Beranda > Ngelmu Manca > Bersama para Dewa, Manusia, dan Raksasa : Jagalah Pergaulanmu !

Bersama para Dewa, Manusia, dan Raksasa : Jagalah Pergaulanmu !

22 September 2011

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

 

D a d a d a d a d a d a d a d a d a d a d a , Daaaaaaaa ….. Daaaaaaaa …..”

Ciptaan pertama bingung, suara apa itu, suara apa itu ? Ternyata suara guntur. Ah, suara guntur ! Pelajaran apa yang kau peroleh dari suara guntur ? Pelajaran apa yang hendak disampaikan oleh suara dahsyat yag terdengar “daaaaaaaaaa” oleh ciptaan pertama itu ?

Para Dewa, Malaikat, atau penghuni Surga ….. Penghuni alam penuh nikmat itu menyimpulkan, “dam” atau pengendalian diri. Mereka yang sedang menikmati bua dari perbuatan mereka di masa lalu memang harus mengendalikan diri. Tidak terbawa oleh hawa nafsu.

Dewa atau Malaikat tercipta dari Cahaya atau Nur. Mereka, dalam pandangan manusia Hindia zaman dahulu, berasal dari siklus penciptaan sebelumnya. San Keberadaan mengngkat mereka untuk tugas-tugas tertentu. Mereka ibarat para menteri. Antara lain, mereka juga bertugas untuk menuntun dan mengarahkan para pejalan, para pencari.

Jangankan para dewa atau malaikat, sesungguhnya setiap orang yang berkuasa dan sedang menikmati kekuasaan, kekayaan dan kedudukan serta ketenarannya harus belajar mengendalikan diri.

Bagi para penguasa, pengusaha sukses, pemimpin, bahkan agamawan, budayawan, seniman, dan para profesional lainnya, dam atau pengendalian diri ini adalah kata kunci. Kendalikan dirimu, supaya tidak lupa diri, supaya tidak lupa daratan, supaya tidak larut dan hanyut dalam kenikmatan sesaat dan lupa akan tujuan hidup, yaitu Kebahagiaan Sejati. Kebahagiaan Yang Tak Pernah Berakhir, yang hanya dapat diperoleh dalam Kesadaran Illahi Yang Kekal Abadi dan Tak Pernah Berakhir pula.

Namun lain dewa, lain manusia. Ia menerjemahkan suara itu sebagai “datta”memberi. Manusia haruslah belajar untuk memberi, untuk berbagi apa yang dimilikinya bersama sesama manusia, sesama makhluk.

Dengan cara memberi dan berbagi, manusia belajar untuk tidak menjadi egois, tidak hanya mementingkan diri.

Kesimpulan para raksasa atau danawa lain lagi : “dayaa” — kasihanilah, kasihilah

Tumbuh-kembangkan nilai yang satu ini di dalam diri. Kalian memang kuat, penuh tenaga, namun janganlah menggunakan kekuatan dan tenaga itu untuk mencelakakan makhluk lain.

Kekuatan datang dari status sosial, dari latar belakang pendidikan, pengetahuan, kedudukan, jabatan, nama keluarga, harta benda, dan lain sebagainya. Hendaknya, semua itu digunakan demi kebaikan semua, kebaikan masyarakat umum, tidak untuk menindas, menakut-nakuti, dan menzholimi orang.

Dulu, kita masih bisa memilih: mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau para raksasa, para danawa.

Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ke tiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam diri setiap insan. Dalam diri kita semua terdapat sifat-sifat malaikat, manusia dan raksasa.

Karena itu hendaknya kita mengembangkan ke tiga nilai luhur, dam, datta dan dayaa, pengendalian diri, memberi atau berbagi, dan mengasihani.

Bila bertemu dengan seorang yang telah berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu-nafsu rendahan, senang memberi atau berbagi, dan mengasihi tanpa memandang bulu, ciumlah tangan dia. Bertekuklututlah di hadapannya. Ia adalah Insan Kaamil, Manusia sempurna. Ia adalah Vishamitra, Sahabat Jagad Raya. Bersahabatlah dengan nya. Pergaulan dengan orang semacam itulah yang dapat menunjang kesadaran kita.