Beranda > Falsafah Jawa > BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN VI

BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN VI

Bapak : Wah, wis rada sawetara bapak nggak nerjemahkan Serat Wedhatama ini buat kamu ya, ndhuk ?

Putrinya : Iya, bapak. Padahal aku nunggu2 kelanjutannya, lho … Tp krn bapak masih sibuk terus ya akhirnya aku gak berani tanya, bapak …

Bapak : Hahaha … Hiya, hiya … ya wis, ini kelanjutannya …

15) Nulada laku utama, / Tumrape wong Tanah Jawi, / Priyagung ing Ngeksiganda, / Panembahan Senopati, / Kepati amarsudi, / Sudane hawa lan nepsu, / Pinesu tapa brata, / Tanapi ing siyang ratri, / Amamangun karyenak tyasing sesami.

(Teladanilah laku utama, / Bagi orang Jawa / orang besar di Mataram, / yaitu Panembahan Senopati, / yang selalu berusaha dengan tekad yg kuat, / mengurangi hawa nafsu, / dengan jalan bertapa / serta siang dan malam, / selalu berusaha membuat enak/senang hati/perasaan  orang lain).

16) Samangsane pasamuwan, / Mamangun marta martani, / Sinambi ing saben mangsa, / Kala kalaning asepi, / Lelana teki-teki, / Nggayuh geyonganing kayun, / Kayungyun eninging tyas, / Sanityasa pinrihatin, / Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

(Dalam setiap pertemuan, / menciptakan suasana kehidupan dengan kerendah-hatian, / Sambil pada setiap kesempatan, / Di kala sepi (tiada kesibukan), / Berkelana utk bertapa, / Menggapai yg diidam2kan, / Karena terpesona akan keheningan batin, / Sambil senantiasa prihatin, / Dan mencegah makan maupun tidur.)

17) Saben mendra saking wisma, / Lelana leladan sepi, / Ngingsep sepuhing supana, / Mrih pana pranaweng kapti, / Tistising tyas marsudi, / Mardawaning budya tulus, / Mesu reh kasudarman, / Neng tepining jalanidhi, / Sruning brata kataman wahyu dyatmika.

(Setiap pergi meninggalkan rumah, / Berkelana ke tempat-tempat yang sepi, / Menghirup berbagai trap/tingkatan ilmu kasepuhan, / Agar menjadi terang dan bijaksana, / Maksud hati mencapai, / keahlian dalam hal keutamaan, / Dengan tekad kuat dan sepenuh usaha, / Di tepian samudra / berkat usaha kerasnya tsb akhirnya didapatnya wahyu).

18. Wikan wengkoning samodra, / Kederan wus den ideri, / Kinemat kamot hing driya, / Rinegem segegem dadi, / Dumadya angratoni, / Nenggih Kangjeng Ratu Kidul, / Ndedel nggayuh nggegana, / Umara marak maripih, / Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.

(Memahami batas-batas samudra, / bagai seluruhnya sudah dilalui, / dinyatakan dan meresap dalam sanubari, / bagai digenggam jadi satu kepalan, / sehingga terkuasai. / Tersebutlah Kanjeng Ratu Kidul, / naik ke angkasa, / datang menghadap dengan hormat, / kalah wibawa dari Raja Mataram).

19) Dahat denira aminta, / Sinupeket pangkat kanthi, / Jroning alam palimunan, / Ing pasaban saben sepi, / Sumanggem anyanggemi, / Ing karsa kang wus tinamtu, / Pamrihe mung aminta, / Supangate teki-teki, / Nora ketang teken janggut suku jaja.

(Memohon dengan sangat, / agar akrab dan didudukkan sebagai pengikut, / di alam gaib, / Di waktu sepi, / siap menyanggupi, / kehendak yang sudah ditentukan, / Harapannya hanyalah mendapat restu dalam bertapa, / Tidak peduli meski seberapaun sulitnya).

20) Prajanjine abipraya, / Saturun turune wuri, / Mengkono trahing ngawirya, / Yen amasah mesu budi, / Dumadya glis dumugi, / Iya ing sakarsanipun / Wong agung Ngeksiganda, / Nugrahane prapteng mangkin, / Trah tumerah dharahe padha wibawa.

(Janji yang bertujuan baik, / untuk anak cucu di kemudian hari, / Begitulah orang luhur, / bila mempertajam keutamaan, / akan segera sampai ke tujuan, / karena kehendaknya / orang besar Mataram, / Anugerahnya hingga sekarang, / seluruh keturunannya berwibawa).

