Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Tiga ; Point 17 – 19)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Tiga ; Point 17 – 19)

23 September 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

17. REFLECT EVER UPON THE MEANING OF THE UPANISHADIC COMMANDMENTS –– Senantiasa renungkanlah makna dari pernyataan-pernyataan tersebut

Kalau kita simpulkan pemelajaran kita sampai disini, inilah langkah praktis yang harus kita tempuh. Pertama : temukan mereka yang telah melihat-Nya. Ke dua : duduk bersama mereka, dengarkanlah pengalaman mereka. Ke tiga : hayati, renungkan makna dari apa yang telah kau dengarkan.

Merenungkannya sekali saja tidak cukup, kita dituntut untuk merenungkannya setiap saat, senantiasa, karena pikiran kita, perasaan kita “suka” jalan-jalan. Bila tidak diberi pekerjaan, mereka akan melakukan apa saja just for the heck of it. Mereka akan menjadi sibuk melakukan hal-hal yang tidak penting, tidak berguna. Karena itu, “senantiasa renungkanlah makna dari pernyataan-pernyataan tersebut” supaya otak dan hati kita tersibukkan olehnya. Supaya mereka tidak berkeliaran.

Renungan Pertama : Aku telah “menyaksikan Kebenaran” Yang Satu Itu ! Renungan ke dua : Tiada suatupun Kebenaran di luar-Nya. Renungan ke tiga : Kebenaran itu pula yang meliputi alam semesta.

Aku berada di dalam Kebenaran Itu  Di luar Dia, di dalam Dia, di mana-mana Dia. Yang ada hanyalah Dia, Dia, Dia ….. Maha Ada Allah, Gusti, Pangeran, Widhi, Brahman, Tao, Adi Buddha, Satnaam, YHV ….. sekian banyak sebutan bagi-Nya, namun Dia Satu Ada-Nya !

18. TAKE REFUGE IN THE TRUTH OF BRAHMAN — Berlindunglah pada Kebenaran Yang Satu Itu

Bila kita masih menganggap Kebenaran kita lain dari Kebenaran mereka, Kebenaran yang terlihat oleh kita hanyalah salah satu sisidari Yang Maha Agung Itu. Kebenaran yang terlihat oleh kita baru salah satuaspek dari Yang Maha Benar.

Perenungan yang telah kita lakukan belum cukup. Barangkali kita malah belum pernah bersapaan dengan mereka yang telah menyaksikan Kebenaran. Kita masih harus mencari, dan sutra-sutra pencerahan ini tidak atau belum berguna bagi kita.

Setiap kali bersujud, bila kita masih menganggap bahwa Dia yang kita sujudi itu lain dari Dia yang mereka sujudi, aku belum menyaksikan Kebenaran. Kita masih terjebak dalam bayang-bayang-Nya. Kita masih hidup dalam maya, dalam hijab, dalam ilusi. Selaput ketaktahuan masih menghalangi penglihatan kita.

Berlindunglah pada Brahman, pada “Yang Satu Itu” ….. Bila kita terjebak dalam permainan kata dan menganggap Brahman kita lain dari Allah mereka, kitapun belum menyaksikan Kebenaran.

Sang Guru menasehati kita untuk :

19. AVOID PERVERSE ARGUMENTS — Hindari perdebatan yang tidak berguna

Untuk apa berdebat dengan mereka yang tidak mau tahu ? Bila seseorang belum tahu, tidak tahu, dengan senang hati ia akan mendengarkan ulasan anda. Saat itu, terjadilah dialog yang mencerahkan. Sedangkan bila orang tidak mau tahu, ulasan anda hanya akan mengundang perdebatan.

Galileo menolak untuk berdebat dengan mereka yang tidak mau tahu, yang memilih untuk menutup diri. Terhadap mereka, iapun berkata : “Bila anda sekalian menganggap dunia ini datar, bukan bulat, anggapan anda saya terima.”

Sungguh sangat diplomatis. Galileo bukanlah seorang kompromis, ia bukanlah seorang politisi dagang sapi. Ia seorang diplomat sejati. Perhatikan kata-katanya, “Anggapan anda saya terima.” Dalam kata lain, leave me alone … Anggapanmu bagimu, kebenaranku bagiku, biarlah waktu yang membuktikan kebenaran apa yang kuyakini.

Berdebat dengan mereka yang tidak mau tahu berarti mengundang maut sebelum waktu. Bersiap-siaplah untuk digantung bersama Mansur. Bersiap-siaplah untuk dipenggal kepalamu bersama Jenar. Untuk apa ? Kenapa harus mati konyol ? Kenapa mau dibunuh oleh segerombolan orang yang tidak waras ?

Janganlah menyia-nyiakan tenaga untuk berdebat. Besok belum tentu kita memiliki tenaga sama seperti hari ini. Tenaga, prana, atau life force bagaikan tabungan, bekal yang kita peroleh dari Keberadaan. Beriritlah dalam penggunaannya. Janganlah memboroskan energi yang sangat berguna itu.