Beranda > Sejarah > AGAMA ASLI NUSANTARA

AGAMA ASLI NUSANTARA

Agama asli Nusantara adalah agama lokal, agama tradisional yang telah ada sebelum agama Hindu, Budha, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Islam dan Konghucu masuk ke Nusantara (Indonesia).

Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama “resmi” (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, BantenSunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di  Jawa Tengah dan  Jawa Timuragama Parmalim, agama asli Batak; agama Kaharingan di  Kalimantankepercayaan Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi UtaraTolottang di Sulawesi SelatanWetu Telu di LombokNaurus di Pulau Seram di Propinsi Maluku, dll.

Didalam Negara Republik Indonesia, agama-agama asli Nusantara tersebut di degradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan.

 

Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil ,dsb. Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, Agama Asli Nusantara semakin punah dan menghilang, kalaupun ada yang menganutnya, biasanya berada didaerah pedalaman seperti contohnya pedalaman  Sumatra dan pedalaman  Irian Jaya.

Di  Indonesia, aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang. Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan. Data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih.

Daftar Agama Asli Nusantara (kepercayaan)

  • Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
  • Agama Jawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)
  • Buhun (Jawa Barat)
  • Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
  • Parmalim (Sumatera Utara)
  • Kaharingan (Kalimantan)
  • Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
  • Tolottang (Sulawesi Selatan)
  • Wetu telu (Lombok)
  • Naurus (pulau Seram, Maluku)
  • Aliran Mulajadi Nabolon
  • Marapu (Sumba)
  • Purwaduksina
  • Budi Luhur
  • Pahkampetan
  • Bolim
  • Basora
  • Samawi
  • Sirnagalih

1. Sunda Wiwitan

 

Sunda Wiwitan (Bahasa Sunda : “Sunda permulaan”, “Sunda sejati”, atau “Sunda asli”) adalah agama atau kepercayaan asli masyarakat Sunda yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes,  Lebak,  banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul,  Cisolok, Sukabumi;  Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu.

Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Buddha, melainkan penganut ajaran leluhur, yaitu kepercayaan asli nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran “Jatisunda“.

Mitologi dan sistem kepercayaan

Kekuasaan tertinggi berada pada Sang  Hyang Kersa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa),Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Dia bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala.

Ada tiga macam alam dalam kepercayaan Sunda Wiwitan seperti disebutkan dalam pantun mengenai mitologi orang Kanekes:

  1. Buana Nyungcung: tempat bersemayam Sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas
  2. Buana Panca Tengah: tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, letaknya di tengah
  3. Buana Larang: neraka, letaknya paling bawah

Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapis alam yang tersusun dari atas ke bawah. Lapisan teratas bernama Bumi Suci Alam Padang atau menurut kropak 630 bernama Alam  Kahyangan atau Mandala Hyang. Lapisan alam kedua tertinggi itu merupakan alam tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan Sunan Ambu.

Sang Hyang Kersa menurunkan tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Salah satu dari tujuh batara itu adalah Batara Cikal, paling tua yang dianggap sebagai leluhur orang Kanekes. Keturunan lainnya merupakan batara-batara yang memerintah di berbagai wilayah lainnya di tanah Sunda. Pengertian nurunkeun (menurunkan) batara ini bukan melahirkan tetapi mengadakan atau menciptakan.

 

Filosofi

 

Paham atau ajaran dari suatu agama senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan yang tersirat. Unsur yang tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas ajaran tersebut. Ajaran Sunda Wiwitan pada dasarnya berangkat dari dua prinsip, yaitu Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa.

Cara Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada lima unsur yang termasuk di dalamnya:

  • Welas asih: cinta kasih
  • Undak usuk: tatanan dalam kekeluargaan
  • Tata krama: tatanan perilaku
  • Budi bahasa dan budaya
  • Wiwaha yudha naradha: sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya

Kalau satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka manusia pasti tidak akan melakukannya.

Prinsip yang kedua adalah Cara Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memang mempunyai kesamaan di dalam hal Cara Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antar manusia tersebut didasarkan pada Cara Ciri Bangsa yang terdiri dari:

  • Rupa
  • Adat
  • Bahasa
  • Aksara
  • Budaya

Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Sunda Wiwitan, yang bernama Siksa Kanda-ng karesian. Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa yang tersirat. Apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan.

Awalnya, Sunda Wiwitan tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Tabu utama yang diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua.

  • Yang tidak disenangi orang lain dan yang membahayakan orang lain
  • Yang bisa membahayakan diri sendiri

Akan tetapi karena perkembangannya, untuk menghormati tempat suci dan keramat (Kabuyutan, yang disebut Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas) serta menaati serangkaian aturan mengenai tradisi bercocok tanam dan panen, maka ajaran Sunda Wiwitan mengenal banyak larangan dan tabu. Tabu (dalam bahasa orang Kanekes disebut “Buyut”) paling banyak diamalkan oleh mereka yang tinggal di kawasan inti atau paling suci, mereka dikenal sebagai orang Baduy Dalam.

 

Tradisi

Dalam ajaran Sunda Wiwitan terdapat tradisi nyanyian pantun dan kidung serta gerak tarian. Tradisi ini dapat dilihat dari upacara syukuran panen padi dan perayaan pergantian tahun yang berdasarkan pada penanggalan Sunda yang dikenal dengan nama Perayaan Seren Taun. Di berbagai tempat di Jawa Barat, Seren Taun selalu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan orang. Perayaan Seren Taun dapat ditemukan di beberapa desa seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan  Cigugur, Kuningan. Di Cigugur, Kuningan sendiri, satu daerah yang masih memegang teguh budaya Sunda, mereka yang ikut merayakan Seren Taun ini datang dari berbagai penjuru negeri.

Meskipun sudah terjadi inkulturasi dan banyak orang Sunda yang memeluk agama-agama di luar Sunda Wiwitan, paham dan adat yang telah diajarkan oleh agama ini masih tetap dijadikan penuntun di dalam kehidupan orang-orang Sunda. Secara budaya, orang Sunda belum meninggalkan agama Sunda ini.

 

2. Agama Djawa Sunda

Agama Djawa Sunda (sering disingkat menjadi ADS) adalah nama yang diberikan oleh pihak antropolog Belanda terhadap kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitanajaran Madrais atau agama Cigugur. Abdul Rozak, seorang peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dari agama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur di Kabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di  Kabupaten Lebak, para pemeluk “Agama Kuring” di daerah Kecamatan  Ciparay, Kabupaten Bandung, dll.

Jumlah pemeluknya di daerah Cigugur sekitar 3.000 orang. Bila para pemeluk di daerah-daerah lain ikut dihitung, maka jumlah pemeluk agama Buhun ini, menurut Abdul Rozak, mencapai 100.000 orang, sehingga agama Buhun termasuk salah satu kelompok yang terbesar di kalangan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Agama Djawa Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Oleh pemerintah Belanda, Madrais belakangan ditangkap dan dibuang ke  Ternate, dan baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya.