21) Ambawani Tanah Jawa, / Kang padha jumeneng aji, / Satriya dibya sumbaga, / Tan lyan trahing Senopati, / Pan iku pantes ugi, / Tinulad labetanipun, / Ing sakuwasanira, / Enake lan jaman mangkin, / Sayektine tan bisa ngepleki kuna.

(Menguasai Tanah Jawa / siapa pun yang menjadi raja, / satria sakti terkenal, / Tak lain adalah keturunan Senapati, / Bukankah itu layak pula / diteladani jasa perbuatannya, / semampumu, / disesuaikan dengan masa kini (dan nanti), / Tentu saja tidak mungkin persis seperti zaman dulu).

 

Disini Mangkunegara IV mengatakan, hendaknya para kaum muda mencontoh Panembahan Senapati, priyagung Mataram yg selalu andhap asor, rendah hati, dan selalu menjaga perasaan orang lain, karyenaktyasing sasami. Di setiap kesempatan jika tdk ada kesibukan, beliau (Panembahan Senapati) selalu berkelana, bertapa, hidup prihatin meski beliau seorang raja yg hidupnya selalu berkelimpahan, mengurangi makan maupun tidur,  utk menggapai apa yg di idam-idamkannya.

Bertapa, ngingsep sepuhing sopana, agar mendapatkan ngelmu kang nyata, sehingga menjadi seorang yang bijaksana dan terang hidupnya. Hingga pada akhirnya beliau mendapatkan wahyu saat bertapa di tepi samudra …

Putrinya : Sebantar, bapak. Maaf karena telah lancang memotong pembicaraan bapak.

Kalau tdk salah ingat, bapak juga pernah ngendika, bahwa semadhi itu bisa di mana saja, tdk harus di hutan, di gua, ataupun di pinggir samudra seperti yg dilakukan Panembahan Senapati. Tp disini Panembahan Senopati diceriterakan tengah bertapa di tepi samudra …

Dan satu lagi, bapak, ada versi lain yg mengatakan bhw pupuh2 tsb hanyasanepan, sesungguhnya bukannya Panembahan Senapati bertapa di pinggir samudra, tetapi beliau ber semadhi, menatap samudra luas pikirannya hg mengetahui batas2nya bagaikan sdh pernah mengelilinginya, tahu hukum2 alam dan hukum2 kehidupan dan akhirnya mendapat pencerahan, menerima wahyu dyatmika … Mohon penjelasannya, bapak …

Bapak : Benar, ndhuk … Semadhi bisa dilakukan di mana saja. Bertapa tdk hrs di hutan, di gua dlsb. Yg paling bagus mnrt suwargi Eyang buyutmu adalahtapa ngrame, bertapa sambil ttp beraktifitas sehari-hari tnp org lain tahu bhw kita tengah berpuasa, bertapa.

Namun ada kalanya kita juga perlu ‘ganti oli’ … Sareyan2 leluhur, tempat2 yg pernah dipakai bertapa para leluhur, merupakan tempat yg tepat untuk ‘ganti oli’ tsb. Karena di tempat2 tsb, alam di sekitarnya biasanya sdh terbawa dengan alam semadhi yg pernah di capai sewaktu leluhur masih sugeng, sehingga hal tsb sangat membantu menunjang tingkat kesadaran kita …

Mengenai pertanyaanmu yg ke dua, di artikan seperti itupun juga boleh2 saja, toh esensinya juga sama. Namun bapak lebih suka mengartikannya dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini karena berkaitan dengan keberadaan Kanjeng Ratu Kidul yg digambarkan di pupuh berikutnya. Orang yg mengartikan spt yg kamu utarakan itu beranggapan bahwa Kanjeng Ratu Kidul itu pun juga hanya sanepan, tokoh mitos yang sebenarnya tdk ada, hny sebagai gambaran/ungkapan saja.

Bapak kurang setuju dengan hal tersebut. Kekurang setujuan bapak ini jg bukannya asal nggak setuju, namun ini berkaitan dengan pengalaman pribadi bapak. Suwargi Eyang buyutmu, jg pernah bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, suwargi Eyangmu Soerjabrata jg pernah bertemu bahkan Kanjeng Ratu Kidul sampai2 mau mengikuti suwargi Eyangmu. Eyang buyut Plered Yogyakarta jg pernah diikuti oleh Kanjeng Ratu Kidul.

