Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 7-8)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 7-8)

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA

7. Seek the Self with consistent endeavour (Temukan Diri-mu dengan upaya sungguh-sungguh)

Inilah jihad sesungguhnya : Jihad untuk mempertemukan kita dengan diri sendiri. Inilah yang mendatangkan kebahagiaan, karena jihad yang satu ini mempertemukan kita dengan Sumber Segala Kebahagiaan di dalam diri kita ; kebahagiaan yang tidak membutuhkan pemicu-pemicu dari luar ; kebahagiaan kekal, abadi, sekekal diri kita, seabadi diri kita. Kebahagiaan itulah jati diri kita. Itulah sifat dasar kita.

Apa yang disebut jati diri sesungguhnya bukanlah jati diri-“mu” atau jati diri-“ku”—tetapi hanya jati diri. Titik. Jati diri adalah esensi kehidupan, inti sari kehidupan ; titik awal dan titik akhir kehidupan. Dua, tapi satu, karena kehidupan melingkar … dan titik darimana ia berawal juga menjadi titik dimana ia berakhir untuk memulai kembali perjalanannya. Sebesar dan seluas apapun lingkaran hidup, ia berawal dan berakhir di titik yang sama. Ia bermula dari satu titik, dan berakhir di satu titik. Satu titik yang sama.

Kita memperoleh kesan bahwa jarak antara titik awal dan “sekaligus” titik akhir itu merupakan lingkaran kehidupan yang sangat luas, padahal “keluasan” itu hanya ilusi. Keluasan itu adalah ciptaan satu titik. Dalam “satu titik” itu pula kita semua bertemu.

Saya bertemu dengan anda ; Anda bertemu dengan saya. Kita semua bertemu dengan semua. Kendati demikian, sesungguhnya pertemuan itu pun hanya sekedar ilusi, karena kita tidak prnah berpisah. Kita dipersatukan oleh titik awal sekaligus akhir itu. Titik yang sama mempersatukan kita dengan jagat raya.

Marilah bersungguh-sungguh dalam upaya kita untuk menemukan titik ini di dalam diri. Titik ini tidak ada di luar diri ; ia berada di dalam diri kita ; dalam sanubari kita, nurani kita, kesadaran serta pencerahan diri kita, sekaligus sumber segala keilahian dan kemuliaan di dalam kita.

Marilah bersungguh-sungguh, karena kita membutuhkan energi yang luar biasa untuk menemukan kembali apa yang sesungguhnya tidak pernah hilang itu. Kenapa demikian ? Kenapa justru di butuhkan energi yang luar biasa untuk menemukan sesuatu yang tidak pernah hilang ? Karena “kehilangan” itu terjadi dalam pikiran kita. Kehilangan itu adalah ilusi pikiran kita. Untuk menemukan kembali apa yang “terasa” hilang itu, kita harus menaklukkan perasaan kita sendiri. Kita harus mengoreksi sendiri pikiran kita.

Dalam segala hal yang lain, panca indera membantu kita. Dalam penemuan jati diri, panca indramu justru harus di istirahatkan. Perjalanan yang satu ini harus ditempuh sendiri. Tidak ada bantuan dari luar. Yang ada hanyalah diri Anda, perjalanan Anda, pencarian Anda, dan penemuan Anda …. Anda, Anda, Anda, Anda … Itulah Diri Anda !

Berupayalah dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten. Jangan menyerah dalam perjalanan. Lanjutkan perjalanan Anda, pencarian Anda, perjuangan Anda … Anda pasti berhasil. Anda pasti menemukan apa yang Anda cari. Tidak ada pilihan lain, tidak ada opsi lain. Apa yang anda rasakan sebagai kegagalan hanyalah sebuah pengalaman saat Anda berhenti sebentar, saat Anda menghentikan pencarian Anda untuk sesaat. Anda tidak bisa gagal, karena Anda tidak bisa berhenti lama-lama. Roda Sang Kala berputar terus. Kehidupanpun berlanjut, dan Anda adalah bagian dari kehidupan itu … Anda tidak bisa berhenti. Pemberhentian Anda pun hanyalah sebuah ilusi.

8. Escape from the bondage of “home” (Janganlah diperbudak oleh keterikatanmu)

Ayat ini tidak dimaksudkan bagi para pengecut. Mereka yang tidak bernyali dan tidak berani menghadapi tantangan hidup menggunakan ayat ini untuk membenarkan pelarian mereka dari tantangan dan tanggung jawab. Ayat ini ditujukan kepada para pemberani. Kepada mereka yang berani menghadapi segala tantangan hidup.

Pesan Sang Acharya, Sang Guru Besar yang mengajar dari pengalaman sendiri amat jelas : Bebaskan dirimu dari keterikatan : Janganlah kamu diperbudak oleh keterikatanmu, karena keterikatan dalam bentuk apapun sudah pasti berakhir dengan duka.

Yang dimaksud adalah keterikatan pada pengalaman tertentu ; keterikatan pada benda-benda tertentu ; keterikatan pada orang-orang tertentu.

Ada yang pernah bertanya ; “Bagaimana dengan keterikatan kepada Tuhan ? Apakah itu pun harus dilepaskan ?” Pertanyaan seperti ini tidak relevan, dan inipun hanya permainan ilusi. Tidak ada urusan ikat mengikat antara bulan dan rembulan, antara kelembuatn dan air, antara panas dan api, antara gerakan dan angin. Keberadaan manusia semata karena Yang Maha Ada, karena Sang Keberadaan.

Hubungan manusia dengan Tuhan bukan karena keterikatan. Manusia ada karena “keberadaan” Tuhan. Keberadaan Tuhan “terasa” karena adanya manusia. Rembulan ada karena “keberadaan” bulan. Keberadaan bulan “terasa” karena rembulannya. Manusia tidak bisa terikat dengan Tuhan, pun tidak tergantung pada Tuhan,karena keterikatan dan ketergantungan hanya akan memisahkan dirinya dari Tuhan. Ia ada karena Tuhan.

“Janganlah diperbudak oleh keterikatanmu” berarti “Janganlah berhenti mengalir”. Mengalirlah terus, berjalanlah terus, berkaryalah terus, janganlah engkau duduk diam.

Janganlah terikat dengan dunia benda, dengan timbunan harta yang telah Anda kumpulkan, dengan kawan dan lawan, dengan keluarga dan kerabat. Gunakan apa yang telah diberikan kepada Anda tanpa keterikatan. Cintai keluarga Anda tanpa keterikatan. Hadapilah musuh-musuh Anda tanpa rasa benci, karena kebencian pun merupakan salah satu bentuk keterikatan. Kebencian pun dapat memperbudak dan melemahkan jiwa.

(Bersambung)

  1. abinahasya
    2 Februari 2011 pukul 3:25 pm

    bagus mas, inspiring! salam kenal ya

    • 2 Februari 2011 pukul 4:14 pm

      Tks byk sobat, atas kunjungannya …
      Salam kenal juga …🙂

  2. 4 Februari 2011 pukul 3:55 am

    Andai saya bisa tidak terikat pada apapun atau siapapun… Andai… Sulit… Ah, saya memang pengecut…

    • 4 Februari 2011 pukul 6:55 am

      Memang tidak mudah sobat … Saya sendiri, utk hal2 tertentu, juga belum bisa terbebas …

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s