Beranda > Nasional > POTRET NEGERI YANG (KATANYA) BERADAB (TRAGEDI AHMADIYAH – CIKEUSIK)

POTRET NEGERI YANG (KATANYA) BERADAB (TRAGEDI AHMADIYAH – CIKEUSIK)

KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA kembali terjadi di bumi pertiwi tercinta ini. Kurang lebih sekitar satu minggu yang lalu, tepatnya hari minggu 6-2-2011 di Cikeusik, desa Umbulan Kabupaten Pandeglang, para Ahmadi (sebutan bagi anggota Ahmadiyah) diserang oleh ribuan orang, ditelanjangi, dipukul dengan batu, kayu, bahkan senjata tajam (Untuk melihat  rekaman videonya klik di sini).

Sesungguhnya pembantaian keji tersebut sudah terdeteksi jauh-jauh hari oleh pihak keamanan setempat. Ahmadiyah sudah berbulan-bulan menjadi polemik di Cikeusik. Pada November 2010, pimpinan Ahmadiyah Cikeusik Suparman sudah dipanggil ke Kecamatan Cikeusik dan diminta membubarkan kelompoknya.

Pihak keamanan pun sudah melakukan rapat untuk membahas kemungkinan terjadinya insiden tersebut. Pada Jumat, 4 Februari 2011, Polres dan Dandim Pandeglang melakukan rapat di ruang kerja Kapolres Alex Fauzi Razad. Rapat untuk menentukan nasib Suparman. Hingga pukul 22.00 WIB, rapat baru selesai (Baca berita selengkapnya di Varia Nusantara).

Apa sebenarnya yang menyebabkan hal-hal seperti ini begitu sering terjadi beberapa tahun terakhir ini ? Pantaskah, layakkah, pembantaian keji tersebut berlangsung, terlebih-lebih dilakukan dengan meneriakkan asma TUHAN ?

 

PENGALIHAN ISU NASIONAL

 

Kejadian ini menimbulkan berbagai spekulasi. Seperti yang di rilis oleh Kompas edisi Rabu 9 Februari 2011. Politisi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, menduga penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan kerusuhan di Temanggung, Jawa Tengah, yang berlatar belakang agama serta keyakinan sebagai pengalihan isu nasional.

Berikut petikan berita tersebut ;

Jika merujuk pada pola-pola yang terjadi hingga saat ini, menurut dia, ketika pemerintah tersudut pasti muncul kejadian-kejadian besar yang menghebohkan.

“Soal kejadian di Temanggung dan Banten itu, saya enggak yakin itu kejadian yang spontan dari masyarakat. Itu adalah orang-orang binaan. Kejadian yang ada akhir-akhir ini bukan suatu kebetulan. Ketika pemerintah terpojok, pasti ada gerakan, pembunuhan, dan pembakaran. Saya melihat ini sudah sebagai modus pengalihan isu,” kata anggota Komisi III ini, Rabu (9/2/2011) di Gedung DPR.

Menurut Bambang, pemerintah kini tengah merasa tersudut dengan sejumlah isu, seperti koin untuk Presiden, pernyataan pemerintah berbohong dari pemuka agama, dan rencana hak angket pajak serta dorongan terhadap kerja Tim Pengawas Century yang mulai digas kembali. (Baca berita selengkapnya di Varia Nusantara).

Sungguh keji jika memang tuduhan tersebut benar adanya. Tidak sedikit sebenarnya yang berspekulasi semacam itu, bahkan, saya sendiri sudah cukup lama mendengar dan membaca pernyataan-pernyataan yang senada dengan politisi Partai Golkar tersebut di sebuah jejaring sosial (Facebook).

 

INIKAH WAJAH ISLAM SESUNGGUHNYA ?

 

Sekjen FPI, Ust. Sobri Lubis, tegas mengatakan bahwa darah para Ahmadi ini halal ditumpahkan. Begitu entengnya dia mengucapkan kata, “ Bunuuuh, bunuuuh bunuuuhhhh !” Bahkan untuk lebih mempertegas pernyataannya tersebut dia mengatakan, darah para ahmadi ini tidak hanya halal, namun holol ! (Untuk melihat  rekaman videonya klik di sini).

FPI (Front Pembela Islam), seperti yang kita ketahui bersama adalah sebuah ormas yang mengaku sebagai pejuang syariat Islam. Sepak terjangnya sudah cukup kita kenal selama beberapa tahun terakhir ini.