Bapak sendiri juga pernah bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, bahkan di alam jaga ketika bapak selesai bertapa, bapak duduk2 di pinggir Gua Langse pd suatu siang sambil menatap samudra lepas dengan ombaknya yg bergulung2, tiba2 Kanjeng Ratu Kidul muncul dari dasar samudra dan datang menemui bapak. Orang kebanyakan lebih suka anut2, karena org yg sangat dipercaya mengatakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul itu hny mitos, lalu ikut2an mengatakan bahwa beliau hny mitos tnp pernah mau membuktikan, apakah benar2 mitos atau benar2 ada. Adalah jauh lebih bijak utk membuktikan kebenarannya lebih dulu sebelum melakukan penghakiman thd sesuatu hal …

Putrinya : Maaf sekali lagi, bapak. Kalau gak salah, bapak dulu juga pernah cerita kalau Gua Langse itu adalah tempat pertapaan dari Panembahan Senapati ya, bapak ?

Bapak : Benar, ndhuk … Cuma jarang orang yg mengetahui persis dimana tepatnya Panembahan Senapati bertapa. Kebanyakan orang yg datang ke Gua Langse hny sekedar masuk ke dlm gua sekitar 5-10 meter sj. Tapi sebenarnya, jauh di dalam gua tsb, ada suatu tempat yg agak tinggi letaknya di banding tempat sekitarnya, dimana lantai beserta dinding2nya terdapat ratusan binatang2 berbisa macam kalajengking, ular dlsb. Di situlah tempat Panembahan Senapati bertapa …

 

Putrinya : Lantai dan dindingnya tdp ratusan binatang berbisa ? Wah ! Ngeri dong, bapak ?! Bgmn kalau hewan2 tsb menggigit/menyengat kita ??? Hiiiii …

Bapak : Disitulah tekad kita diuji pertama kali. Jika keyakinanmu akan kekuasaan Tuhan sebesar kuku irengmu saja, hewan2 tsb tdk akan melakukan apa2 thd dirimu. Yang penting mantep, bulatkan tekad, percaya akan kemaha-kuasaan Tuhan. Semuanya itu tdk akan pernah mengganggumu … Ya sudah, bapak lanjutkan lagi ya, ndhuuuk …

Putrinya : Iya, bapak … (sambil kelihatan masih jijik2 dan bergidik …)

Bapak : Nah, selain mendapatkan wahyu tadi, Panembahan Senapati juga ditemui oleh Kanjeng Ratu Kidul dengan penuh hormat karena merasa kalah wibawa, serta berjanji untuk menjadi pengikut Panembahan Senapati serta memenuhi segala perintah Panembahan Senapati meski seberapa sulitnya sekalipun. Inilah yg harus kita lakukan, bukannya seperti orang kebanyakan, ndhuuk, yg justru mencari Njeng Ratu Kidul hanya untuk ngawula kepada Njeng Ratu. Bukaaan … Itu adalah tindakan yang tidak baik, ndhuk.

Yang benar adlh seperti yg dilakukan oleh Panembahan Senapati ini, justru Kanjeng Ratu Kidul yang takluk dan bertekuk lutut di hadapan Panembahan Senapati …

Dan anugerah yang diterima Panembahan Senapati itupun ternyata masih juga dirasakan oleh anak cucunya, dan didukung oleh Kanjeng Ratu Kidul sesuai janjinya kepada Panembahan Senapati, terbukti yang menjadi Raja tanah Jawa dan ksatriya yang kondhang akan kesaktiannya di tanah Jawa adalah anak cucu keturunan Panembahan Senapati …

Sudah jelas, ndhuk ?

Putrinya : Iya, bapak … Wah, hebat ya, bapak, Panembahan Senapati itu …

Putrinya : Yaaa … Itulah, ndhuk … Leluhur2 kita tidak pernah bertapa utk mencari kemulyaan diri sendiri. Para leluhur selalu bertapa utk kebahagiaan dan kejayaan bangsa dan negara, namun tidak dinyana justru pada akhirnya juga mendapatkan bonus yg tdk sedikit, yaitu bertekuk lututnya Kanjeng Ratu Kidul hingga anak turunnya bisa mjd satriya pinunjul di tanah Jawa. Itulah mengapa Mangkunegara IV di sini mencontohkan Panembahan Senopati agar ditiru labuh labet nya oleh para pemuda jaman sekarang, agar bisa menjadi satriya kang pinandhita seperti Panembahan Senapati …

Ya, wis … Gitu dulu, ndhuk, besok dilanjutkan lagi ya …

Putrinya : Iya, bapak … Tp bener ya, bapak, besok … Jgn lama2 kyk kemarin2, soalnya ceritanya semakin mengasikkan niiih …

Putrinya : Ya wis, kana, ndang ngewangi ibumu neng dhapur



(BERSAMBUNG …)

TULISAN INI PERNAH SAYA MUAT DI AKUN FB SAYA TANGGAL 17 NOPEMBER 2010, PUKUL 17.24

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s