Madrais — yang biasa juga dipanggil Kiai Madrais — adalah keturunan dari  Kesultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah  Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur. Sang pangeran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa, dibesarkan dalam tradisi  Islam dan tumbuh sebagai seorang spiritualis. Ia mendirikan  pesantren sebagai pusat pengajaran agama Islam, namun kemudian mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris. Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Jawa-Sunda.

 

Ajaran dan ritual dalam ADS

Madrais menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya  Seren Taun yang diperingati secara besar-besaran. Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan pada 1860, dan yang kini dihuni oleh Pangeran  Djatikusuma.

Dalam upacara ini, berbagai rombongan dari masyarakat datang membawa bermacam-macam hasil bumi. Padi-padian yang dibawa, kemudian ditumbuk beramai-ramai dalam lesung sambil bernyanyi (ngagondang). Upacara ini dirayakan sebagai ungkapan syukur untuk hasil bumi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Upacara “Seren Taun” yang biasanya berlangsung hingga tiga hari dan diwarnai oleh berbagai kesenian daerah ini, pernah dilarang oleh pemerintah Orde Baru selama 17 tahun, namun kini upacara ini dihidupkan kembali. Salah satu upacara “Seren Taun” pernah dihadiri oleh Menteri Perindustrian, Andung A Nitimiharja, mantan Presiden RI,  Abdurrahman Wahid, dan istri, serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya.

Madrais juga mengajarkan penghormatan terhadap  Dewi Sri  (Sanghyang Sri) melalui upacara-upacara keagamaan penanaman padi.

Selain itu karena non muslim Agama Djawa Sunda atau ajaran Madrais ini tidak mewajibkan khitanan. Jenazah orang yang meninggal harus dikuburkan dalam sebuah peti mati.

 

Masa depan ADS

 

Di masa pemerintahan Orde Baru, para pemeluk agama ini mengalami kesulitan karena pemerintah hanya mengakui keberadaan lima agama, hingga akhirnya banyak pengikutnya yang kemudian memilih untuk memeluk Islam atau Katolik.

Kiai Madrais wafat pada tahun 1939, dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Tedjabuana, dan kemudian oleh cucunya, Pangeran Djatikusuma yang  11 juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU).

Pangeran Djatikusuma telah mempersiapkan anak laki-laki satu-satunya, yaitu  Gumirat Barna Alam, untuk meneruskan ajaran ini. Menurut ajaran Kiai Madrais, anak lelaki harus bersikap netral, dan dapat mengerti semua agama. Sementara anak-anak Pangeran Djatikusuma lainnya, bebas memilih agama ataupun kepercayaan lain.

 

3. Kejawen

Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama asli Nusantara. Seorang ahli anthropologi Amerika Serikat,  Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut “Agami Jawi”.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta  filosofii orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa.

Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku. Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau  Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.

Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang,  ritual, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang yang tidak memahami yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik  Hindu, Buddha, Islam, maupun  Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

 

Beberapa aliran kejawen

 

Terdapat ratusan aliran kejawen dengan penekanan ajaran yang berbeda-beda. Beberapa jelas-jelas sinkretik, yang lainnya bersifat reaktif terhadap ajaran agama tertentu. Namun biasanya ajaran yang banyak anggotanya lebih menekankan pada cara mencapai keseimbangan hidup dan tidak melarang anggotanya mempraktekkan ajaran agama (lain) tertentu.

Beberapa aliran dengan anggota besar
  • Padepokan Cakrakembang
  • Sumarah
  • Budi Dharma
  • Maneges

Aliran yang bersifat reaktif misalnya aliran yang mengikuti ajaran  Sabdopalon, atau penghayat ajaran  Syekh Siti Jenar.

 

4. Parmalim

Parmalim, adalah nama sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dibilang agama yang terutama dianut di  Propinsi Sumatra Utara. Agama Parmalim adalah agama asli suku  Batak.

Pimpinan Parmalim saat ini adalah  Raja marnangkok Naipospos.

Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak dahulu kala. “Tuhan Debata Mulajadi Nabolon” adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh “Umat Ugamo Malim” (“Parmalim”).

 

5. Kaharingan

 

Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah  kepercayaan/agama lokal  suku  Dayak di  Kalimantan Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap  Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Karena Pemerintah  Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu  agama yang diakui Pemerintah, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti  Tolottang (Hindu Tolottang)  pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori  agama Hindu sejak 20 April 1980, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai  Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying.

Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat Ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di  Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.

Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yang dinamakan Balai Basarah atau BALAI KAHARINGAN. Kitab suci agama mereka adalah  Panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.

Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam  Kartu Tanda Penduduk. Dengan demikian, suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara. Hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik Kalteng mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan di Indonesia.

Tetapi di  Malaysia Timur ( Sarawak dan Sabah ), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama  Hindu, jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah  majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) pusatnya di  Palangkaraya, Kalimantan Tengah

 

6. Wetu Telu

Wetu Telu (Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat  suku Sasak yang mendiami  pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam di masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.

 

Sejarah

Konon, sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinemisme kemudian  Hindu. Islam pertama kali masuk melalui para wali dari pulau Jawa yakni sunan Prapen pada sekitar abad XVI, setelah runtuhnya  Kerajaan Majapahit. Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah  Bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja.

Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan “Waktu Telu” sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme, dinamisme dan kerpercayaan Hindu. Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan “Waktu Lima” karena menjalankan kewajiban salat Lima Waktu).Yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian,kelahiran,penyembelihan hewan,selamatan dsb) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.

 

Lokasi

 

Lokasi yang terkenal dengan praktik Wetu Telu di Lombok adalah daerah Bayan, yang terletak di Kabupaten Lombok Barat. Pada lokasi ini masih dapat ditemukan  masjid yang digunakan oleh para penganut Wetu Telu. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa. Namanya  Kemaliq yang artinya tabu, suci dan sakral.terletak di desa Lingsar Kabupaten Lombok Barat, yang setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama Upacara Pujawali Dan Perang Topat sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Tuhan YME pada umat manusia.

 

7. Marapu

Marapu adalah sebuah agama lokal yang dianut oleh masyarakat di  Pulau Sumba. Agama ini merupakan kepercayaan peninggalan nenek moyang dan leluhur. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini.

Pemeluk agama ini percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu.

upacara keagamaan marapu ( seperti upacara kematian dsb) selalu diikuti dengan pemotongan hewan seperti kerbau dan kuda swebagai korban sembelihan, dan hal itu sudah menjadi tradisi turun – temurun yang terus di jaga di Sumba.

