Beranda > Falsafah Jawa > BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN VIII

BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN VIII

Putrinya : Wah, kayaknya bapak lagi gak sibuk, ya … ?! Kapan nih, lanjutan wedhatamanya ?

Bapak : Hehehe … Iya, ndhuk. Maaf ya, ndhuk, kebetulan akhir2 ini bapak lg banyak urusan, jd wedhatamanya agak terbengkalai, nih … Lha kamu sela nggak, ndhuk ? Kalau sela, sekarang juga bisa lanjutannya …

Putrinya : Iya, bapak. Ini kan malam minggu, masak bapak lupa …

Bapak : Ya wis, kalau begitu, mumpung malam minggu, di lanjutkan sampai selesai saja, ya … Ini lanjutannya ;


Gambuh


48) Samengko ingsun tutur, / Sembah catur supaya lumuntur, / Dhihin raga, cipta, jiwa rasa, kaki, / Ing kono lamun tinemu, / Tandha nugrahaning Manon.

(Sekarang saya berkata, / Empat buah sembah supaya kamu tahu, / Pertama: Raga, Cipta, Jiwa, dan Rasa, anakku, / Di situlah, kamu bakal melihat, / Tanda kebesaran Tuhan).

49) Sembah raga punika, / Pakartine wong amagang laku, / Susucine asarana saking warih, / Kang wus lumrah lintang wektu, / Wantu wataking weweton.

(Sembah raga itu, / Perbuatan orang yang baru magang / Sucinya dengan air, / Yang sudah biasa lima waktu, / Itu merupakan sifat aturan).

50) Inguni uni durung, / Sinarawung wulang kang sinerung, / Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit, / Mintokken kawignyaipun, / Sarengate elok-elok.

(Dahulu belum pernah, / dikenalkan dengan pelajaran yang mendalam, / Baru sekarang ada bangsa yang bersemangat, / memperlihatkan rekaan-rekaannya, / dengan cara yang aneh-aneh).

51) Thithik kaya santri Dul, / Gajeg kaya santri brai kidul, / Saurute Pacitan pinggir pasisir, / Ewon wong kang padha nggugu, / Anggere padha nyalemong.

(Seperti santri Dul, / kalau tidak salah santri daerah selatan, / di sepanjang tepi pantai Pacitan, / Ribuan orang percaya, / aturan yang asal diucapkan).

52) Kasusu arsa weruh, / Cahyaning Hyang kinira yen karuh, / Ngarep-arep urub arsa den kurebi, / Tan wruh kang mangkono iku, / Akale kaliru enggon.

(Tergesa-gesa ingin segera tahu, / Mengira kenal dengan Cahaya Tuhan, / Berharap-harap akan bisa menguasainya, / Tanpa tahu bahwa hal itu, / pendapat yang keliru).

 

Bapak : Nah, di sini sudah semakin jelas, ndhuuuk, apa benar ajaran Wedhatama ini ajaran agama tertentu atau bukan. Memang di sini Sri Mangkunegara IV memperkenalkan empat macam sembah, yaitu ; Sembah raga, Sembah Cipta, Sembah Jiwa dan Sembah Rasa. Namun sebenarnya beliau bermaksud MEMBANDINGKAN dari ke empat macam sembah itu. Sebenarnya jika mau sungguh-sungguh mengerti maksud Sri Mangkunegara IV ini, tanpa mencermati kalimat-kalimatnyapun kalau mau jujur kamu pasti akan mengerti kemana arah pembicaraan beliau …. Kalau mau jujur, lho …

Meski begitu, baiklah, bapak jelaskan :

Menurut Sri Mangkunegara IV, sembah raga itu bagai orang yang baru magang, ndhuk, belum di terima sebagai pegawaidurung ketrima sembahe … Ya ibaratnya orang magang itu, ndhuk … Nanging ewa semana kementhuse ora karuwanmitenah wong Jawa ini dengan berbagai macam tuduhan. Mereka mengira sudah benar-benar mengenal Tuhan dengan cara sembahyangnya yang sarengate elok-elokpating calemong anggone omongnanging ya padha nggugu dan ngarep-arep urub den kurebi, padahal pemahaman mereka mereka itu keliru … Lanjutannya ;

 

53) Yen tan jaman rumuhun, / Tata titi tumrah tumaruntun, / Bangsa srengat tan winor lan laku batin, / Dadi nora gawe bingung, / Kang padha nembah Hyang Manon.

