Beranda > Ngelmu Jawa > TUNTUNAN SAMADHI 2

TUNTUNAN SAMADHI 2

Sebagai lanjutan dari artikel sebelumnya, yaitu Tuntunan Samadhi 1 (bagi yang belum sempat membacanya, bisa di klik di sini), di sini saya akan menggambarkan proses selanjutnya dari proses samadhi itu. Sekali lagi mohon maaf sebelumnya, bukan maksud saya untuk menggurui siapapun, namun saya hanya ingin menularkan apa yang pernah saya pelajari dan saya ketahui, berdasarkan pemahaman serta pengalaman saya pribadi dalam hal ber samadhi.

Semestinya tanpa saya ulaspun, asalkan ajeg, dengan tata, titi, teliti, telaten nganti atul, para sahabat sekalian akan bisa mencapai alam selanjutnya. Sehingga tanpa saya gambarkan atau saya ulaspun, para sahabat yang baru mulai belajar samadhi bisa merasakan kondisi-kondisi yang akan saya gambarkan di sini.

Apa yang saya gambarkan di sini, inipun hanya sebatas pemahaman saya, karena alam-alam yang akan saya urai dan ulas ini sangatlah sulit untuk di gambarkan dengan kata-kata, jadi sekali lagi, ini hanya sebatas gambaran, yang mana tetap nantinya para sahabat yang baru mulai belajar samadhi harus mengalaminya sendiri. Dan memang harus begitu, karena itulah maksud saya dari awal pembuatan blog ini, yaitu memperkenalkan sekaligus mengajak para sahabat sekalian untuk mengalaminya sendiri, membuktikan sendiri.

APA KEGUNAAN BERSAMADHI ?

Maaf, saya nampaknya lupa untuk menjelaskan, sebenarnya apa kegunaan bersamadhi ini.

Samadhi ini banyak kegunaannya, di antaranya adalah :

1. Dengan terbiasa bersamadhi, hati dan pikiran kita akan menjadi jernih, sehingga setiap kita akan melangkah atau bertindak, jika sebelumnya di awali dengan samadhi, hasilnya pasti akan jauh lebih baik daripada yang tidak ber samadhi.

2. Meruhi sangkan paraning dumadi, mengetahui kemana kelak kita akan kembali, sehingga, kelak pada saat kita harus ‘pulang’, kita sudah tidak kaget lagi karena sudah sering melewatinya melalui samadhi yang sering kita lakukan selama kita masih hidup di dunia.

3. Ngupadi kasampurnaning gesang. Mencari kesempurnaan hidup, lahir maupun batin. Jika sampai kita kanugrahan dalam samadhi kita dan kita bisa mardhika serta nunggil denganNYA, kita akan tahu, tugas-tugas maupun hutang piutang yang belum kita selesaikan di kehidupan sebelumnya, sehingga kita bisa menggenapinya di kehidupan ini agar tidak ‘nunggak kelase’, agar ‘lulus sekolahe’, hingga kelak tidak perlu terlahir lagi ke dunia untuk mengulang ‘mata pelajaran-mata pelajaran’ yang sama.

Saya rasa cukup tiga hal tersebut di atas saya menjelaskan tentang kegunaan bersamadhi.

MERUHI DHIRI PRIBADHI

‘Gerbang” yang saya maksudkan di sini adalah liyep layaping aluyup seperti yang saya tulis dalam artikel sebelumnya, yaitu Tuntunan Samadhi 1.

Pencapaian itu bukanlah hal yang sepele, namun itu adalah merupakan salah satu anugerah terindah bagi kita para pelaku olah batin, olah samadhi, yang mempunyai kegunaan yang tidak sedikit, oleh karenanya janganlah di sepelekan agar kita tidak antuk siku dari Hyang Murbeng Gesang.

Kegunaannya salah satunya adalah dengan tercapainya ‘pintu gerbang’ tersebut, berarti kita tinggal melanjutkan perjalanan selanjutnya yang juga tidak kalah sulitnya, seperti yang akan saya gambarkan di sini. Sampai di gerbang tersebut, berarti perjalanan kita sudah benar dan tepat. Sampai di liyep layaping aluyup tersebut, jika hanya ingin menjadi seorang paranormal, sahabat sekalian berarti sudah mendapatkannya, namun secara tegas saya menyatakan bahwa saya tidak menyarankan untuk itu, karena dengan kita senang dengan hal itu, karem disitu, itu justru akan menghambat proses perjalanan kita selanjutnya.