 

AGAMA MARAPU


Agama Marapu adalah “agama asli” yang masih hidup dan dianut oleh orang Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dalam bahasa Sumba arwah-arwah leluhur disebut Marapu , berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Karena itu agama yang mereka anut disebut Marapu pula. Marapu ini banyak sekali jumlahnya dan ada susunannya secara hirarki yang dibedakan menjadi dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu RatuMarapu ialah arwah leluhur yang didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas, clan), sedangkan Marapu Ratu ialahmarapu yang dianggap turun dari langit dan merupakan leluhur dari para marapu lainnya, jadi merupakan marapu yang mempunyai kedudukan yang tertinggi. Kehadiran para marapu di dunia nyata diwakili dan dilambangkan dengan lambang-lambang suci yang berupa perhiasan mas atau perak (ada pula berupa patung atau guci) yang disebut Tanggu Marapu. Lambang-lambang suci itu disimpan di Pangiangu Marapu, yaitu di bagian atas dalam menara uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) suatu kabihu. Walaupun mempunyai banyak Marapu yang sering disebut namanya, dipuja dan dimohon pertolongan, tetapi hal itu sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Yang Maha Pencipta. Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para leluhur itu sendiri, tetapi kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Pencipta dan Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan adanya Yang Maha Pencipta biasanya dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat kiasan, itu pun hanya dalam upacara-upacara tertentu atau peristiwa-peristiwa penting saja. Dalam keyakinanMarapu, Yang Maha Pencipta tidak campur tangan dalam urusan duniawi dan dianggap tidak mungkin diketahui hakekatnya sehingga untuk menyebut nama-Nya pun dipantangkan. Sedangkan para Marapu itu sendiri dianggap sebagai media atau perantara untuk menghubungkan manusia dengan Penciptanya. Kedudukan dan peran para Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi papakalangu – ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya. Selain memuja arwah leluhur, juga percaya bahwa benda-benda dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya berjiwa dan berperasaan seperti manusia, dan percaya tentang adanya kekuatan gaib pada segala hal atau benda yang luar biasa. Untuk mengadakan hubungan dengan para arwah leluhur dan arwah-arwah lainnya, orang Sumba melakukan berbagai upacara keagamaan yang dipimpin oleh ratu (pendeta) dan didasarkan pada suatu kalender adat yang disebut Tanda Wulangu. Kalender adat itu tidak boleh diubah atau ditiadakan karena telah ditetapkan berdasarkan nuku-hara (hukum dan tata cara) dari para leluhur. Bila diubah dianggap akan menimbulkan kemarahan para leluhur dan akan berakibat buruk pada kehidupan manusia. Dalam kepercayaan agama Marapu, roh ditempatkan sebagai komponen yang paling utama, karena roh inilah yang harus kembali kepada Mawulu Tau-Majii Tau. Roh dari orang yang sudah mati akan menjadi penghuni Parai Marapu (negeri arwah, surga) dan dimuliakan sebagai Marapu bila semasa hidupnya di dunia memenuhi segala nuku-hara yang telah ditetapkan oleh para leluhur. Menurut kepercayaan tersebut ada dua macam roh, yaitu hamangu (jiwa, semangat) dan ndiawa atau ndewa (roh suci, dewa). Hamangu ialah roh manusia selama hidupnya yang menjadi inti dan sumber kekuatan dirinya. Berkat hamangu itulah manusia dapat berpikir, berperasaan dan bertindak. Hamangu akan bertambah kuat dalam pertumbuhan hidup, dan menjadi lemah ketika manusia sakit dan tua. Hamangu yang telah meninggalkan tubuh manusia akan menjadi makhluk halus dengan kepribadian tersendiri dan disebut ndiawa. Ndiawa ini ada dalam semua makhluk hidup, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan, yang kelak menjadi penghuni parai marapu pula. Hampir seluruh segi-segi kehidupan masyarakat Sumba diliputi oleh rasa keagamaan. Bisa dikatakan agama Marapu sebagai inti dari kebudayaan mereka, sebagai sumber nilai-nilai dan pandangan hidup serta mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Karena itu tidak terlalu mudah mereka melepaskan keagamaannya untuk menjadi penganut agama lain. Walaupun dalam budaya Sumba tidak dikenal bahasa tulisan, orang Sumba mempunyai kesusasteraan suci yang hidup dalam ingatan para ahli atau pemuka-pemuka agama mereka. Kesusasteraan suci ini disebut Lii Ndai atau Lii Marapu yang diucapkan atau diceriterakan pada upacara-upacara keagamaan diiringi nyanyian adat. Kesusasteraan suci dianggap bertuah dan dapat mendatangkan kemakmuran pada warga komunitas dan kesuburan bagi tanaman serta binatang ternak. Upacara-upacara keagamaan dan lingkaran hidup yang mereka laksanakan, terutama upacara kematian, diselenggarakan secara relatif mewah sehingga memberi kesan pemborosan. Namun bagi orang Sumba, hal tersebut mereka lakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Yang Maha Esa, tanda hormat dan bakti pada para leluhur, serta menjalin rasa solidaritas kekerabatan diantara mereka. Pada setiap upacara keagamaan berbagai bentuk kesenian biasanya ditampilkan pula. Dapat dikatakan bahwa kesenian merupakan pengiring bagi religi mereka. Upacara-upacara keagamaan di Sumba selalu dianggap keramat, karena itu tempat-tempat upacara, saat-saat upacara, benda-benda yang merupakan alat-alat dalam upacara serta orang-orang yang menjalankan upacara dianggap keramat pula. Mereka menyembah Mawulu Tau — Majii Tau dengan perantaraan para marapu yang merupakan media antara manusia dengan Penciptanya. Setiap kabihu mempunyai marapu sendiri yang dipujanya agar segala doa dan kehendaknya disampaikan kepada Maha Pencipta. Para marapu itu diupacarakan dan dipuja di dalam rumah-rumah yang didiami oleh warga suatu kabihuterutama di rumah yang disebut uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) atau uma bungguru (rumah persekutuan). Di dalam rumah itulah dilakukan upacara-upacara keagamaan yang menyangkut kepentingan seluruh warga kabihu, misalnya upacara kelahiran, perkawinan, kematian, menanam, memungut hasil dan sebagainya. Tempat upacara pemujaan kepada paramarapu bukan hanya di dalam rumah saja, tetapi juga di luar rumah, yaitu di katoda, tempat upacara pamujaan di luar rumah berupa tugu (semacam lingga-yoni) yang dibuat dari sebatang kayu kunjuru atau kayu kanawa yang pada sisi-sisinya diletakkan batu pipih. Di atas batu pipih inilah bermacam-macam sesaji, seperti pahapa (sirih pinang), kawadaku(keratan mas) dan uhu mangejingu (nasi kebuli) diletakkan untuk dipersembahkan kepada Umbu-Rambu (dewa-dewi) yang berada di tempat itu. Di dalam suatu paraingu biasanya terdapat pemujaan kepada satu marapu ratu (maha leluhur). Misalnya, maha leluhur di Umalulu ialah Umbu Endalu dan dipuja dalam suatu rumah kecil yang tidak dihuni manusia, karena itu rumah pemujaan tersebut bernama Uma Ndapataungu (rumah yang tak berorang) yang dalam luluku (bahasa puitis, berbait)disebut sebagai Uma Ndapataungu — Panongu Ndapakelangu (rumah yang tak berorang dan tangga yang tak berpijak). Menurut kepercayaan orang Umalulu, Umbu Endalu mendiami rumah tersebut secara gaib. Secara lahir rumah itu tampak kecil saja, tetapi secara gaib rumah itu sebenarnya merupakan rumah besar. Mereka menganggap Umbu Endalu senantiasa berada di dalam rumah tersebut, karena itu tangga untuk naik turun ke rumah selalu disandarkan. Rumah permujaan Uma Ndapataungu disebut juga Uma Ruu Kalamaku (rumah daun keIapa) karena atapnya dibuat dari daun kelapa; dan Uma Lilingu (rumah pemali), karena untuk datang dan membicarakan rumah tersebut harus menurut adat atau tata cara yang telah ditetapkan oleh para leluhur pula. Uma Ndapataungu berbentuk uma kamudungu (rumah tak bermenara) dan menghadap ke arah tundu luku (menurut aliran air sungai, hilir ) serta terletak di bagian kani padua (pertengahan, pusat) dari Paraingu Umalulu. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah pemujaan itu ialah kayu ndai linga atau ai nitu (cendana) yang digunakan untuk tiang-tiang (jumlah seluruh tiang dari rumah pemujaan ini ada enam belas buah tiang), atap dan dinding dari bahan ruu kalamaku (daun kelapa), tali pengikat dari bahan huaba (selubung mayang kelapa). Bahan-bahan tersebut harus diambil dari suatu tempat yang bernama Kaali — Waruwaka dan sekitarnya. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan di Uma Ndapataunguialah upacara Pamangu Kawunga yang dilaksanakan empat tahun sekali, yaitu bertepatan dangan diperbaikinya tempat pemujaan tersebut; dan upacara Wunda lii hunggu — Lii maraku, yaitu upacara persembahan yang dilaksanakan setiap delapan tahun sekali. Menurut pandangan orang Sumba, manusia merupakan bagian dari alam semesta yang tak terpisahkan. Hidup manusia harus selalu disesuaikan dengan irama gerak alam semesta dan selalu mengusahakan agar ketertiban hubungan antara manusia dengan alam tidak berubah. Selain itu manusia harus pula mengusahakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang ada di setiap bagian alam semesta ini. Bila selalu memelihara hubungan baik atau kerja sama antara manusia dengan alam, maka keseimbangan dan ketertiban itu dapat dipertahankan. Hal tersebut berlaku pula antara manusia yang masih hidup dengan arwah-arwah dari manusia yang sudah mati. Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhurnya. Mereka beranggapan bahwa para arwah leluhur itu selalu mengawasi dan menghukum keturunannya yang telah berani melanggar segala nuku — hara sehingga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya terganggu. Untuk memulihkan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia terhadap alam sekitarnya dan mengadakan kontak dengan para arwah leluhurnya, maka manusia harus melaksanakan berbagai upacara. Saat-saat upacara dirasakan sebagai saat-saat yang dianggap suci, genting dan penuh dengan bahaya gaib. Oleh karena itu, saat-saat upacara harus diatur waktunya agar sejajar dengan irama gerak alam semesta. Pengaturan waktu untuk melakukan berbagai upacara itu didasarkan pada kalender adat, tanda wulangu. Dalam jangka waktu kehidupan tiap individu dalam masyarakat Sumba ada saat yang dianggap genting atau krisis, yaitu saat kelahiran, menginjak dewasa, perkawinan dan kematian. Pada saat-saat seperti itulah upacara keagamaan biasanya dilaksanakan. (P. Soeriadiredja). MARAPU : AGAMA ASLI ORANG UMALULU di SUMBA TIMUR