(Bila di zaman dulu, / diatur sebaik-baiknya dari awal hingga akhir (berurutan), / Bagian syariat tidak dicampur dengan ulah batin, / Sehingga tidak membingungkan, / Bagi yang menyembah Tuhan).

54) Lire sarengat iku, / Kena uga ingaranan laku, / Dhingin ajeg kapindone ataberi, / Pakolehe putraningsun, / Nyenyeger badan mrih kaot.

(Syariat itu, / bisa juga disebut laku, / Pertama dilakukan dengan tetap, kedua dengan tekun, / Hasilnya anakku, / menyegarkan badan agar kuat/sehat).

 

Namun begitu, sembah raga itu bisa juga di sebut laku, ya setidak-tidaknya bisa menyegarkan badan agar kuat, ya etung-etung olah raga lah, ndhuuuk …

Putrinya : Hehehe … Bapak nih …

Bapak : Lhoo … Memang begitu to, arti dari kalimat-kalimatnya ? Ini kelanjutannya ;

 

55) Wong seger badanipun, / Otot daging kulit balung sungsum, / Tumrah ing rah memarah

antenging ati, / Antenging ati nunungku, / Angruwat ruweding batos.

(Orang yang segar (sehat) badannya, / otot, daging, kulit, tulang dan sumsum, /

Memengaruhi darah dan menenangkan hati, / Tenangnya hati membakar, / melenyapkan

pikiran yang kisruh).

56) Mangkono mungguh ingsun, / Ananging ta sarehne asnafun, / Beda-deda panduk panduming dumadi, / Sayektine nora jumbuh, / Tekad kang padha linakon.

(Begitulah bagiku, / Namun karena setiap orang itu berbeda, / Berlainan nasib dan petunjuk / Sesungguhnya tidak selalu sesuai, / tekad yang dilaksanakan itu).

 

Nah, orang yang seger badannya, sehat badannya, otot, daging tulang dan sumsum, itu bisa menenangkan hati, dan ketenangan itu bisa menghilangkan keruwetan dalam pikiran … Namun karena setiap orang atau bangsa itu berbeda-beda ya semua kembali kepada tekad masing-masing …

 

57) Nanging ta paksa tutur, / Rehne tuwa-tuwase mung catur, / Bok lumuntur lantaraning reh utami, / Sing sapa temen tinemu, / Nugraha geming kaprabon.

(Tetapi memaksa diri memberi petuah, / karena sebagai orangtua kewajibannya hanya berpetuah, / Siapa tahu dapat diwariskan sebagai pengantar aturan yang baik, / Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan, / anugerah yang bermanfaat bagi kerajaan).

 

Meski begitu, beliau, Sri MN IV ya terpaksa menuturkan, karena beliau merasa sudah tua dan bisanya hanya bercerita, eee, siapa tahu petuah-petuahnya bisa berguna …

 

58) Samengko sembah kalbu, / Yen lumintu uga dadi laku, / Laku agung kang kagungan Narapati, / Patitis tetesing kawruh, / Meruhi marang kang momong.

(Sekarang sembah kalbu, / Jika terus menerus dilakukan juga menjadi laku, /  laku agungnya sang raja, / (bila) tepat tumbuhnya ilmu ini, / dapat bertemu dengan yang momong).

59) Sucine tanpa banyu, / Mung nyunyuda mring hardaning kalbu, / Pambukane tata titi ngatiati, / Atetep telaten atul, / Tuladan marang waspaos.

(Sucinya tanpa air, / Hanya dengan mengurangi nafsu di dalam kalbu, / Mulainya dengan sikap yang baik, awas dan berhati-hati, / Tetap, telaten dan menjadikannya kebiasaan, / Meneladani kewaspadaan).

