Beranda > Ngelmu Manca > 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 1-3)

5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 1-3)

Saduran dan ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh : ANAND KRISHNA


1. Study the Vedas daily (Pelajarilah Veda setiap hari)

 

Veda berarti “Pengetahuan”, pengetahuan yang senantiasa berkembang, pengetahuan yang maju dan memajukan ; pengetahuan yang tidak kaku, tidak baku ; pengetahuan yang tidak mengerdilkan jiwa. Hanya “pengetahuan” macam itu yang dapat dipelajari setiap hari ; ditekuni dan didalami dari hari ke hari. Veda bukanlah dogma dan doktrin yang tidak dapat di ganggu gugat. Veda bukanlah dogma, bukan doktrin. Veda tidak memperbudak manusia. Veda tidak menjerat jiwa, tapi membebaskan jiwa manusia.

Mempelajari Veda berarti mempelajari diri, mempelajari potensi diri, kemampuan diri ; melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Pengetahuan yang dimaksud bukanlah untuk pengetahuan mengenai hal-hal di luar diri, tetapi pengetahuan mengenai segala yang ada di dalam diri.

Berbeda dari pemahaman umum, Veda bukanlah sekedar kumpulan buku-buku yang di sucikan oleh kalangan tertentu. Veda adalah kesucian itu sendiri, yang pengetahuan tentangnya kemudian di bukukan. Karena itu, Veda tidak perlu di sucikan. Pengetahuan tentang diri itulah Veda. Itulah pengetahuan sejati. Itulah kesucian.

Ayat di atas mengajak kita untuk mengenal diri. “Kenalilah dirimu, karena ia yang mengenal dirinya mengenal Tuhan” demikian kata para pujangga Arab jaman dulu. Tak ada pengetahuan yang lebih tinggi daripada pengetahuan tentang diri. Sama pula yang dikatakan oleh pujangga Yunani masa silam.

Dapatkah kita menjelaskan persamaan ini ? Para pujangga di India, China, Timur Tengah mengatakan hal yang sama. Kenapa ? Apakah urusannya sekedar sontek-menyontek ? Tidak. Itu terjadi karena mereka semua menempuh perjalanan yang sama. Mereka semua meniti jalan ke dalam diri.

Karena itu Muhammad tidak bertentangan dengan Isa, dengan Musa, dengan Ibrahim. Mereka berdiri bersama. Tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi. mereka juga berdiri bersama Siddharta, Krishna dan Lao Tze. Mereka semua mengajak untuk menengok ke dalam diri. Mereka mengajak kita setelah sebelumnya mereka sendiri melakukan hal yang sama, sehingga penemuan mereka sama.

Tidak demikian dengan para “calo agama” dan “penafsir sah kitab-kitab suci” masa kini. Barangkali mereka tidak pernah menengok ke dalam diri, dan mata mereka melihat ke luar saja, sehingga hanya perbedaan yang terlihat oleh mereka. Dengan cara pandang seperti itu, mereka membaca dan berupaya untuk menafsirkan ayat-ayat suci, maka sia-sia lah segala upaya mereka. Kesucian ayatpun tertutup oleh ketaksucian cara pandang mereka.

Pernah ada, dan saya kira masih ada yang akan bilang, “Inilah kebenaran ; demikianlah penglihatanku. Tak ada kebenaran lain di luar apa yang terlihat olehku. “ Kelantangannya menunjukkan bahwa ujung jubah kebenaranpun belum terjamah olehnya.

Klaim dan monopoli serupa atas kebenaran kadang dilakukan pula oleh orang yang tidak merasa perlu untuk berteriak lantang. Mereka sangat sopan. Sebuah senyuman siap saji, selalu menghiasi wajah mereka. Dan, kita pun terkecoh. Barangkali ia telah menemukan Kebenaran Mutlak itu. Barangkali klaim akan kemutlakannya itu benar. Barangkali itulah Kebenaran. Kita terbawa oleh senyuman dan kelemah-lembutan mereka sebagaimana rakyat Jerman pernah terbawa oleh semangat Hitler yang berapi-api.

Mempelajari Veda, dan berbagai kitab suci, bila tanpa menyelam ke dalm diri, hanya akan memberi kta kesibukan baru. Pikiran dan intelek pun terhibur. Sungguh menyenangkan ; pikiran puas dan kita berhenti pada tahap mempelajari saja. Kita menjadi pelajar profesional. Menuntut ilmu hingga memasuki liang kubur adalah proses yang bagus, tetapi jangan lupa bahwa ilmu yang sudah dituntut itu masih perlu dipraktekkan. Bila tidak, untuk apa menuntut ilmu ? Pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri, ia harus ditindaklanjuti dengan praktik, dengan laku.

 

2. Perform diligently the duties (karma) ordained by them (Laksanakan dengan baik apa saja yang dianjurkan olehnya)

 

Berarti : Bertindaklah sesuai dengan pengetahuan sejati itu, sesuai dengan potensi diri, sesuai dengan kemampuan ; dan jagalah kesucian setiap tindakan.

Ada dua hal yang sangat penting dalam ayat ini. Pertama, bertindaklah sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Veda, oleh pengetahuan sejati yang berasal dari dalam diri anda jua. Dalam bahasa modern, dalam bahasa Stephen Covey misalnya, “Ikutilah Suara Hatimu”. Sebelumnya agama-agama sudah menganjurkan supaya Suara Nurani selalu diperhatikan. Bahkan diutamakan, karena itulah Suara Allah, Itulah Pesan Keberadaan bagi kita.