(P. Soeriadiredja, LABANT – FS UNUD, DENPASAR 2002)

Makna istilah “agama” sering menimbulkan banyak kontroversi yang lebih besar daripada arti penting permasalahannya. Pada umumnya di Indonesia, istilah agama digunakan untuk menyebut semua agama yang diakui secara resmi oleh negara, seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Sedangkan semua sistem keyakinan yang tidak atau belum diakui secara resmi disebut “religi” (Koentjaraningrat, 1974:137-142). Untuk menyatukan persepsi dan tidak menimbulkan perdebatan berkepanjangan, serta pertimbangan bahwa suatu sistem keyakinan atau religi merupakan suatu agama hanya bagi penganutnya, dan juga melihat situasi dari yang menghayatinya, meyakininya dan mendapat pengaruh darinya, maka dalam pembahasan ini akan digunakan istilah “agama” saja untuk menyebut suatu sistem keyakinan yang dianut oleh masyarakat penganutnya. Pernyataan tersebut penulis tekankan karena bertujuan hendak mendekati agama sebagai bagian dari kehidupan sosio-kultural dari masyarakat yang bersangkutan. Jadi terlepas dari kekeramatan dan kesucian yang terkait padanya secara dogmatis. Hendak melihat suatu kenyataan dari sudut pandang pelaku. Secara umum, Parsudi Suparlan (dalam Robertson,1988:v-xvi) mendefinisikan agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat. Karena itu pula agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya. Sebagai inti dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan, sistem keyakinan ini seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai tersebut yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai tersebut sukar diganti dengan nilai-nilai lain (Koentjaraningrat,1974:13,32-33).

 

SUMBER : WIKIPEDIA

About these ads
  1. Red
    14 Januari 2011 pukul 12:49 pm | #1

    artikelnya mantap kang! saya selalu berpendapat jika agama2 besar dari luar itu kayak MNC (Multi National Corporation) s[pt KFC atau McD dan agama2 asli / lokal itu spt warteg. MnC bisa menyebar secara homogen di setiap negara sedangkan warteg di tiap daerah kan beda2 ragam dan rasanya.

    btw… itu floating images di bawah kok mengganggu yah? terlalu gede kang

    • 14 Januari 2011 pukul 6:58 pm | #2

      Tks sobat atas kunjungan serta commentnya …
      Hehehe …, perumpamaan yang menarik sobat … :)
      Floating images mengganggu, yah ?! Ok, tks byk atas masukannya, klo begitu nnt biar tak ilangin saja lah … Sekali lg tks byk, ya … :)

      • Ki Darmawiyata
        30 November 2011 pukul 7:56 pm | #3

        Bagi saya barang import bila baru datang dalam negeri untuk pertama kalinya, harus ada promosi, Biasanya pake bumbu “apus-apus” yang bukan “kasunyatan”. Setelah “laku”, maka kemasannya yang diperbaharui. Lha wong “barang” nya ya itu-itu saja, semenjak “product lounching” dari negri asalnya. Nah yang domestic, tidak butuh “promosi”, karenanya tidak perlu “ngapusi”. Tapi sejak zaman ja-majuja, silahkan setiap konsumen boleh “incip-incip”. Enak ya silahkan konsumsi terus, bahkan menjadi distributor resmi, mulai dari rohaniwan/wati di pelosok hingga sang penguasa. tapi bila ngga doyan barang import mbok yao jangan di ‘jagal’ suruh menelan/”nguntal”. inilah pelanggaran HAM. Berat lho konsekwensinya!

  2. iik
    17 Januari 2011 pukul 5:57 pm | #4

    belajar agama asli leluhur nusantar

    menurut uraian di atas, agama asli nusantara adalah ajaran agama turun-temurun dari nenek moyang, saya mau tanya, bagaimana nenek moyang nusantara ini berfikir bahwa tuhan2 itu adalah batu, atau benda2 lain? bagaimana cara nenek moyang menemukan teori keagamaan seperti itu?