60) Mring jatining pandulu, / Panduk ing ndon dedalan satuhu, / Lamun lugu legutaning reh maligi, / Lageane tumalawung, / Wenganing alam kinaot.

(Pada penglihatan yang sejati, / guna mencapai tujuan yang benar, / Jika lugu segala kebiasaannya yang khusus, / ciri khasnya: keadaan sayup-sayup sampai, / Terbukanya alam yang lain)

61) Yen wus kambah kadyeku, / Sarat sareh saniskareng laku, / Kalakone saka eneng ening

eling, / Ilanging rasa tumlawaung, / Kono adiling Hyang Manon.

(Bila sudah mengalami seperti itu, / Penuh kesabaran dalam segala tindak tanduk, / Terlaksananya dengan cara tenang, hening, namun tetap sadar, / Hilangnya rasa sayup sampai, / Itulah keadilan Tuhan).

 

Sekarang sembah kalbu, ndhuk. Ini juga sembah, juga laku, malah kagunganepara Raja … Kalau kamu lakukan, kamu malah bisa ketemu dengan sing momong

Kalu ini sucinya gak pakai air, ndhuk, cukup dengan mengendalikan hawa nafsu di dalam kalbu, dan di lakukan dengan cara tata, titi, ngati-ati, tetep telaten nganti atul. Terus menerus dilakukan hingga menjadi atul, menjadi kebiasaan. Nah, jika sudah atul, kamu akan mendapatkan penglihatan sejati, dimana terbukanya alam tersebut adalah pada keadaan sayup-sayup sampai. Di situ rasanya mengantuuuuk sekali, namun jangan sampai tertidur. Kalau sudah sampai disitu, sekarang tinggal kesabaran kita, tercapainya ke keadaan yang kita inginkan hanya dengan cara eneng, ening lan eling itu tadi ndhuk …

Nah, dari dua macam sembah ini saja sudah kelihatan ndhuk, perbedaannya. Sembah yang pertama itu bak orang olah raga, kayak orang magang, hny untuknyenyeger badan mrih kaot, sedangkan sembah ke dua ini jika kamu lakukan kamu malah bisa ketemu dengan yang momongMula aja kementhusan ndhuk, sing kok bangga-banggaake iku durung sepiraa, belum seberapa. Oleh karenanya Sri MN IV menyarankan di tembang terdahulu : Sethithik bae wus cukup, aja ngguru aleman, nelad kas ngepleki pekih. Nggak usah banyak-banyak bahkan hingga mau meniru nabi. Ooo, kadohan panjangkahmu, ndhuk, ndhuuuk … Kur mengkono wae koq arep paksa ngangkah mek kawruh ing Mekkah … Iki bacutane, ndhuk ;

 

62) Gagare ngunggar kayun, / Tan kayungyung mring ayuning kayun, / Bangsa anggit yen ginigit nora dadi, / Marma den awas den emut, / Mring pamurunging lelakon.

(Gagalnya mengumbar keinginan, / Tidak tertarik kepada indahnya tujuan, / Hal yang direka-reka bila dirasakan (digigit) tidak terwujud, / Maka harap waspada dan ingat. / terhadap hal yang menjadi penghalang)

63) Samengko kang tinutur, / Sembah katri kang sayekti katur, / Mring Hyang Sukma suksmanen saari ari, / Arahen dipun kacakup, / Sembahing jiwa sutengong.

(Sekarang yang dibicarakan, / Sembah ketiga yang sebenarnya diperuntukkan, / bagi Sang Suksma, laksanakanlah dalam keseharian hidup, / Usahakan agar mencakup, / sembah jiwa, anakku).

64) Sayekti luwih perlu, / Ingaranan pepuntoning laku, / Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin, / Sucine lan awas emut, / Mring alaming alam kaot.