Setelah liyep layaping aluyup, kita harus terus melanjutkan perjalanan. Tetap seperti di awal mula kita mulai, aja nduweni penganggep, aja nduweni pengarep-arep, aja kagetan, aja gumunan.

Pandangan mata tetap ke pucuking grana, dan tetap rambatan tali keluar masuknya nafas, artinya, tetap merasakan keluar masuknya nafas.

Sesudah itu keadaan semakin lama semakin luyut, seperti ngantuk dan ngelangut, namun jangan sampai tertidur, karena begitu kita tertidur, berarti kita harus mengulang dari awal lagi.

Selanjutnya, semakin lama akan semakin luyut lagi, semakin ngelangut lagi, hingga suatu ketika kita seakan terlupa bahwa kita tengah berada di suatu tempat dan tengah bersamadhi, kitapun juga tidak terasa lagi bahwa kita masih bernafas. Kita seakan terlupa akan semua hal itu. Saat itu yang kita ingat dan memang harus selalu kita ingat dari awal, adalah manembah kepadaNYA. Sampai di sini, kita telah menginjak ke satu alam di atasnya lagi, alam di atas pencapaian kita seperti yang tergambar dalam artikel Tuntunan Samadhi 1.

Sampai di sini, kita harus semakin sareh, semakin sabar, jangan tergesa-gesa, tetap pasrah, sumarah, dan sekali lagi tetap harus awas emut, tetep juga aja kagetan, aja gumunan, aja duweni penganggep, aja duweni pengarep-arep. Sedikit saja muncul keinginan akan sesuatu, sedikit saja nduweni penganggep dan lain sebagainya tadi, kita akan gagal dan kembali harus mengulang dari awal lagi.

Namun, jika kita berhasil melewati kesemua hal itu tadi, disitu kita akan bertemu dengan sosok yang wajahnya seperti wajah kita, atau yang sering di sebut sebagai PRIBADHI / DHIRI PRIBADHI. Mangga, para sahabat akan menyebutnya sebagai apa, namun yang jelas dan pasti, ya seperti itu.

JAGAD AGUNG GINULUNG LAN JAGAD ALIT

Sampai pada tahap tersebut, semestinya sudah tidak ada yang perlu saya gambarkan lagi. Sampai pada tahap itu, apa yang ingin kita ketahui bisa terjawab secara jauh lebih gamblang lagi jika dibandingkan dengan tahap sebelumnya, yaitu tahap liyep layaping aluyup.

Namun saya tetap menganjurkan, untuk terus melangkah, terus melanjutkan perjalanan batin kita, hingga suatu saat, kita akan mencapai suatu keadaan dimana Jagad Agung ginulung lan jagad alit.

Untuk mencapai keadaan tersebut, keadaan dimana Jagad Agung ginulung lan Jagad Alit, hanya kewaspadaan kita yang bisa kita andalkan, hanya Dhiri Pribadhi kita yang bisa kita andalkan. Tanpa kewaspadaan kita, tanpa awas emut, kita tidak akan bisa awor, manunggal, anggambuh mring Hyang Wisesa.

Sampai di sini, keadaannya seperti yang di gambarkan dalam sebuah kalimat dalam sebuah tembang Jawa karya KGPAA Mangkunegara IV di Serat Wedhatama ;

Yeku wenganing kalbu, / Kabukane kang wengku winengku, / Wewengkone wis kawengku neng sireki, / Nging sira uga kawengku, / Mring kang pindha kartika byor ………….

Rasanya sudah lebih dari cukup saya menuliskan artikel tentang Tuntunan Samadhi ini, semoga bermanfaat bagi para sahabat semua, bagi Nusa dan Bangsa ini, serta bagi hidup dan kehidupan di Jagad Raya ini.

Mugya rahayu sagung tumitah kang dumadi,

Hayu, hayu, hayu, nir ing sambekala satuhu …..

  1. 30 Mei 2012 pukul 3:13 am

    kulonuwun ki lurah…
    sebelumnya sy mt maaf ki jk pertanyaan ini krg berkenan..
    bgmn cara agar kt bs kembali seperti semula setelah samadhi kt sdh berhasil..
    bknkah artikel d atas kl sdh berhasil TERASA LUPA KL KT MSH BERNAFAS,,LUPA KL KT DUDUK DLM SAMADHI..
    tlg pencerahanya ki..
    matur nuwun..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s