    • 18 Januari 2011 pukul 1:34 am | #5

      Tks atas komentarnya, sdr Iik … :)
      Dalam kaitan ajaran leluhur, yang saya pahami adalah Kejawen, oleh karenanya saya akan menjawab pertanyaan anda dari sudut Kejawen.
      Dalam ajaran Kejawen, tidak ada anggapan atau ajaran bahwa Tuhan itu adalah batu. Tuhan adalah suatu kekuatan yang Maha segalanya di luar pemikiran manusia dan tidak terjangkau alam pemikiran manusia. Mungkin anda perlu mempertegas pertanyaan anda atau memberikan contoh-contoh tentang anggapan anda bahwa ajaran leluhur menganggap Tuhan adalah batu itu, sehingga sayapun bisa menjelaskan secara lebih gamblang.
      Sebelum dan sesudahnya, tks byk sobat, atas kunjungannya … :)

  3. iik
    18 Januari 2011 pukul 9:23 am | #6

    ya sama2,sdr elang bilang kejawen adalah ajaran leluhur, lantas siapakah leluhur Indonesia (orang pertaman yang hidup di Indonesia), & apa agamanya
    bagaimana cara nenek moyang menemukan teori ketuhanan, jika dalam Islam kan jelas seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, namun bagaimana dengan nenek moyang Indonesia? dan bagaimana nenek moyang indonesia bisa menemukan cara ritual kpd tuhan (dalam Islam sudah sangat jelas ritualnya berdasarkan Al-Quraan & Hadits)

    • 18 Januari 2011 pukul 10:08 pm | #7

      Kejawen, adalah ajaran leluhur manusia di tanah Jawa. Untuk mempersempit pembahasan, saya akan bicara tentang leluhur saya saja sesuai yang tercantum dalam silsilah keluarga saya. Dalam silsilah, leluhur saya jika diurutkan sampai jaman Majapahit, adalah Prabu Brawijaya V, namun melalui putra dari selir, yaitu Bondan Kejawan. Dalam Ajaran Kejawen yang di ajarkan secara turun temurun oleh leluhur saya, ritual dalam berketuhanan adalah dengan cara bersamadhi (atau ada juga orang umum yang bilang ber meditasi). Tentang apa dan bagaimana itu samadhi, saya juga sudah buat artikelnya di blog ini, kalau berkenan, anda juga bisa membacanya.
      Orang Jawa jaman dahulu, tidak ada yang beragama seperti agama-agama yang kita kenal sekarang, namun memeluk keyakinan seperti yang saya utarakan dalam artikel di atas. Jadi, dalam ajaran Kejawen, cara sembahyang dan ritual berketuhanannya ya dengan bersamadhi itu … :)

  4. iik
    19 Januari 2011 pukul 9:19 am | #8

    wah mas, kl sampai kerajaan majapahit berarti sudah masu hindu-budha dunk…

    memang agama nusantara yang ada pada zaman dahulu seperti yang mas utarakan (7 agama/keyakinan), namun yang saya tanyakan
    PENGHUNI NUSANTARA PERTAMA MENGANUT KEYAKINAN YANG MANA?
    mungkin menganut keyakinan sunda wiwitan atau mungkin yang wetu telu, jadi yang menganut yang mana mas???

    ritual kejawen yang mas bilang kan bersemedi, nah yang saya tanyakan itu
    Darimana para leleuhur bisa menerapkan bersemedi sebagai ritual dalam keyakinannya??
    mungkin para leluhur mendapat ilham atau mimpi yang menyuruhnya bersemedi, atau gimana gitu…

    • 19 Januari 2011 pukul 12:43 pm | #9

      Yang anda katakan benar, bahwa majapahit adalah MASA MASA KEJAYAAN KERAJAAN HINDU BUDDHA, namun perlu di garis bawahi, Prabu Brawijaya V bukanlah pemeluk salah satu agama tersebut. Saya mencontohkan Bondan Kajawan, prabu Brawijaya V, itu karena nama2 itu sangat dikenal oleh masyarakat umum. Kalau saya tarik lagi ke belakang, ke pribadi-pribadi yang menurunkan prabu Brawijaya V ataupun selir prabu Brawijaya V yang menurunkan Bondan Kejawan tersebut, saya yakin anda tidak akan mengenal nama-nama tersebut.

      Tidak usah jauh-jauh, pada masa mataram di mana Panembahan Senopati menjadi Raja, masa itu masih termasuk MASA KEJAYAAN ISLAM, namun Panembahan Senopati sendiri bukanlah penganut ajaran islam. Lebih dekat lagi, KGPAA Mangkunegara IV adalah Raja Mangkunegaran, masa itupun masa-masa kejayaan Islam, namun KGPAA Mangkunegara IV bukanlah pemeluk agama Islam, dan masih banyak contoh lagi.

      Agama yang di anut manusia Nusantara sebelum masuknya agama-agama yang di akui Indonesia saat ini, seperti yang sudah saya tulis di atas BERDASARKAN FAKTA SEJARAH YANG MASIH TETAP DI AKUI SAMPAI SAAT INI, yaitu yang hidup di pulau Jawa menganut Kejawen, yang di Sunda ada yang menganut Sunda Wiwitan, ADS dan lain sebagainya itu. Kalau anda ingin mengetahui lebih jauh, darimana para sejarawan bisa menyimpulkan hal tersebut, LEBIH TEPATNYA anda bertanya kepada para sejarawan tersebut, darimana mereka bisa menyimpulkan seperti itu. Dan jika anda mempunyai data atau fakta bahwa penghuni nusantara pertama bukanlah penganut ajaran tersebut namun justru penganut ajaran lain, JANGAN RAGU-RAGU, SAMPAIKAN SAJA KEPADA PARA SEJARAWAN tersebut, agar mereka bisa merevisi penemuan dan kesimpulannya yang menyatakan bahwa itulah agama-agama pertama manusia Nusantara :)

      Tentang DARIMANA leluhur bisa memperoleh ritual dalam bersamadhi, itu saya tidak tahu, hanya saja, secara turun temurun leluhur mengajarkan begitulah caranya untuk sembahyang kepada Tuhan. Entah leluhur dapat ilham atau mimpi, sayapun kurang tahu. Namun yang pasti, dengan cara bersamadhi itu dalam keyakinan Kejawen, manusia bisa bertemu dengan Tuhan.
      Contoh-contoh yang mendukung hal tersebut adalah Prabu Jayabaya, berhasil menerawang kejadian yang belum terjadi selama kurang lebih ratusan tahun sebelumnya, Ranggawarsitapun juga demikian, dan penerawangan-penerawangan merekapun telah terbukti terjadi. Dan masih banyak lagi contoh2 pujangga Jawa yang mempunyai kemampuan tersebut. Mrk memiliki kemampuan tersebutpun karena seijin Tuhan dan mendapatkan penglihatan tersebut juga dari Tuhan, logikanya, mana mungkin mereka bisa mengetahui hal2 yang belum terjadi ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya tersebut dari kekuasaan di luar kekuasaan Tuhan, karena bukankah segala yang terjadi di jagat raya ini adalah karena seijinNya dan KehendakNya ? Apa yang akan terjadi di masa mendatang adalah rahasia Tuhan, tapi pujangga2 tsb di atas telah mampu mengungkapnya atas seijinNya. Dan yang perlu juga di catat, beliau2 dapat melakukan hal itupun juga setelah ber samadhi dan bertemu dengan Tuhan.

