Beranda > Ngelmu Jawa > NGUDI KASAMPURNANING GESANG

NGUDI KASAMPURNANING GESANG

Penulisan artikel ini berdasarkan, lagi-lagi, wejangan dari para leluhur saya, yang saya terima melalui pakdhe saya, KRMH Toeloes H Koesoemaboedaja/Soerjabrata, Eyang saya RM Sarwadi Prabawidjaja/Prabakoesoema serta Eyang R Rahajoe Dirdjasoebrata.

Hal ini sekali lagi bukannya saya ingin mengunggul-unggulkan akan kehebatan leluhur saya, namun sebenarnya hal ini berkaitan dengan wasiat terakhir Eyang R Rahajoe Dirdjasoebrata yang pernah di sampaikan kepada kami.

Sedikit bercerita tentang Eyang R Rahajoe Dirdjasoebrata, beliau sebenarnya tidak ada hubungan kekerabatan dengan keluarga besar saya, namun kebetulan secara spiritual, dalam perjalanannya akhirnya beliau bertemu dengan Eyang kakung saya serta pakdhe saya hingga akhirnya saya pun berkesempatan untuk mengenal beliau.

Eyang Rahajoe ini tidak menikah, juga tidak mempunyai murid, meski menjelang beliau seda, beliau sempat memberikan wejangan-wejangan khusus kepada beberapa orang anggota keluarga besar saya, terutama para generasi mudanya.

Tentang beliau, pernah pula saya ulas sedikit di blog saya yang satu,  singkatnya, beliau adalah salah seorang putra dari guru Spiritual Bung Karno dan beliau memang sudah waskitha sejak lahir.

Selanjutnya, apa yang di maksud dengan Ngudi kasampurnaning gesang itu ?

Mengapa kita harus ngudi kasampurnaning gesang ? dan,

Bagaimana caranya ngudi kasampurnaning gesang tersebut ?

Di bawah ini akan saya ulas tentang apa dan bagaimana itu ngudi kasampurnaning gesang ini. Mangga, dipun simak ;

 

APA YANG DI MAKSUD DENGAN NGUDI KASAMPURNANING GESANG ?

Ngudi kasampurnaning gesang berarti berkehendak/berkeinginan mencari kesempurnaan hidup atau hidup yang sempurna.

Hidup yang sempurna itu selama masih hidup di dunia kaya raya, punya banyak istri dan wanita simpanan bagi para pria nya dan sebaliknya buat para wanita nya, sepanjang hidupnya berfoya-foya, tidak pernah kekurangan, tidak pernah hidup menderita atau sengsara dan kelakpun jika mati pasti akan masuk surga …..

Hehehe, mungkin begitu pendapat serta keinginan kebanyakan orang.

Jika yang anda maksudkan dengan ngudi kasampurnaning gesang, hidup yang sempurna, adalah hal seperti tersebut di atas, maaf, berarti saya sudah mengecewakan anda sekalian, karena bukan itu yang saya maksudkan. Berarti juga anda harus stop, berhenti untuk meneruskan membaca artikel ini serta tidak lagi berkunjung ke dalam Blog ini, karena saya pastikan anda akan lebih kecewa lagi melihat/membaca  isinya. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membuang-buang waktu anda secara sia-sia.

Manusia itu secara garis besar adalah makhluk yang monodualistik, artinya dua tetapi satu, two in one, ada badan kasar dan ada badan halus.

Kenapa saya katakan secara garis besar ?

Ya, karena baik badan kasar maupun badan halus ini masih bisa di urai menjadi beberapa bagian lagi, yaitu ; mani, madi, manikem, rah, jiwa, nyawa, suksma.

Namun begitu, di sini saya tidak akan membahas panjang lebar bagian-bagian tersebut, karena bagian-bagian tersebut tercakup dalam dua badan yang saya sampaikan di atas, yaitu badan kasar dan badan halus, jadi cukuplah dengan dua hal yang merupakan garis besar itu tadi serta bagaimana cara memperlakukan ke dua badan tersebut.

Nah, ke dua badan ini haruslah berjalan secara serasi, selaras serta seimbang, tidak boleh timpang salah satu dari keduanya (dengan catatan jika berkeinginan ngudi kasampurnaning gesang).

