Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 4-6)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 4-6)

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA


4. Renounce all desires in the mind (Bebaskan pikiranmu dari segala macam keinginan)


Bukan saja keinginan untuk mendapatkan kedudukan dan ketenaran di dunia, keinginan untuk memperoleh kapling di surga pun masih keinginan ; keinginan untuk mati syahid pun keinginan ; keinginan untuk menemukan Tuhan pun keinginan. Sesungguhnya keinginan-keinginan kita itu justru memisahkan kita dari-Nya. Keinginan untuk menemukan Tuhan justru menghilangkan Tuhan dari hidup kita, karena kita tidak dapat menemukan sesuatu yang tidak hilang. Hilangnya Tuhan dari hidup kita betul-betul karena keinginan kita untuk menemukan-Nya. Ajaib !

Bagaimana kita dapat mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, bagaimana sembah sujud kita dapat diterima oleh-Nya, bagaimana ibadah kita memperoleh makna, bila semua itu kita lakukan dengan keinginan untuk memperoleh imbalan !

Persembahan haruslah tanpa pamrih. Ibadah haruslah untuk memuliakan-Nya. Sujud semata-mata karena terpesona oleh kebesaran-Nya.

Kendati demikian, jangan menjadikan semua ini persoalan agama semata. Terjemahkan semuanya dalam keseharian hidup. Bekerja bukan untuk memperkaya diri, tetapi karena dunia ini adalah sebuah perusahaan milik-Nya. Kita senang dan bahagia karena memperoleh kesempatan sebagai pekerja. Tiba-tiba atasan kita pun berubah menjadi wakil-Nya. Dan, ketakadilan yang selama ini kita rasakan lenyap dalam sekejap. Apaun terjadi atas kehendak-Nya. Apalagi yang harus dikeluhkan ?

Berkaryalah dengan penuh semangat, dan yakinilah kebijakan-Nya. Ia tahu persis apa yang kita butuhkan, apa yang baik bagi diri kita. Ia akan melengkapinya sendiri tanpa kita minta. Jangan ragu, jangan bimbang, janganlah sekali-sekali menyangsikan hal ini.

Keraguan kita, kebimbangan kita, kesangsian kita adalah dosa terbesar. Itulah kesalahan kita yang terbesar. Karena dalam keraguan itu kita menyangsikan kebijaksanaan-Nya ; karena dalam kebimbangan itu kita tidak percaya ketentuan-Nya bagi kita.

Karena itu :

5. Wash away the hoards of sins in the bosom (Bersihkan dirimu dari segala macam dosa)


Dosa berarti kesalahan, kekhilafan. Tindakan berdosa adalah tindakan yang salah, sesuatu yang kita lakukan dalam kekhilafan. Dan, biasanya jiwa yang ragu dan khilaf adalah jiwa yang kehilangan arah, maka tindakannya sudah pasti salah. Kenapa ? Karena, terlebih dahulu pikirannya sudah kacau. kekmudian, kekacauan pikiran itulah yang menjelma menjadi tindakan yang salah, keliru, tidak pada tempatnya.

Dosa memang keslahan, tetapi bukan tidak dapat diperbaiki. Dosa memang kekhilafan, tetapi bukanlah sesuatu yang tidak dapat di ralat. Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi. Saya tidak suka menyebutnya bui atau penjara, tapi pusat rehabilitasi di mana setiap jiwa sedang menjalani program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya.

Keberadaan kita dalam dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan serta perkembangan jiwa. Kecocokan programpun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita pada keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun para lawan atau musuh kita. Sesungguhnya semua bertindak sesuai dengan ketentuan-Nya.

Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa. Semuanya demi kemajuan jiwa. Semuanya demi perkembangan diri kita sendiri.

Karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam ; bukan dengan cara menyalahkan orang lain.

Bila musuh menyerang dengan pedang, dan terpaksa kita hadapi dengan pedang, mari kita hadapi tanpa rasa benci. Dengan demikian tindakan kita terbebaskan dari dosa. Bertindaklah dengan penuh kesadaran dan kematangan jiwa, “Ya Allah, Ya Rabb, tak ada jalan lain bagiku kecuali mengangkat pedang dan membalas serangannya … maka biarlah pedang ini berada di tanganku selama masih ada kesadaran di dalam diriku.”

Hadapi pedang dengan pedang bila yang dipertaruhkan adalah kuil dirimu, karena kuil itu pemberian-Nya ; karena kuil itu diamanatkan kepadamu ; karena oleh-Nya kuil itu diserahkan kepadamu untuk dijaga dan dirawat. Bila akhirnya kuil itu pun hancur, maka terimalah hal itu sebagai Kehendak-Nya.

Membersihkan diri dari segala macam dosa berarti membebaskan diri dari segala yang membebani jiwa ; beban pahala, maupun beban dosa itu sendiri. Keinginan untuk memperoleh pahala dan rasa berdosa adalah beban yang paling berat. Itulah beban yang dapat menghentikan perkembangan jiwa. Pujangga besar India, Svami Vivekananda berkata, “Merasa dirimu berdosa itulah dosa yang paling besar.” Kita telah melakukan kesalahan, kekhilafan – baiklah ; itu bukan akhir dunia. Kita dapat memperbaiki kesalahan itu. Daripada menangisi perbuatan yang sudah berlalu, lebih baik menyadarkan diri supaya kesalahan yang sama tak terulangi.

Membersihkan diri dari segala macam dosa berarti membebaskan diri dari rasa bersalah melulu. Perasaan seperti itu tidak membantu. Perasaan seperti itu mematahkan semangat, menguras energi sedemikian rupa, sehingga tidak tersisa sedikitpun untuk melanjutkan perjalan hidup yang masih panjang.

Sekali lagi — dosa adalah kesalahan, kekhilafan — dan kita dapat memperbaikinya, dengan cara …..

 

6. Recognize that the pleasures of sense-objects (samsaar) are riddled with pain (Ketahuilah bahwa segala kenikmatan yang kau peroleh lewat inderamu diselimuti oleh duka)

 

Inilah penyebab dosa. Inilah sebab kesalahan dan kekhilafan. Mempercayai kenikmatan yang kita peroleh lewat indera, dan menganggap kenikmatan itu menghasilkan suka adalah kesalahan atau kesalahpahaman kita.

Kenikmatan yang diperoleh lewat indera adalah hasil interaksi kita dengan hal-hal di luar diri, dengan pemicu-pemicu luaran. Tanpa pemicu itu, tidak ada kenikmatan. Panca indera sendiri tidak dapat menghasilkan sesuatu tanpa pemicu, atau intervensi dari pihak lain.

Karena itu, segala kenikmatan yang diperoleh lewat panca indra tidak mungkin bertahan lama. Sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Saat ini suka, sesaat kemudian duka ; bahagia dan sengsara ; tawa dan tangis. Demikianlah satu pengalaman menggantikan pengalaman yang lain. Inilah samsaara, pengulangan yang tak berkesudahan. Kata ‘sengsara’ dalam bahsa kita berasal dari samsaara, pengulangan yang menjenuhkan, membosankan, menyengsarakan. Alhasil ; duka, duka dan hanya duka. Lambat laun pengalaman sukapun tak dapat membahagiakan, karena kita sadar bahwa ia berlangsung sesaat saja.

Kalau begitu, apa yang sepantasnya kita cari ? Jawabannya …..

 

(Bersambung)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s