Ke dua, laksanakan dengan baik. Tidak cukup menjaga “kesucian” setiap tindakan. Tidak cukup pula memastikan “kebaikan” setiap tindakan. Setiap tindakan yang baik dan suci pun masih harus dilaksanakan dengan baik.

Kita harus memiliki kemampuan dan keahlian untuk itu. Tidak bisa sembrono, tidak bisa melakukan sesuatu hanya karena harus melakukannya, hanya karena ada kewajiban untuk itu, hanya karena di bayar atau di gaji untuk itu. Tidak bisa. Laksanakan dengan baik, dengan sebaik mungkin cara !

Hal pertama terkait dengan sifat tindakan, hal ke dua terkait dengan cara bertindak.

Allah memang Maha Suci dan Maha Baik adanya, namun mampukah kita merasakan kesucian-Nya setiap saat ? Mampukah kita menerjemahkan kebaikan-Nya dalm hidup sehari-hari ?

Bagaimana menentukan apa yang suci dan apa yang tidak … bagaimana memastikan apa yang baik dan apa yang tidak ?

Jadikan Tuhan sebagai yardstick, sebagai tolok ukur. Jadikan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sebagai Penentu dan Penilai setiap tindakan. Dengan cara apa ?

Dengan cara :

 

3. Dedicate all those actions (karma) as worship unto the Lord (Jadikan setiap tindakan sebagai persembahan kepada Yang Maha Kuasa)

 

Dengan cara “menjadikan setiap tindakan sebagai persembahan”. Inilsh tolok ukur yang mesti dipakai.

Dari pagi hingga malam, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, sejak membuka mata hingga memejamkannya, menyangkut hal-hal sepele, hingga kegiatan-kegiatan besar dan penting, lakukan itu sebagai persembahan.

Bukalah mata bagi Kebesaran dan Keagungan Illahi. Berusahalah untuk melihat langit luas nan tak terbatas, tak berbingkai. Ia Yang Maha Luas jauh lebih luas daripada langit yang luas itu – Maha Besar Allah, Maha Suci Rabb !

Saat membuang air besar atau kecil, niatkan dalam hati ; “Kuli-Mu ini tengah kubersihkan bagi-Mu, ya Allah ! Berkenanlah untuk senantiasa bersemayam di dalamnya.”

Bersemangatlah saat menggosok gigi, saat cuci muka, saat mandi, saat membersihkan tubuh, karena sesaat lagi kita akan berjumpa dengan-Nya. Kita akan bertatap muka dengan-Nya di tengah masyarakat. Bukankah wajah=Nya ada di mana-mana ? Di Barat, di Timur, di Utara, di Selatan.

Bukan saja makanan dan minuman, tetapi bacaan, pikiran, perasaan … persembahkan semuanya kepada Dia … namun, sebelumnya bertanyalah kepada diri anda sendiri, “Patutkah kupersembahkan semua itu kepada-Nya ?”

Bila kita belum memiliki kasih, janganlah berpura-pura … Persembahkan apa yang anda miliki, termasuk segala kebencian yang selama ini bersarang di dalam hati dan kalbu anda, lalu dengan jujur berucap, “Ya Allah, hanyalah ini yang ku miliki. Tak ada sesuatu lain yang berharga … Tak sesuatu apapun lagi yang kumiliki … berkenanlah untuk  menerima apa yang ku miliki ini.” Dan, anda pun akan kaget sendiri bahwa dalam kejujuran itu kebencian anda seketika berubah menjadi cinta.

Mari kita jadikan setiap tindakan sebagai persembahan kepada Yang Maha Kuasa, tanpa mencari pembenaran terhadap kejahatan yang kita lakukan atas nama agam dan pemahaman kita yang sempit tentang keagamaan.aksi bom bunuh diri bukanlah persembahan kepada Yang Maha Kuasa. Para pembom melakukan demi surga, demi mati syahid, demi para provokator yang meracuni otak mereka. Aksi-aksi jahanam seperti itu dari awal sudah tidak merupakan persembahan. Niat di balik aksi itu sudah menghianati kepercayaan-Nya terhadap kita sebagai Khalifah, sebagai pemegang amanah, sebagai wali bagi dunia ini.

Ia menginginkan kita berlaku sebagai pemelihara, pelestari, penjaga, tetapi kita malah menjadi perusak. Ia menginginkan supaya kita membawa berkah, tetapi kita malah menyebabkan bencana. Seorang penjahat berdarah dingin membunuh banyak orang atas nama agama dan Tuhan, tanpa mengetahui arti agama, tanpa menyelami keagungan serta kebesaran Tuhan. Apa yang dia ketahui tentang agama dan tentang Tuhan ? Ia bertindak “karena” sesuatu … dan “karena” itulah yang membuat jiwanya tidak kembali ke asal. Berasal dari Allah, ia kembali ke dunia, tidak kembali ke Allah. Berasal dari Ketinggian Tak Terhingga, ia merata dengan tanah, malah menjadi makanan cacing-cacing di bawah tanah. Jiwanya gentayangan ke mana-mana, hingga ia tersadarkan bahwa hanya pertobatan yang dapat membebaskannya.

Belajar dari kecelakaan dan nasib mereka yang mengenaskan, hendaknya kita :

(Bersambung)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s