      Demikian sobat, semoga jawaban ini bisa memuaskan keingintahuan anda …
      Salam … :)

  5. iik
    19 Januari 2011 pukul 1:56 pm | #10

    trims mas
    saya jadi tau ternyata sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan siapa penghuni pertama nusantara & dia memeluk keyakinan apa?

    serta jelas ternyata ritual2 keyakinan nusantarapun tak jelas asalnya darimana.

    hhhmmm..masalah dengan semedi bisa mengetahui kejadian yang akan datang (bisa dibilang ramalan), saya tidak mau mengomentari banyak, namun dalam agama yang saya yakini, haram hukumnya mempercayai ramalan (karena sudah mendahului kehendak ALLAH, karena ALLAH lah yang tau segalanya)

    • 19 Januari 2011 pukul 4:46 pm | #11

      Hehehe … silahkan mas, tks byk sudah bersedia berkunjung. Saya menghormati keyakinan anda akan hal itu …
      Salam … :)

    • Arya Dipa
      15 Agustus 2011 pukul 12:04 pm | #12

      *

      Yth. Mas Aris
      Manusia pasti akan selalu di lingkupi oleh berbagai pertanyaan dalam benaknya, karena manusia diberi akal oleh kita sebut saja Sang pencipta.
      Pertanyaanpertanyaan mencakup pula dari mana dia berasal.

      Siapakah aku?
      dari manakah aku?
      untuk apa aku hidup di dunia ini?
      harus bagaimana aku hidup di dunia ini
      dan mau kemana aku setelah hidup di dunia ini?

      semua pertanyaan ini senantiasa melingkupi akal budi sejak manusia ada manusia

      Apalagi di tanah nusantara yang di anugrahi oleh tanah yang subur.
      kesempatan manusia untuk berpikir dan menemukan jati dirinya dan mencari tahu siapa penciptanya lebih banyak

      beda halnya dengan manusia yang tinggal di tinggal di padang pasir yang mereka pikirkan setiap harinya hanya perut dan perut saja bahkan terkadang untuk menyelesaikan masalah yang satu ini manusia bisa lupa akan kemanusiaanya. bahkan bisa lebih kejam dari binatang terbuas sekalipun.

      Dari situlah di tanah nusantara ini lahir berbagai kepercayaan tentang ketuhanan.

      Mohon maaf jawabannya baru sedikit nanti saya tambahkan di lain waktu

      1. Belum ada trackback.

      VIDEO SMACK DOWN JUPE VS DEPE ! ILMU KEBATINAN
      umpan RSS

      * Google
      * Youdao
      * Xian Guo
      * Zhua Xia
      * My Yahoo!
      * newsgator
      * Bloglines
      * iNezha

      Twitter
      Waktu saat ini

      [Click to see how many people are online] My Popularity (by popuri.us)
      Google Translate
      [English] [Chinese] [Korean] [Germany] [France] [Japanese] [Arabian]
      RSS DetikNews

      * Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

      Posting & Halaman Populer

      * CARA MEMPEROLEH KEMBALI PASSWORD FACEBOOK YANG KENA HACK
      * VIDEO SMACK DOWN JUPE VS DEPE !
      * RAMALAN MASA DEPAN INDONESIA DAN DUNIA DI TAHUN 2011
      * PUASA MENURUT AJARAN JAWA KEJAWEN
      * CARA AGAR DAPAT MELIHAT MAKHLUK HALUS MENURUT AJARAN JAWA KEJAWEN

      Kategori
      Arsip Blog

      * Februari 2011 (5)
      * Januari 2011 (48)
      * Desember 2010 (8)

      Daftar Isi

      * POTRET NEGERI YANG (KATANYA) BERADAB (TRAGEDI AHMADIYAH – CIKEUSIK)
      * 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Ke Dua ; Point 9-11)
      * Tat Tvam Asi : Itulah Kau !
      * 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 7-8)
      * 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 4-6)
      * 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Langkah Pertama ; Point 1-3)
      * 5 STEPS TO AWARENESS ; 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan (Pendahuluan)
      * SEKILAS TENTANG ANAND KRISHNA ; Guru Spiritual yang dituduh melakukan tindak pelecehan seksual
      * INDONESIAKU SAYANG, INDONESIAKU MALANG … NEGERI KAYA RAYA YANG SEMAKIN TERPURUK !
      * LAMBANG ‘UFO’ DI SLEMAN JUGA TERJADI DI BELAHAN BUMI LAIN SEJAK TAHUN 1647
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN VIII
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN VII
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN VI
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN V
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN IV
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN III
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN II
      * BELAJAR WEDHATAMA ( WEJANGAN SEORANG BAPAK KEPADA PUTRINYA ) BAGIAN I
      * RAHASIA OTAK MANUSIA JAWA
      * BOT “ALLAH” APA “GUSTI”
      * KANJENG RATU KIDUL ; BENARKAH HANYA SEBUAH MITOS ?
      * CARA AGAR DAPAT MELIHAT MAKHLUK HALUS MENURUT AJARAN JAWA KEJAWEN
      * GADIS TUDING DIN SYAMSUDIN PROVOKATOR BERKEDOK TOKOH AGAMA
      * CANDRASANGKALA ; ANGKA-ANGKA YANG DISANDIKAN DALAM UNTAIAN KATA-KATA
      * DITEMUKAN KUBURAN MASSAL JAMAN PRA SEJARAH
      * PUASA MENURUT AJARAN JAWA KEJAWEN
      * JANGAN MEMAKSAKU TUK MEMILIH …
      * MENJUAL GARUDA, MENJUAL ASET EKONOMI DAN SEJARAH BANGSA !
      * VIDEO SMACK DOWN JUPE VS DEPE !
      * AGAMA ASLI NUSANTARA
      * ILMU KEBATINAN
      * JAYABAYA ; Sekelumit Sejarah dan Cerita Rakyat
      * REFLEKSI TOLERANSI KEHIDUPAN BERAGAMA DI INDONESIA PADA TAHUN 2010
      * BLUEBERRY PERTAJAM DAYA INGAT
      * Inilah 9 Kebohongan Baru Pemerintah
      * SHOLAT ? PERCUMA, TIDAK PRODUKTIF !
      * DISKOTEK DENGAN DESAIN MIRIP MASJID
      * DESAIN RUMAH ZAMAN MAJAPAHIT DISIAPKAN
      * PRANATA MANGSA DAN CANDRA NYA BERDASARKAN PERHITUNGAN KALENDER JAWA KUNO
      * TANGGAL 1 SURA MENURUT KALENDER JAWA KUNO
      * JAWA ADALAH PUSAT KEBUDAYAAN DUNIA !
      * KEJAWEN, ISLAM DAN AGAMA
      * CATATAN AKHIR TAHUN 2010, INDONESIA MAKIN TERPURUK …
      * SBY DENGAN TKW NYA LOLOS SELEKSI TUJUH KEAJAIBAN DI DUNIA
      * CARA MEMPEROLEH KEMBALI PASSWORD FACEBOOK YANG KENA HACK
      * TIPS MENGHINDARI PENCURIAN FACEBOOK EMAIL DAN PASSWORD
      * HIDUP DI JALAN YANG BENAR (DALAM FALSAFAH HIDUP ORANG JAWA)
      * ADA ANJING BERANAK AYAM DI FLORES, NTT … !
      * “Membongkar Gurita Cikeas” (di balik skandal Bank Century)
      * SBY TERANCAM LENGSER
      * RAMALAN MASA DEPAN INDONESIA DAN DUNIA DI TAHUN 2011
      * PERMOHONAN MAAF KEPADA SELURUH TEMAN-TEMAN SAYA DI FACEBOOK
      * BENARKAH MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI HUKUMNYA HARAM ?
      * NGUDI KASAMPURNANING GESANG
      * SAKTI TANPA AJI-AJI
      * LABU KUNING DAN DELIMA, PENUMPAS KANKER PAYUDARA
      * TUNTUNAN SAMADHI 2
      * ADA FACEBOOK PALSU ! WASPADALAH, WASPADALAH !!!
      * TUNTUNAN SAMADHI 1
      * SALAM KENAL !
      * Hello world!

