Beranda > Falsafah Jawa > BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN IV

BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN IV

Putrinya : Bapak, itu tulisan2nya bapak yang di laptop nanti tak print, boleh bapak ?

Bapak : Ya boleh saja to, ndhuk. Bapak kan memang sengaja bikin tulisan2 disitu, supaya kelak, jika kamu sama adik2mu membutuhkan, bisa membaca dan mempelajarinya ….

Putrinya : Kenapa to koq mesthi di tulis, bapak ? Padahal dulu aku lihat bapak nggak hobi menulis. Tapi bbrp minggu terakhir ini bapak seneng sekali nulis2 di laptop tentang ajaran2 Jawa, tembang2 Jawa, wejangan2 dari almarhum Eyang2 dll …

Bapak : Tujuan utama bapak menulis itu adalah ; 1. Untuk pembelajaran diri bapak sendiri sambil mengingat-ingat apa2 saja yang dulu pernah diwejangkan oleh suwargi Eyang2mu, Eyang2 buyutmu. Karena kadang2, saking banyaknya hal yang bapak pikirkan, bapak jadi lupa dan kurang waspada, 2. Untuk anak cucu bapak kelak, supaya kalian semua tahu, bahwa dulu kalian mempunyai leluhur dengan ajaran-ajaran yang adiluhung, 3. Supaya ajaran2 ini sendiri juga tdk hilang musnah. Karena kalau hanya di wejangkan secara lisan, yang namanya manusia, kadang ada juga yang terlupa seperti yg tengah bapak alami ini, kadang ada yang terlupa. Oleh karenanya bapak menulis juga sambil mengingat-ingat, apa2 saja yang dulu pernah di wejangkan oleh suwargi Eyang2mu supaya kalian kelak dapat membacanya secara utuh …

Putrinya : Oooh, gitu … aku jadi mengerti sekarang, bapak …

Ya sudah, bapak. Aku sudah siap untuk melanjutkan …

Bapak : Ya. Ini yang selanjutnya :

7) Kikisane mung sapala, / Palayune ngendelken yayah wibi, / Bangkit tur bangsaning luhur, / Lha iya ingkang rama, / Balik sira sarawungan bae durung / Mring atining tata krama, / Nggon anggon agama suci.

(Tekadnya hanya sepele, / (bila menemui kesulitan) mengandalkan orangtuanya, / yang terpandang dan bangsawan. / Itu ‘kan ayahmu, / Sedangkan kamu berkenalan saja belum / dengan inti dari tata krama / ajaran agama suci (peraturan yang utama))

8. Socaning jiwangganira, / Jer katara lamun pocapan pasthi, / Lumuh asor kudu unggul, /Semengah sesongaran, / Yen mengkono kena ingaran katungkul, / Karem ing reh kaprawiran, / Nora enak iku kaki.

(Sifat-sifatmu, / tampak jelas dari tutur katamu, / Tidak mau kalah, harus menang, / Sombong dan suka meremehkan orang. / Bila demikian (kamu) bisa disebut kalah (kandas), / tenggelam dalam keperwiraan, / Itu tidak terpuji, nak)

Sri Mangkunegara IV mengajarkan, orang-orang seperti itu ternyata pada akhirnya jika menemui kesulitan hanya mengandalkan orang tuanya. Itulah kelemahan dan kesalahpahaman yang sesungguhnya telah terjadi. Orang spt itu cenderung mengandalkan orang tuanya, gurunya, kiyainya, pendetanya, nabinya dlsb. Memang, mungkin orang2 yang kamu andalkan itu adalah orang besar, orang terpandang dan orang luhur. Tapi kamu sendiri siapa ? Kamu bukanlah siapa-siapa. Jangan hanya menjadi pengekor. Pengikut. Kamu tdk bisa menjadi persis dengan mereka, tapi dengan mengenali Dhiri Pribadhi, kamu akan menjadi besar seperti mereka. Oleh karenanya, Sri Mangkunegara menegaskan, “Balik sira sarawungan bae durung, Mring atining tata krama, Nggon anggon agama suci. Kenali inti dari tata krama, aturan2 / ajaran2 kautaman, ajaran2 suci. Yang berarti juga kenali ajaran leluhurmu, kenali dirimu …

Mengandalkan hal di luar diri itu bukannya tidak baik, namun adalah jauh lebih bijak jika kita mengenali sendiri inti dari agama suci tsb. Mengenali ngelmu kang nyata dan angger-anggernya. Mengenali Dhiri Pribadhi. Mengandalkan sesuatu yang  berada di luar diri, tidaklah banyak menolong. Hanya kita sendiri yang bisa dan mampu menolong diri kita. Hal2 yang diluar diri hanya sekedar mengingatkan, bahwa di situ, di dalam dirimu itulah sesungguhnya pengetahuan sejati itu berada.

