Beranda > Falsafah Jawa > BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN III

BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN III

Bapak : Wis rampung olehe sinau pa, koq jam semene wis arep ajar wedhatama ?

Putrinya : Sudah owq, bapak. Besok Cuma pelajaran olah raga, drama sama matematika. Jadi td Cuma belajar matematika, thok. Hehehe …

Bapak : Ya sudah … Ini pupuh2 selanjutnya …

3) Nggugu karsane priyangga, / Nora nganggo peparah lamun angling, / Lumuh ingaran balilu / Uger guru aleman, / Nanging janma ingkang wus waspadeng semu / Sinamun ing samudana,/ Sesadon ingadu manis.

(Hanya mengikuti kehendak sendiri, / dan tanpa perhitungan matang, / enggan dianggap bodoh, / senangnya di alem (mabuk pujian). / Namun orang yang pandai, / justru selalu rendah hati dan penuh pasemon / menanggapi semuanya dengan kata-kata yang baik dan bijak)

4) Si pengung nora nglegewa, / Sangsayarda denira cacariwis, / Ngandhar-andhar angendhukur, / Kandhane nora kaprah, / Saya elok alangka longkanganipun, / Si wasis waskitha ngalah, / Ngalingi marang si pingging.

(Si dungu tidak menyadari, / makin lama semakin menjadi-jadi, / melantur tak karuan. / yang diomongkan yang tidak-tidak, / makin lama makin aneh dan tak masuk akal. / Si pandai maklum dan mengalah, / untuk menutupi kedunguan si bodoh)

 

Di sini beliau mengajarkan, agar jd orang itu jangan sak karepe dhewe, mau maunya sendiri, tdk mau di anggap bodoh dan suka mabuk pujian. Aleman. Itu tdk baik. Jd jika ketemu orang2 yg model begini, apapun yang mereka bilang, mending di hiya ni saja. Mengalah. Atau kalau tidak, ya cukup di jawab denganpasemon dengan kata-kata yg mengenakkan hati, merendah atau pura-pura bodoh saja.

Putrinya : Lho koq gitu, bapak ? Kalau memang kita lebih tahu, kan harusnya kita kasih tahu orang itu supaya dia mengerti kalau pandangannya tsb keliru ?!  Koq malah kita di suruh mengalah ? Ini nih, bapaaak, mungkiiiin … yg buat org2 jaman skrg pada gak mau pake ajaran ini … Habis, ajarannya aneh, siiiih …

Bapak : Hahahaha … Bukannya aneh, ndhuuuk …

Begini : Orang yang TIDAK TAHU itu berbeda dengan orang yang TIDAK MAU TAHU.

Orang yang tidak tahu, pasti akan dengan senang hati mencari tahu kebenaran akan sesuatu yang dia tidak ketahui tersebut. Jadi diskusi atau perdebatan yang terjadi akan menyenangkan. Berbeda dengan orang yang tidak mau tahu. Orang seperti ini, biar kita jelaskan seperti apapun, dia tetap <span>tidak akan mau tahu</span>. Dia mau maunya sendiri, mau menang sendiri, karena takut dikira bodoh. Jika di ladeni, di layani, perdebatan tersebut, tentu tidak akan ada habisnya, malahan bisa-bisa kita berantem sama orang tersebut jk kita tdk bisa mengendalikan diri. Karena orang model begini ini tidak mau pake akal, maunya pake okol, otot. Daripada kita berantem, lebih baik kita mengalah saja. Dan biasanya, melihat kita mengalah, dia akan semakin menjadi-jadi karena dipikirnya kita ini tdk tahu dan bodoh beneran. Dan yg diomongin semakin yg enggak2 …Mudheng, ndhuuuk ?