      Blog Budaya

      * Jawa-Suriname
      * Maulanusantara
      * Sabdalangit
      * Alang alang kumitir
      * Kariyan Santri Gundhul
      * Nurdayat Foundation
      * Padepokan Gantharwa
      * Anomancakti School
      * Islam Abangan
      * Kangtono
      * Ngurip urip Basa Jawa
      * Indonesia Terpopuler

      Blogroll

      * Terlantar Blog
      * Nuswantara kita
      * Diary Mas Elang Nusantara
      * Ketoprak Jawa
      * Puri Damar Shashangka
      * WordPress.com News
      * Betina Ganteng
      * Abinahasya’s Blog
      * Blog Sastra (31 Oktober)
      * Rahasia Otak

      Pengunjung Blog
      free counters
      Langganan Surel

      Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

      Komentar Terbaru
      Sang Lembayung on TUNTUNAN SAMADHI 1
      AAN on HIDUP DI JALAN YANG BENAR (DAL…
      Ahmad muhammad alawi on ILMU KEBATINAN
      wahyoe on PUASA MENURUT AJARAN JAWA…
      rikosaputra on CARA AGAR DAPAT MELIHAT MAKHLU…
      budi on ILMU KEBATINAN
      Galih on SEKILAS TENTANG ANAND KRISHNA …
      Spam Blocked
      43 spam comments blocked by
      Akismet
      Meta

      * Daftar
      * Masuk log
      * RSS Entri
      * RSS Komentar
      * WordPress.com

      Tukeran Link

      Puncak WordPress
      Copyrigh

    • Arya Dipa
      15 Agustus 2011 pukul 12:09 pm | #13

      *

      Yth. Mas Aris
      Manusia pasti akan selalu di lingkupi oleh berbagai pertanyaan dalam benaknya, karena manusia diberi akal oleh kita sebut saja Sang pencipta.
      Pertanyaanpertanyaan mencakup pula dari mana dia berasal.

      Siapakah aku?
      dari manakah aku?
      untuk apa aku hidup di dunia ini?
      harus bagaimana aku hidup di dunia ini
      dan mau kemana aku setelah hidup di dunia ini?

      semua pertanyaan ini senantiasa melingkupi akal budi manusia

      Apalagi di tanah nusantara yang di anugrahi oleh tanah yang subur.
      kesempatan manusia untuk berpikir dan menemukan jati dirinya lebih banyak

      beda halnya kalau kita tinggal di padang pasir yang kita pikirkan setiap harinya hanya perut dan perut saja bahkan terkadang untuk menyelesaikan masalah yang satu ini manusia bisa lupa akan kemanusiaanya. bahkan bisa lebih kejam dari binatang terbuas sekalipun.

      Dari situlah di tanah nusantara ini lahir berbagai kepercayaan tentang ketuhanan.

      Mohon maaf jawabannya baru sedikit nanti saya tambahkan di lain waktu

    • Jiwo
      26 November 2013 pukul 9:17 am | #14

      walahhhhhhh…. ternyata cuma mau bilang HARAM?????? hahahhaahahahhaha

  6. aris
    30 April 2011 pukul 4:06 pm | #15

    mas kalau aku boleh tanya,tolong dong aku dikasih tau apa saja sih adat istiadat asli jawa?karena saya cuma taunya sungkem tiap weton pada orang tua,mertua,dan saudara2 tua tok maz.dan ritual sungkem itu udah aku lakukan lebih dari 1 tahun disaat wetonku.aku ingin tau yang laine maz.karena aku ingin kearifan lokal jawa tetap exis

    • Arya Dipa
      14 Agustus 2011 pukul 2:03 pm | #16

      Yth. Mas Aris
      Manusia pasti akan selalu di lingkupi oleh berbagai pertanyaan dalam benaknya, karena manusia diberi akal oleh kita sebut saja Sang pencipta.
      Pertanyaanpertanyaan mencakup pula dari mana dia berasal.

      Siapakah aku?
      dari manakah aku?
      untuk apa aku hidup di dunia ini?
      harus bagaimana aku hidup di dunia ini
      dan mau kemana aku setelah hidup di dunia ini?

      semua pertanyaan ini senantiasa melingkupi akal budi manusia

      Apalagi di tanah nusantara yang di anugrahi oleh tanah yang subur.
      kesempatan manusia untuk berpikir dan menemukan jati dirinya lebih banyak

      beda halnya kalau kita tinggal di padang pasir yang kita pikirkan setiap harinya hanya perut dan perut saja bahkan terkadang untuk menyelesaikan masalah yang satu ini manusia bisa lupa akan kemanusiaanya. bahkan bisa lebih kejam dari binatang terbuas sekalipun.

      Dari situlah di tanah nusantara ini lahir berbagai kepercayaan tentang ketuhanan.

      Mohon maaf jawabannya baru sedikit nanti saya tambahkan di lain waktu

  7. 3 Agustus 2011 pukul 11:19 pm | #17

    Artikelnya bagus Mas,
    Saya percaya kepercayaan terhadap Tuhan YME, yang mengajarkan kebajikan dan tuntunan hidup memang berasal dari Tuhan, dengan kemasan dan tingkatan yang sesuai dengan nalar masyarakat pd masa itu.
    Di dalam agama yg saya anut (Islam) diyakini bahwa Allah telah memberikan ajarannya kepada setiap bangsa manusia melalui nabi dari bangsa itu sendiri (diyakini ada ~124.000 nabi)

  8. 14 Agustus 2011 pukul 7:21 am | #18

    Keren…. saya sekarang penganut salah satu agama Nusantara, dan saya tinggalin agama import dari dari timur tengah, saya pikir lebih cocok dengan saya dengan pemikiran sederhananya dan kearifan lokalnya. TOLONG JANGAN ada yang MENGGANGGU saya, dengan pilihan saya… teriam kasih.