Benarkah FPI ini cerminan dari Islam yang sesungguhnya ?

Pertanyaan tersebut sering terlontar dalam beberapa forum, juga di dalam sebuah jejaring sosial (Facebook) dengan berbagai dalih dan pembenaran versi masing-masing individu, seperti yang tampak di sini, dengan sumber penulisan note tersebut di sini.

Dalam note tersebut dimana dilengkapi dengan data-data dan dalilnya, memang terlihat cukup masuk akal, meski tetap saja ada bantahan dari beberapa orang yang memiliki pendapat dan pemahaman yang berbeda.

Berikut cuplikan dari note tersebut :

Seharusnya semua muslim setuju, bahwa:

  1. Tidak ada yang lebih mengerti Isi Qur’an daripada Muhammad
  2. Tidak ada orang kedua setelah itu yang boleh menyatakan telah mengerti ataupun menerima Qur’an dan
  3. Semua orang pada di jaman Nabi telah tiada, sehingga diperlukan hadis-hadis untuk lebih memahami maksud ayat2 di AQ.

Mengapa, hal ini penting disebutkan, karena Jalaluddin As Suyuti (wafat 1505, salah seorang pakar Quran yang paling dihormati) menyatakan sbb

Mengutip Ibn ‘Umar al Khattab :

“Janganlah ada diantara kalian yang mengatakan bahwa ia mendapatkan seluruh Quran, karena bagamana ia tahu bahwa itu memang keseluruhannya ? Banyak dari Quran telah hilang. Oleh karena itu, kalian harus mengatakan ‘Saya mendapatkan bagian Quran yang ada'” (As-Suyuti, Itqan, part 3, page 72)

The Itqan, part 2, p. 4, Suyuti states clearly,

“Muhammad’s companions, who are genuine Arabs, eloquent in language, in whose dialect the Qur’an was given to them, have stopped short in front of some words and failed to know their meanings, thus they said nothing about them. When Abu Bakr was asked about the Qur’anic statement ‘and fruits and fodder’ (8:31), he said, <span>‘What sky would cover me or what land would carry me if I say what I do not know about the book of God?’ ’Umar ibn al-Khattab read the same text from the rostrum, then he said, ‘This fruit we know, but what is fodder?’ Sa’id ibn Jubair was asked about the Qur’anic text in chapter 13 of Mary. He said, ‘I asked ibn ’Abbas about it, but he kept silent.</span>”’ (Itqan, part 2, page. 4)

***

Jadi, walaupun Allah telah mengatakan bahwa “telah Ku sempurnakan agamamu” namun pesan terakhir Nabi Muhammad menjelang wafatnya merupakan sesuatu hal yang sangat penting, karena merupakan rangkuman keseluruhan isi AQ dan inti dari ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Beliau-lah SATU-SATUnya manusia di muka bumi ini yang paling mengerti Al Quran yang diturunkanNya!

Pesan yang paling WAHID disampaikan oleh beliau sebelum wafat justru mengusir Pagan keluar dari zajirah Arab! Pesan itu disampaikan mendahului 2 pesan lainnya!

Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 288; Book 53, Number 393; Volume 5, Book 59, Number 716:

Narrated Said bin Jubair:

Ibn ‘Abbas said, “Thursday! What (great thing) took place on Thursday!” Then he started weeping till his tears wetted the gravels of the ground . Then he said, “On Thursday the illness of Allah’s Apostle was aggravated and he said, “Fetch me writing materials so that I may have something written to you after which you will never go astray.” The people (present there) differed in this matter and people should not differ before a prophet. They said, “Allah’s Apostle is seriously sick.’ The Prophet said, “Let me alone, as the state in which I am now, is better than what you are calling me for.” The Prophet on his death-bed, gave three orders saying, “Expel the pagans from the Arabian Peninsula, respect and give gifts to the foreign delegates as you have seen me dealing with them.” I forgot the third (order)” (Ya’qub bin Muhammad said, “I asked Al-Mughira bin ‘Abdur-Rahman about the Arabian Peninsula and he said, ‘It comprises Mecca, Medina, Al-Yama-ma and Yemen.” Ya’qub added, “And Al-Arj, the beginning of Tihama.”)