Lalu bagaimana caranya ?

Jika dalam bahasa agama, Badan kasar maupun badan halus ini mungkin disebut sebagai lahiriah serta batiniah, namun, di sini saya akan mengulas dengan menggunakan bahasa yang saya pahami.

Badan halus, itu sebuah badan yang tak terlihat oleh mata kita. Badan halus tersebut bukan berasal dari dunia ini, namun berasal dari alam yang hanya bisa kita capai melalui proses samadhi. Jadi sekali lagi harus dan hanya bisa kita capai dengan olah samadhi. Oleh karenanya, jika ada yang berpandangan atau berpendapat bahwa hal ini bisa di capai dengan olah fisik, sembah raga, atau apapun istilahnya, itu adalah sebuah kesalahpahaman besar.

Pencapaian dalam samadhi inipun juga tidak bisa berlangsung secara instant, artinya hal tersebut berlangsung melalui sebuah proses yang tidak mudah, jika dalam bahasa pakdhe saya, haruslah tata, titi, teliti, telaten nganti atul.

Jadi haruslah telaten, tanpa bosan, hingga menjadi  atul (menjadi semacam kebiasaan/kebutuhan sehingga tanpa di sadari suatu saat kita merasa ada yang kurang jika tidak ber samadhi). Tentang bagaimana itu samadhi, bisa di lihat pada artikel sebelumnya, atau klik di sini.

Jika dalam proses samadhi kita kanugrahan, kita dapat kembali ke alaming asuwung, alam kelanggengan, manunggal marang Gustine, di situlah badan halus kita mencapai kesempurnaannya. Artinya kita sudah merdhika, karena kita sudah manunggal denganNYA.

Apakah dengan merdhika nya, tercapainya kemanungglan tersebut, berarti sudah selesai segalanya, maksudnya, tujuan ngudi kasampurnaning gesang yang tengah kita bahas ini sudah tercapai ?

Tunggu dulu, pembahasan kita belum berakhir, masih ada satu badan lagi yang belum di bahas, yaitu badan kasar tadi.

Badan kasar, fisik/lahiriah kita ini berasal dari dunia ini, memiliki berbagai macam kebutuhan, di antaranya makan, minum, mandi, pakaian, olah raga dan lain sebagainya. Makan pun sebenarnya juga bukan melulu berbicara tentang perut, namun panca indera kitapun sebenarnya juga perlu/butuh ‘makan. Lain waktu saya akan mengulas/membuat artikel juga tentang hal ini.

Tentang kebutuhan makan, minum dan lain sebagainya di atas, tanpa saya ingatkan pun saya yakin anda sekalian tidak akan pernah lupa dengan hal-hal tersebut di atas, oleh karenanya, di sini saya hanya akan membahas sesuatu yang sempat terlewatkan/terlupakan dalam benak saya serta anda sekalian.

Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa jika raga ini bisa ikut kembali ke alam kelanggengan bersama dengan badan halus kita (dalam istilah kejawen ; moksa, mati dengan membawa sekalian seluruh raganya), maka di situlah kesempurnaan hidup.

Sayapun dulu juga berpandangan demikian sebelum saya mendapat penjelasan dari Eyang Rahajoe suwargi, namun ternyata pandangan saya tersebut keliru.

Kebetulan adik dari Eyang Rahajoe ini, namanya Eyang Oneng, dulunya moksa, dan setiap beberapa waktu tertentu beliau selalu miyos. Eyang Oneng inipun juga sudah waskitha sejak lahir. Setiap kali beliau miyos, fisiknya tampak korengen/gudhigen, pakaiannya compang-camping bak pengemis, namun pandangan matanya sangat tajam, saking tajamnya sampai-sampai tidak ada yang mampu berlama-lama menatap mata beliau. Ketika pakdhe saya menanyakan akan kondisi Eyang Oneng ini kepada Eyang Rahajoe, beliau menjawab, “ Biar bagaimanapun, raga ini tempatnya bukan di ‘sana’, sehingga jika di paksakan untuk ikut kembali ke ‘sana’, raga ini tidak akan kuat “. Eyang Rahajoe, sepanjang sepengetahuan saya, memang hampir tidak pernah berbicara dalam bahasa Jawa, beliau lebih sering berbicara dalam bahasa Indonesia.