(Sebenarnya lebih perlu, / disebut tindakan penghabisan, / Perilaku yang berkaitan dengan batin, / Kesuciannya dengan waspada dan eling, / Terhadap alam lama yang mahabesar (dan memuat) alam kelanggengan).

 

Sembah yang ketiga ini lebih tinggi lagi, ndhuk, yaitu sembah Jiwa. Sembah ini suksmanen saari-ari … Setiap hari, setiap menit, setiap detik ingat Tuhan, sembahyang lah … Maksudnya sembahyang ya sembah jiwa ini, bukan sembah raga. Untuk sembah yang ini, sucine karena waspada dan eling …

 

65) Ruktine ngangkah ngukut, / Ngiket ngruket triloka kakukut, / Jagad agung ginulung lan

jagad alit, / Den kandel kumadel kulup, / Mring kelaping alam kono.

(Memeliharanya dengan menguasai, / mengikat erat, triloka terkuasai, / Jagad besar (makrokosmos) digulung dengan jagad kecil (mikrokosmos), / Perteballah kepercayaanmu, anakku, / Terhadap gemerlapnya alam sana).

66) Keleme mawi limut, / Kalamatan jroning alam kanyut, / Sanyatane iku kanyataan kaki, /

Sejatine yen tan emut, / Sayekti tan bisa awor.

(Tenggelam dengan kabut, / Mendapatkan firasat di alam yang menghanyutkan itu, / Itulah kenyataan sesungguhnya, anakku, / Sesungguhnya bila tak diingat, / takkan bisa Bersatu).

67) Pamete saka luyut, / Sarwa sareh saliring panganyut, / Lamun yitna kayitnan kang miyatani, / Tarlen mung pribadinipun, / Kang katon tinonton kono.

(Sarananya dari luyut, / Serba sabar dalam mengikuti alam yang menghanyutkan, / Asal waspada, dan kewaspadaan yang dapat diandalkan itu, / tak lain adalah pribadinya, / yang tampak terlihat di sana).

68) Nging aywa salah surup, / Kono ana sajatining urub, / Yeku urup pangarep uriping budi, / Sumirat sirat narawung, / Kadya kartika katonton.

(Tetapi jangan keliru, / Di situ ada cahaya sejati, / Ialah cahaya yang memimpin hidupnya budhi, / Bercahaya sangat terang dan jelas / bagaikan bintang tampaknya).

69) Yeku wenganing kalbu, / Kabukane kang wengku winengku, / Wewengkone wis kawengku neng sireki, / Nging sira uga kawengku, / Mring kang pindha kartika byor.

(Itulah terbukanya hati, / Terbukalah yang kuasa dan menguasai, / Daerahnya sudah kau kuasai, / Tetapi kau pun dikuasai, / Oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap).

 

Di sini bahasanya sudah semakin sulit, ndhuk, karena memang penggambaran alam di sana itu memang sulit digambarkan dengan kata-kata. Oleh karenanya haruslah di lakoni, di rasakan. Penggambaran dari Sri Mangkunegara IV ini sudah maksimal, karena memang tidak ada kalimat yang bisa menjelaskan lebih gamblang lagi akan keadaan alam sana. Semakin dalam kamu masuk ke alam sana, keadaan akan semakin luyut, semakin mengantuk. Kamu tidak boleh ketiduran, makanya di katakan sucine awas emut, harus selalu eling lan waspada. Namun di sana kamu juga sudah ‘lupa’ bahwa kamu masih bernafas. Awalnya kamu memang melihat pucuking grahana sambil merasakan keluar masuknya nafas, namun saat itu kamu sudah tidak merasa jika kamu masih bernafas. Di sana tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa, yang ada hanya Pribadhi …, Ya Ingsun itu… Nah, urub yang di bicarakan ini, terang sekali cahayanya, di dunia ini belum pernah ada yang menyamai terangnya. Di sini, kamu sudah menguasai semuanya, namun kamu sendiri juga ada yang menguasai.

 

70) Samengko ingsun tutur, / Gantya sembah ingkang kaping catur, / Sembah rasa karasa wosing dumadi, / Dadine wis tanpa tuduh, / Mung kalawan kasing batos.