Dan kemudian, menurut hadis dan AQ berikut ini, ternyata kalimat itu bukan saja diperuntukan kepada kaum pagan, namun lebih tepatnya kepada KAUM KAFIR yang artinya adalah kepada non muslim di manapun Muslim ada, maka tidak ada tempat bagi KAFIR kecuali atas belaskasihan Islam dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Sahih Muslim:

Hadis Sahih Muslim, Ch 19, Book 019, Number 4366:

It has been narrated by ‘Umar b. al-Khattib that he heard the Messenger of Allah (may peace be upon him) say: I will expel the Jews and Christians from the Arabian Peninsula and will not leave any but Muslim.

Hadis Sahih Muslim, Ch 19, Book 019, Number 4364:

It has been narrated on the authority of Ibn Umar that the Jews of Banu Nadir and Banu Quraizi fought against the Messenger of Allah (may peace be upon him) who expelled Banu Nadir, and allowed Quraiza to stay on, and granted favour to them until they too fought against him Then he killed their men, and distributed their women, children and properties among the Muslims, except that some of them had joined the Messenger of Allah (may peace be upon him) who granted them security. They embraced Islam. The Messenger of Allah (may peace be upon him) turned out all the Jews of Medlina. Banu Qainuqa’ (the tribe of ‘Abdullah b. Salim) and the Jews of Banu Haritha and every other Jew who was in Medina.

 

DIMANAKAH SEHARUSNYA POSISI NEGARA DALAM KASUS SEPERTI INI ?

 

Negara kita adalah Negara Hukum yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bukan Negara Agama. Jadi mestinya, dalam memandang segala hal, Negara harus senantiasa berpijak dan berkaca pada Pancasila serta UUD 1945 sebagai sumber dari segala sumber Hukum di Indonesia. Urusan manusia dengan Tuhan, adalah tanggung jawab pribadi masing-masing dengan Tuhannya. Negara tidak berhak campur tangan. Oleh karenanya, para pendiri bangsa dahulu sepakat untuk mendirikan Negara ini sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Bukan berdasarkan salah satu Agama.

Tragedi kemanusiaan semacam ini tidaklah boleh terjadi lagi. Bukan hanya sekedar keprihatinan yang kita butuhkan. Lebih dari itu. Kita membutuhkan lebih dari sekedar rasa keprihatinan, jika kita masih menginginkan keutuhan Negeri ini.

Mestinya, jika kita sepakat bahwa Negara ini adalah Negara Hukum yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, Negara harus berdiri di atas segala paham golongan. Dan mestinya, Negara pun tidak berhak untuk menghakimi pihak ini adalah sesat, aliran itu adalah sesat, dan lain sebagainya. Tindakan tersebut adalah tindakan yang melanggar hukum Negara, jadi mesti ditindak sesuai hukum dan perundang-undangan yang berlaku tanpa memihak salah satu golongan.

Peristiwa tersebut adalah merupakan aksi kejahatan kemanusiaan. Dan ini sudah berulangkali terjadi di Negeri ini.

Cukup sudah bangsa dan negara ini menangis. Hentikan segala tindak kekerasan atas nama agama, jika Pemerintah memang memiliki itikad baik terhadap Bangsa dan Negara ini.

Pembubaran ormas pelaku tindak kekerasan tidaklah cukup menghentikan semua ini. Yang diperlukan adalah tekad dan tindakan nyata untuk menegakkan Hukum di NKRI ini tanpa pandang bulu, sehingga tercipta pemerintahan Republik Indonesia yang bersih dan berwibawa …

 

Baca berita-berita terkait lainnya di Varia Nusantara, atau klik di sini.

  1. terlantar
    22 Februari 2011 pukul 1:59 pm

    dah lama g mampir, mampir baca2 om?

  2. 8 Maret 2011 pukul 8:07 am

    makin lama negri ini makin amburadul. eh, maaf komentarnya kasar.
    seharusnya pemerintah bisa bersikap tegas.

  3. 24 Maret 2011 pukul 2:18 pm

    Iya nih, keliatan banget pemerintah kurang tegas dalam membela warganya…

    masak ngebubarin FPI aja ga beres2… atau FPI dipelihara biar….:mrgreen:

    Salam kenal ah Mas Elang😛

  1. 13 Februari 2011 pukul 8:09 am
  2. 13 Februari 2011 pukul 8:12 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s