Jadi, raga ini, badan kasar ini, tetap lah harus pulang kembali ke asalnya juga, sama halnya dengan badan halus itu tadi. Yang berasal dari tanah, haruslah kembali ke tanah, yang berasal dari air, haruslah kembali ke air dan seterusnya.

Badan kasar ini haruslah kembali, agar bisa di daur ulang, yang berasal dari tanah, sari-sarinya akan diserap oleh tanam-tanaman dan lain sebagainya, demikian pula yang berasal dari air, angin, dan seterusnya. Setelah di serap oleh tanam-tanaman, kemudian tanaman tersebutpun akan diserap/di konsumsi oleh hewan dan juga manusia, demikian seterusnya hingga akhirnya kembali lagi pulang ke asalnya. Inilah siklus daur ulang tersebut.

Kembali ke materi pembahasan, lalu bagaimana agar badan kasar ini bisa mencapai kesempurnaan seperti badan halus ?

Dalam pandangan hidup orang Jawa Kuno (leluhur kita), hidup di dunia ini haruslah berguna dan berbakti kepada ;

1.    Orang tua,

2.    Bangsa dan negara.

Berbakti kepada orang tua itu sangat penting, karena lewat mereka lah kita di lahirkan ke dunia ini. Oleh karenanya leluhur kita mengajarkan agar kita selalu hormat dan berbakti kepada orang tua, termasuk kepada para leluhur kita. Tanpa adanya orang tua kita, kita tidak akan pernah ada di dunia ini, di lihat lebih jauh lagi, tanpa adanya leluhur-leluhur kita, orang tua-orang tua kita pun juga tidak akan terlahir di dunia ini.

Belajarlah untuk menghormati serta menghargai mereka-mereka yang telah menyebabkan kelahiran kita di dunia ini, juga menghargai serta menghormati leluhur-leluhur kita terdahulu.

Di situlah manfaat dari anjuran para leluhur untuk selalu ngurutake dalan banyu, mencari dan mengurutkan asal usul kita, mulai dari bapak, ibu, eyang, eyang buyut dan seterusnya. Hingga tidak jarang kita lihat orang-orang Jawa yang sowan ke sareyan-sareyan, itu sebenarnya salah satu maksudnya adalah untuk ngurutke dalan banyu itu tadi, bukannya untuk menyekutukan Tuhan dan lain sebagainya.

Point yang ke dua, berbakti kepada bangsa dan Negara.

Hidup di dunia haruslah manjing ajur-ajer dengan masyarakat serta bisa bermanfaat bagi kehidupan masyarakat sekelilingnya, lebih luas lagi untuk bangsa dan Negara ini.

Dimana bumi di pijak, di situ langit dijunjung. Makan minum, berak, bahkan matipun kelak kita di sini, sehingga kita sedikitpun tidak boleh melupakan kewajiban kita untuk berbakti kepada Nusa, bangsa dan Negara ini.

Dengan melupakan dan tidak menghargai tanah-air yang kita pijak ini, itu tiada bedanya dengan melupakan ‘ibu’ kita, mendurhakai ’ibu’ kita, tidak berbakti kepada ‘ibu’ kita. Ini kalau menurut ajaran leluhur saya, lho …, entah kalau menurut leluhur bangsa lain …

Oleh karena itu, semestinya dengan alasan apapun, kita tidak boleh melupakan bakti kita terhadap Nusa, Bangsa dan Negara ini. Sekali lagi, dengan alasan apapun !!!

Darma baktikanlah hidup di dunia ini untuk kepentingan bangsa dan negara ini, bukan kepentingan pribadi dan golongan, sehingga akan sempurnalah badan kasar kita ini. Sehingga kita akan menjadi layak untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi ini, dan kelak setelah kita mati, raga kitapun akan dapat menyuburkan tanah ini dan tetap berhasil guna bagi kehidupan di dunia ini !

Sedikit lagi bercerita tentang Eyang Rahajoe, pencapaian beliau dalam hal samadhi memang melebihi pencapaian pakdhe saya. Namun, menjelang beliau meninggal, beliau justru mengakui kehebatan pakdhe saya, beliau mengatakan bahwa yang benar dan yang terbaik adalah seperti yang pakdhe saya lakukan, yaitu mencapai kesempurnaan badan halus dan badan kasar seperti yang saya sampaikan di atas.