    • nyoman sanjaya
      19 Oktober 2011 pukul 4:57 pm | #19

      Om suwastiastu, namo budhaya,semoga semua mahluk hidup berbahagia,saya orang bali asli.dan saya sangat setuju dengan pendpt tasya kania.saya penganut ciwa budha saat ini, krn di KTP hrs di cantumkan nama agama,sy isi hindu. Tp itu bukan masalah buat saya,mlh sy lbh setuju nama agama di KTP di hilangkan, krn ini udh mlanggar hak asasi atau terbawa politik.hindu bali ada bedanya dgn hindu di dunia,.krn kami lbh mengdepankan nilai luhur budaya bali.yaitu slslu bertrimakasi sama alam dan isi nya,sling jaga,menghormati dgn berbagai cara sesuai dgn daerah masing2.artinya tuhan satu,tp tidak bs di gambarkan, melestarikan ciptaanya dgn kenyataan, lebih berbudaya dr pada menggrmbor2kan namaNYA, tuhan mh tahu, adil, bijaksana, dn lainnya,melakukan ritual untuk ciptaanya lbh arif dr pada bnyk ceramahnya, jgn laut di garam mi, jgn bebek di ajari berenang,krn pikiran kita jauh dangkal dan picik.knp hindu atau budha kami ambil, krn hampir sesuai dgn ajarannya, yg ngk memaksa.NB apa membantu kehidupan anda, itulah tuhan mu, kenyataan. Ngk usah ngomongin negara jauh yg hancur2an, fakta mreka ngk menghormati alam dan isinya,OM shant3 OM

      • 20 Oktober 2011 pukul 7:47 pm | #20

        Om Swastiastu, Namo Buddhaya
        _/|\_

        Sepakat bli Nyoman Sanjaya,

        Om Shanti 3x Om,
        Saddhu 3x
        _/|\_

      • tu dika
        10 Juni 2012 pukul 2:25 pm | #21

        pedas manis bli.. salam sejahtra____ Svaha

  9. Kresna Ksuma Hamijaya
    7 September 2011 pukul 12:20 am | #22

    pendapat saya, kalau kita tinggal di tanah jawa ya “ojo ilang jawane”, dan dimanapun kita tinggal sebaiknya kita harus kuat dengan kearifan lokal. (saya setuju dengan sdr, Tasya Karnia). bahasa sederhananya ajaran /agama yang tepat untuk kita bukan agama impor. tapi ajaran /agama yang telah diturunkan oleh leluhur kita. karena merekalah yng lebih tau tentang kondisi alam, lingkungan, budaya dll yang ada disekitar kita. mohon maaf kalau pendapat saya salah, mohon dibenarkan, terima kasih

  10. Eric
    29 September 2011 pukul 8:47 am | #23

    ijin share link-nya di page FB

  11. Abed Saragih
    23 Oktober 2011 pukul 7:05 pm | #25

    kunjungan dan komentar balik ya gan

    salam perkenalan dari

    http://diketik.wordpress.com

    sekalian tukaran link ya…

    semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.

  12. Abed Saragih
    24 Oktober 2011 pukul 11:27 pm | #27

    Thks gan udah pasang link saya

    link agan udah sya pasang juga disidebar saya…

    komentar baliknya ditunggu gan…

  13. Anda
    8 November 2011 pukul 6:19 pm | #29

    Informatif mas, bisa tolong lebih banyak dishare keyakinan-keyakinan lokal/agama nusantara biar lebih terbuka… tks

  14. 11 November 2011 pukul 6:01 am | #31

    Selamat pagi Pak Lurah,

    Pak mohon bantuannya, apakah saya bisa mendapat informasi tentang 245 aliran kepercayaan yang terdaftar itu?

    Saya ini orang Indonesia asli yang ingin sekali mengenal leluhur kita di Nusantara ini.

    Selain itu apakah pak Lurah punya informasi tentang apa yang dimaksud dengan Mandala?

    Terimakasih.

  15. 12 Januari 2012 pukul 9:25 pm | #32

    inspiratif sekali GAN,,,,Mantaaap

  16. liban kicir
    23 Januari 2012 pukul 10:22 pm | #33

    Aliran Kepercayaan kalau ditelilti lebih jauh pasti akan ketemu sumbernya dari mana. ada akibat pasti ada sebabnya.
    Contoh : ajaran Kejawen tak lihat sepintas ya mirip dengan ajaran Hindu. Kayaknya itu bersumber daari Hindu. Karena Hindu sangat- sangat fleksibel sesuai dengan desa, kala, patra maka disesuaikan dengan kondisi “jawa”.. Semua ajaran kejawen ada pada ajaran Weda.

  17. abinahasya
    24 Januari 2012 pukul 6:38 pm | #34

    salam kenal mas, kalo ga salah ajaran wetu telu itu bukan ajaran lokal nusantara, tapi itu adalah ajaran Islam, tapi belum sempurna, sebab mereka hanya melakukan sholat 3 kali dalam sehari. Menurut penelitian sejarah yg pernah sy baca, kemungkinan itu adalah ketidaksempurnaan dalam penyebarannya, jd baru sebagian dalam penyampaiannya, itu seingat saya. terima kasih

  18. 21 Juni 2012 pukul 9:30 pm | #35

    stuju mas ….mantaf ulasan nya….Tuhan itu abadi, tidak dapat menggambarkan perwujudan-Nya, merupakan sebab yang pertama dan merupakan tujuan terakhir dari segala ciptaan yang ada .

  19. Yoga Duwarto
    26 November 2013 pukul 12:14 pm | #36

    Terimakasih sebelumnya atas artikel mengenai agama-2 asli Nusantara sebagai warisan budaya lokal dalam perjalanan manusia untuk menemukan jatidirinya sebagai mahluk penghuni jagad ini. Dimana sebenanya agama yang sebenarnya sebagai produk budaya manusia seharusnya berisikan ajaran-ajaran luhur, namun sekarang ini telah bergeser menjadi sekedar retorika dengan berbagai kepentingan politik praktis pribadi atau kelompok, yang tercermin sebagai contoh berbagai Parpol/Ormas dengan membawa nama simbol-2 agama.

    Maka sebenarnya maksud agama telah mengalami degradasi bahkan dikebiri oleh berbagai kepentingan, dan tidak lagi sebagai produk budaya manusia yang bertujuan kepada kebersamaan dalam berbagi hidup satu sama lain antar manusia.

    Agama lokal telah sangat terpinggirkan bahkan untuk mendampatkan pengakuan dalam kolom KTP saja memerlukan perjuangan panjang… Sungguh mengenaskan Indonesia menjadi bangsa yang tidak punya kepribadian, bahkan ROH Bangsa inipun secara tidak sadar telah digadaikan dengan suka rela atas nama Agama Import yang belum tentu lebih baik untuk bangsa Indonesia.

    Padahal mutu dari agama asli lokal tidak kalah dibandingkan dengan agama pendatang, bahkan perlu diketahui sebenarnya banyak hal mengenai kehidupan ini bisa diselesaikan dengan lebih baik melalui kearifan lokal. Dan perlu diketahui bahwa sebenarnya banyak orang luar yang secara diam-2 mempelajari agama lokal salah satunya di SUBUD turunan aliran kejawen yang sudah go international.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.