Putrinya : Hehehe … bener juga, ya … Jadi geli ngebayangin orang kyk gitu, bapak. Hehehehe … Yak, dilanjut, bapaaaak …

Bapak : Ini yang selanjutnya …

 

5) Mangkono ngelmu kang nyata, / Sanyatane mung weh reseping ati, / Bungah ingaranan cubluk, / Sukeng tyas yen denina, / Nora kaya si pengung anggung gumrunggung / Ugungan sadina dina / Aja mangkono wong urip

(Demikianlah ilmu yang sejati, / Sesungguhnya hanya memberikan kedamaian hati, / Seneng dianggap bodoh, / Suka cita kendati dihina, / Tidak seperti si dungu yang selalu sombong, / Inginnya selalu dipuji setiap hari. / Orang hidup janganlah seperti itu)

6) Uripe sepisan rusak, / Nora mulur nalare ting saluwir, / Kadi ta guwa kang sirung, / Sinerang ing maruta, / Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung, / Pindha padhane simudha, / Prandene paksa kumaki

(Hidupnya rusak/berantakan, / Penalarannya tidak berkembang, picik tercabik cabik, / Bagai gua yang dalam, gelap menyeramkan, / dilanda angin, / Suaranya berdengung keras sekali, / Seperti anak muda jika picik pengetahuannya, / namun demikian sombongnya bukan main)

 

Yang ini, nggak perlu di kasih penjelasan lagi to, ndhuk ?

Putrinya : Aku masih nggak habis pikir sama kalimat ‘seneng dianggap bodoh’ dan ‘suka cita kendati dihina’ itu lho, bapak …Apa mungkin kita bisa seperti itu ? Kayaknya hal itu mustahil sekali untuk dilakukan, bapak …

Bapak : Iya, ndhuuk … Tapi itu bukan hal yg mustahil, ndhuk. Mmg sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Susah-senang, sedih-bahagia, cacian-pujian dlsb itu hanya dua sisi dari keping mata uang yang sama. Keduanya saling mengisi. Saling bergantian. Kita tdk bisa hanya memilih satu sisi saja, misalkan senang saja. Tidak bisa, ndhuk, karena dualitas itu sebenarnya satu. Tidak terpisahkan. Makanya jika di saat ini kamu merasa senang, di lain waktu kamu juga akan mengalami saat-saat yang susah, begitu seterusnya.

Ajaran ini mengatakan bahwa kita harus senang di katakan bodoh, dan sedih jika dikatakan pintar/pandai. Merasa senang jika dihina, dan merasa susah jika dipuji. Artinya apa ? Artinya, kita disuruh belajar untuk mengerti, bahwa DUALITAS itu sebenarnya SATU. Ke duanya sebenarnya sama saja, tiada bedanya. Sri Paduka hendak mengajarkan kepada kita untuk MELAMPAUI dualitas tersebut. Senang jika di caci dan susah jika dipuji. Hati kita merasa senang, ketika apa yang ditangkap indera kita adalah hal2 yang menyenangkan. Dan kita akan merasa susah, ketika apa yang ditangkap oleh indera kita adalah hal yg tidak menyenangkan. Jangan terjebak dengan kesemuanya itu, jika NGELMU YANG NYATA yang kamu cari …

Putrinya : Aku masih belum mengerti, bapak … Dengar penjelasan bapak aku malah jd semakin bingung …

Bapak              : Dilakoni saja dulu, ndhuuk … Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Di jalani dan lakukan dulu, maka lambat laun kamu akan mengerti … Jangan terjebak dalam pemahamanmu yang sempit. Berusahalah untuk membuka diri seluas-luasnya terhadap segala kemungkinan tanpa menghakimi. Biarkan aliran semesta ini semakin deras mengisi relung jiwamu, dan kamu pasti lambat laun akan mengerti …

Putrinya : Iya, bapak, aku akan mencobanya. Sudahan dulu ya bapak, kepalaku puyeng gara-gara mencoba memahami uraian bapak tapi tetep gak mudheng2 …

Bapak              : Hahahaha ! Ya uwis, ndhuk, gage, kana ndang ngaso

Putrinya : Iya bapak, matur nuwun … Aku bobok dulu ya bapak … Daaaaah …



BERSAMBUNG )

TULISAN INI PERNAH SAYA MUAT DI AKUN FB SAYA, TANGGAL 03 NOPEMBER 2010, PUKUL 21.17

  1. 24 Januari 2011 pukul 2:18 am

    Berarti secara tidak sadar selama ini saya sudah mengamalkan ajaran Wedhatama ya. Saya jenius tapi… ya jangan sampe ada yang tau lah!! Saya kasian Mas sama orang-orang goblok itu, ntar pada minder kalo tau saya jenius!
    Hyehehehehe…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s