dibuat oleh para calo untuk memisahkan diri kita dari-Nya. Setelah “merasa” mendengar-Nya pun bila dinding-dinding itu masih utuh, masih berdiri tegak, kita mesti melakukan perenungan yang dalam. Barangkali yang kita rasakan sebagai Shruti bukanlah Shruti.

Apakah kita telah mendengar-Nya atau belum ? Apakah yang kita anggap sebagai Shruti sekedar anggapan belaka ? Bagaimana menguji kebenaran pengalaman kita?

21. ALWAYS BE ABSORBED IN THE ATTITUDE “ I AM BRAHMAN” — Senantiasa beradalah dalam Kesadaran Illahi 

Sadarkah kita bahwa kita tidak berada di luar-Nya ? Kita tidak bisa berada di luar-Nya. Kesadaran Illahi meliputi keseluruhan diri kita. Ia berada di luar dan di dalam diri kita.

I am Brahman. Aham Brahmaasmi, Soham, itulah Aku — Kebenaran Hakiki itulah kebenaranku. Tidak ada kebenaran yang rendah dan kebenaran yang tinggi. Hanya ada satu Kebenaran. Dan, aku tak terpisah dai Kebenaran Tunggal Itu !

Guru kontemporer Sai Baba berkata, “Aku-lah Dia yang kau puja-puja selama ini … “

Saya, sebagai salah seorang pengurus Yayasan Sri Sathya Sai tempo dulu, pernah dipanggil oleh instansi yang didesak oleh instansi lain untuk memperkarkan ajaran Sai Baba. Itu bukan hal yang baru; dan upaya desak mendesak seperti ini masih berjalan terus, ada di mana-mana. Apa yang terjadi dengan kelompok Ahmadiyah atau Salamullah ? Apa pula yang dapat terjadi pada kelompok Shi’a dan kelompok-kelompok lain yang tidak sepaham dengan kelompok pendesak tradisional seperti itu ?! Kata kuncinya adalah “takut”, lalu mau memaksakan salah satu akidah atau pemahaman tentang agama dijadikan patokan bagi semua.

“Aku-lah Brahman” berarti Aku tidak tercela. Air tidak bisa membasahi diri-Ku, hanya badan-Ku yang menjadi basah. Api tidak mampu membakar jiwa-Ku; hanyalah raga-Ku yang terbakar. Kita menjadi lebih percaya diri, lebih percaya pada kesucian diri dan menjadi lebih mudah bagi kita memastikan kesucian tindakan serta ucapan kita karena pemahaman ini.

“Aku berasal dari-Nya, dan aku akan kembali kepada-Nya.” Kepercayaan kita pada kalimat ini membebaskan diri kita dari rasa takut terhadap neraka. Kita juga tidak tergiur oleh tawaran surga. Karena aku sadar bahwa Ia berada di atas surga dan neraka. Ia melampaui ke duanya. Ia jauh lebih besar dari keduanya.

Kemudian, mencapai kebesaran itu pula yang menjadi tujuan hidup kita. Itulah harapan kita; itulah impian kita. Allah, Illahi dan keillahian mewarnai seluruh hidup kita. Dalam seketika kita terbebaskan dari kegelapan dosa. Hidup kita tercerahkan oleh beragam warna pencerahan.

Saya sering bercanda. Sang Kekasih memang memberi banyak pilihan. Banyak kemungkinan yang ditawarkan-Nya kepada kita. “Mau surga bersama istri, keluarga, ditambah kerumunan bidadari ? Atau, bersama-Ku di manapun Aku berada ?” Saya memilih bersama-Nya.

Saya memilih kalimat: “Dari-Nya aku berasal, dan kepada-Nya aku kembali”. Pilihan ini menggugurkan surga dan neraka.

Anjuran yang ini sekaligus mengukuhkan anjuran sebelumnya: “Ikutilah petunjuk Shruti yang mengajarkan diskriminasi”. Dan shruti tidak pernah baku, ia berkembang terus. Persis seperti pelajaran di sekolah. Surga dan neraka adalah subyek bagi kita ketika masih kecil. “Dari-Nya aku berasal, dan kepada-Nya aku kembali” adalah subyek kita sebagai mahasiswa. Apa mau di TK terus ?

Tidak perlu berdebat dengan mereka yang masih belajar di TK. Tak sepantasnya pula meremehkan pelajaran mereka, karena kitapun pernah memperoleh pelajaran yang sama. Terimalah anak TK sebagai anak TK. Juga tidak perlu menyombongkan diri ….. untuk apa ?

22. RENOUNCE PRIDE — Lepaskan kesombongan 

Menyombongkan diri kepada anak-anak TK: “He, kalian tolol — lihat aku mahasiswa, kalian masih belajar ABC,” — untuk apa ?

Bertanyalah pada diri sendiri, “Untuk apa ? Untuk apa menyombongkan kemahasiswaanku di hadapan anak-anak TK ?”

Menyombongkan diri di hadapan mereka hanya akan membuat mereka gusar. Mereka malah tidak akan mendengarkan apa yang hendak kita sampaikan kepada mereka. Terimalah kekanakan mereka. Paling banter kita bisa menjelaskan sedikit tentang materi SD kepada mereka. Untuk apa membicarakan materi Universitas ?

Apa yang kita sombongkan ? Apa yang perlu disombongkan ? TK adalah masa lalu kita juga. Sebagaimana universitas adalah masa depan mereka. Hanya beda waktu dan jarak. Kita telah menmpuh jarak itu, mereka sedang menempuhnya.

Apa yang kita sombongkan ? Apa yang perlu disombongkan ? Penampilan, badan, pengetahuan, kedudukan, ketenaran — semuanya akan tertinggal di dunia ini.

Apa yang kita sombongkan ? Pengaruh serta kekuasaan di dunia inipun tidak absolut, tidak mutlak. Seorang presiden negara adidaya pun kembali menjadi warga negara biasa setelah masa jabatannya berakhir.

Para diktator superkuasapun akhirnya lewat begitu saja. Tidak ada orang tua yang memberi nama Hitler atau Judas atau Abu Jahl atau Rahwana kepada anak mereka. Bila mereka yang di zamannya di anggap mahadaya saja lewat tanpa meninggalkan bekas, siapa diri kita ? Satu-satunya bekas yang mereka tinggalkan barangkali sekadar peringatan: Waktu mengawali dan mengakhiri semua.