Eyang Rahajoe ini mungkin seperti yang banyak orang gambarkan sebagai Mesias/Avatar, dan Eyang Rahajoe ini adalah salah satu Mesias yang nyata-nyata saya kenal dan saya jumpai dalam kehidupan ini, selain mesias-mesias lain yang pernah saya temui, baik di alam jaga, maupun alam samadhi.

Bagi beliau, menghidupkan orang mati segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau hanya sekedar ingin mendapatkan barang pusaka. Hehehe, maaf bila tersinggung, bagi beliau itu hanyalah mainannya anak kecil.

Pernah suatu ketika mobil yang kami tumpangi terperosok hingga mogok di kubangan lumpur. Berbagai upaya kami lakukan agar mobil tersebut bisa terbebas dari kubangan lumpur tersebut namun tetap tidak berhasil. Eyang Rahajoe datang mendekat lalu jongkok di dekat ban mobil yang kami tumpangi, lalu beliau tampak menggapai ke sebuah tempat kosong di atas sebelah kanannya, tiba-tiba di tangan kanan beliau tersebut tampak sudah tergenggam sebilah keris.

Keris tersebut beliau pergunakan untuk membersihkan roda mobil kami yang terkena lumpur. Setelah selesai membersihkannya dan mobil yang kami tumpangi bisa berjalan normal, beliau lalu ingin melempar/membuang keris tersebut begitu saja, namun salah seorang dari kami berteriak memohon agar keris pusaka tersebut jangan di kembalikan ke alamnya, namun salah seorang dari kami tersebut mohon ijin untuk memiliki keris tersebut. Eyang Rahajoe mengijinkan, dan keris tersebut hingga kini masih di cari serta di buat rebutan banyak orang.

Bercerita tentang kehebatan Eyang Rahajoe, tidak cukup hanya dalam waktu sehari dua hari, karena banyak hal yang beliau lakukan yang di luar jangkauan akal pikiran manusia, dan bahkan dianggap oleh sebagian besar masyarakat ini sebagai hal-hal yang mitos, tidak pernah terjadi. Namun, tidak sedikit yang menjadi saksi akan kehebatan beliau ini.

Beliau juga mengatakan bahwa galaksi itu ada jutaan jumlahnya, dan di setiap galaksi  memiliki matahari, dan setiap ada matahari, di situ juga ada bumi, dan di mana ada bumi, di situpun juga ada manusia sebagai penghuninya. Sepertinya tidak masuk akal, memang, namun kelak hal inipun pasti akan terbukti kebenarannya, seperti ketika saya masih kecil, beliau berkata bahwa beliau senang bermain Handphone di galaksi lain. Begitu saya dewasa, handphone baru mulai di kenalkan di muka bumi ini.

Sebelum beliau meninggal, beliau juga memperkenalkan kepada kami teman-temannya dari galaksi-galaksi lain. Wah, sebentar, sebentaaaar … koq jadi banyak bercerita tentang Eyang Rahajoe ? Apa kaitannya dengan judul yang tengah di bahas ?

Seperti yang telah saya sampaikan di awal-awal tadi, penulisan artikel ini di dasari dari wejangan tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi, dan di sini, di akhir penulisan artikel ini, saya juga merasa perlu menuliskan pesan terakhir dari Eyang Rahajoe ini. Sehingga wajarlah jika saya sedikit memberikan gambaran, seperti apakah sosok/tokoh yang saya sebut sebagai Eyang Rahajoe ini.

Akhir kata, inilah pesan terakhir beliau yang di sampaikan kepada kami :

“ Contohlah pak Toeloes, beliau adalah orang yang hebat. Memang semestinya manusia itu menjadi seorang Satriya yang Pinandhita, bukan hanya sekedar menjadi Pandhita …Tetepi kasatriyanmu, baktikan hidupmu untuk Nusa, Bangsa dan Negara, sambil senantiasa sembahyang (samadhi) untuk mencapai  ‘alam kamardhikan’,  agar sempurnalah hidupmu kelak ! “

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s