(Sekarang saya berbicara, / beralih ke sembah yang keempat, / Sembah rasa, terasalah inti kehidupan ini, / Terwujudnya tanpa petunjuk, / Namun hanya dengan kesentosaan batin).

71) Kalamun durung lugu, / Aja pisan wani ngaku-aku, / Antuk siku kang mengkono iku kaki, / Kena uga wenang muluk, / Kalamun wus padha melok.

(Apabila belum mengalami benar, / jangan sekali-kali mengaku-aku, / yang demikian itu mendapatkan laknat, anakku, / Boleh dibilang berhak mengatakannya, / apabila sudah mengetahuinya secara nyata).

72) Meloke ujar iku, / Yen wus ilang sumelanging kalbu, / Amung kandel kumandel marang ing takdir, / Iku den awas den emut, / Den memet yen arsa momot.

(Kenyataan yang dibicarakan ini, / Bila sudah hilang keragu-raguan hati, / hanya percaya dengan sebenar-benarnya kepada takdir, / Itu harap awas dan ingat, / Cermatlah apabila ingin menguasai seluruhnya).

Sampai di pupuh ke 72 ini, menurut bapak Wedhatamanya Sri Mangkunegara IV sudah selesai, ndhuk, mengingat ;

1.      Sampai pupuh 72 ini pada naskah yang bertuliskan huruf Jawa, ada tanda “titi”, yang maksudnya adalah tamat,

2.      Sampai di pupuh ke 72 ini, ini sudah akhir dari ‘perjalanan’, sudah anggambuh, sudah merdhika, sudah manunggaldadine wus tanpa tuduh mung kalawan kasing batos. Di sini sudah memet dan momot sekali.

Nah oleh karenanya bapak juga akan mengakhiri wejangan bapak tentang Wedhatama cukup sampai disini mengingat alasan tersebut di atas. Jika kamu cermati, apa lagi yang di cari, wong sudah anggambuh koq, sudah manunggal ?! Pupuh yang ke 73 dan seterusnya itu justru kembali ngrambyang dan ampang. Terasa ringan, bahkan gaya bahasanya pun jika di cermati berbeda dengan gaya bahasa Sri Mangkunegara IV.

Nah, sekarang tinggal kamu sendiri, ndhuk … Tinggal kamu melaksanakan semua ajaran Sri Mangkunegara IV ini, lakukan sembah Cipta, Jiwa dan Rasa. Lakukan setiap menit setiap detik, amrih bisa atul. Makanya di katakan oleh Sri Mangkunegara IV harus tata, titi, atetep, telaten, atul dan lain sebagainya itu … Mengerti sekarang, ndhuk ?

Putrinya : Iya bapak, aku sudah jauh lebih mengerti sekarang … Pupuh-pupuh terakhir memang sangat luar biasa ! Aku sampai selalu mengernyitkan dahi dalam setiap pupuhnya,  berusaha untuk memahaminya, meski masih tetap belum paham. Namun aku akan mencoba untuk menjalaninya bapak, agar aku tahu, seperti apa rasanya alam yang di gambarkan oleh Sri Mangkunegara IV ini … Terima kasih banyak ya, bapak, sudah meluangkan waktunya untuk menterjemahkan serta menjelaskan isi dari Serat Wedhatama ini …

Bapak : Hiya, ndhuuuk … Sebetulnya ini juga sudah menjadi tugas bapak sebagai orang tuamu. Seharusnya tanpa kamu minta pun, bapak mau menjelaskan dan menterjemahkannya … Ya wis, kana, ndang turu ! Sesuk isuk mundhak karipan kowe !

Putrinya : Iya, bapak … Nuwuuun …



S E L E S A I

TULISAN INI PERNAH SAYA MUAT DI AKUN FB SAYA TANGGAL 06 DESEMBER 2010 PUKUL 01.56

  1. 11 Januari 2012 pukul 10:05 pm

    RAHAYU,,,,,,LUAR BIASA DALEMNYA

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s