Putrinya : Di pupuh yg ini bapak menterjemahkan Agama Suci sebagaiAjaran Kautaman, ngelmu kang nyata. Bukannya Agama tertentu …

Bapak : Pupuh2 dalam tembang Wedhatama ini saling berkaitan dan berkesinambungan. Di awal2 pupuh2nya menegaskan tentang ngelmu kang nyata, bukan tentang Agama tertentu, oleh karenanya, bapak beranggapan bahwa itulah yang di maksudkan oleh Sri Mangkunegara IV ttg Agama Suci. Dan lagi, kamu akan jauh lebih mengerti jika telah mempelajari dan mendalami sepenuhnya Serat Wedhatama ini …

Putrinya : Aaah … Ajaran ini sungguh sangat dalam, bapak … Luar biasa !

Apakah yang di maksud dengan mengenal Dhiri Pribadhi itu dengan cara semadhiseperti yang Eyang pernah ajarkan kepadaku itu, bapak ?

Bapak : Tepat, ndhuk … Hanya dengan cara seperti itu. Nah, kalau sudah mengerti, bapak akan melanjutkan dengan pupuh yang selanjutnya …

9) Kekerane ngelmu karang, / Kekarangan saking bangsaning gaib, / Iku boreh paminipun, / Tan rumasuk ing jasad, / Amung aneng sajabaning daging kulup, / Yen kapengkok pancabaya, / Ubayane mbalenjani.

(Tuntutan ilmu karang (ilmu yang di reka-reka), / Karangan (reka-rekaan) dari makhluk gaib, / Itu ibarat bedak, / Tidak meresep ke dalam raga, / Hanya ada di luar daging saja, nak. / Apabila terbentur marabahaya, / Bisanya hanya mengingkari janji (tak dapat diandalkan, yang sudah disanggupi tak ditepati)).

10) Marma ing sabisa-bisa, / Bebasane muriha tyas basuki, / Puruitaa kang patut, / Lan traping angganira. / Ana uga angger ugering kaprabun, / Abon aboning panembah, / Kang kambah ing siyang ratri.

(Oleh karena itu sedapat-dapatnya, / Berusahalah selalu berhati baik, / Bergurulah dengan benar, / dan yang sepadan dengan dirimu. / Ada pula aturan dan pedoman kerajaan, / perlengkapan manembah, / yang dijalankan siang dan malam)

Dalam pupuh yg ke sembilan, yang disebut dengan ngelmu karang adalah ; ngelmu yang di karang2, di reka2 keberadaannya. Hasil karangan dari makhluk gaib. Dan ilmu itu tiada banyak gunanya, hanya bagai bedak yang hanya menempel di sisi luar kita, tidak merasuk ke dalam raga. Oleh karenanya jika bertemu dengan mara bahaya seringkali mblenjani.

Oleh karenanya, janganlah belajar ilmu karang, namun sekali lagi, belajarlahngelmu kang nyata.

Sedangkan pupuh yang ke sepuluh, bapak akan menterjemahkan Kaprabunsebagai ketuhanan. Kaprabun sendiri sebenarnya berarti kerajaan/kenegaraan, namun jika dilihat dari gatra/kalimatnya pada pupuh tersebut, Sri Mangkunegara hendak bercerita tentang ilmu ketuhanan, ya ngelmu kang nyata itu tadi, yang harus di jalankan siang maupun malam …

Putrinya : Wah, semakin dalam dan semakin menarik, bapak …. Dan semakin mumet bagiku. Hehehe …

Terus di mana bisa belajar angger ugering kaprabun, abon aboning panembah itu td, bapak ?

Bapak : Hahaha … Yang di awal2 ini belum seberapa, ndhuuk … Semakin ke belakang nantinya, ajaran2 nya akan semakin mumet dan memet … Untuk hal yang kamu tanyakan itu, akan di jelaskan di pupuh berikutnya, ndhuuk … Lha, kepriye, ndhuuk ? Arep di bacutke apa ora anggone sinau wedhatama ?

Putrinya : Ya iya, bapaaak … Aku kan pengen ngerti juga tentang Ajaran Wedhatama ini …

Bapak : Ya wis … Diteruskan nanti malem, ya, ini sudah jam 5 lewat …Gage, ngrewangi neng dhapur kana …

Putrinya : Ya bapaak … Matur nuwun …



(BERSAMBUNG)

TULISAN INI SUDAH PERNAH SAYA MUAT DI AKUN FB SAYA, TANGGAL 05 NOPEMBER 2010, PUKUL 01.40

  1. 24 Januari 2011 pukul 2:29 am

    di dalam dirimu itulah sesungguhnya pengetahuan sejati itu berada.

    moantaaaaapp! saya ngerti maksutnya Mas (kan saya jenius), tapi pembaca lain pasti ada yang nggak mudeng… mbok ya dijelaskan gituuuh…

    • 24 Januari 2011 pukul 3:20 am

      Hehehehe … Maksudnya, dengan ‘mengenal dhiri’, ‘menyelam di dalam dhiri’, atau istilahnya meditasi, samadhi, maka kita akan mendapatkan pengetahuan sejati … Gitju …🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s